Javanusa.com—Sabah FK mencatat sejarah baru setelah memastikan langkah ke Liga Champions musim ini.
Klub Azerbaijan itu menyingkirkan Hapoel Be’er Sheva FC dengan kemenangan agregat 6-4 pada babak kualifikasi.
Keberhasilan tersebut menjadi penampilan pertama Sabah FK di panggung Liga Champions. Di balik pencapaian itu, ada kisah tak biasa dari sang pelatih, Valdas Dambrauskas.
Sabah FK tampil meyakinkan dalam duel kualifikasi melawan Hapoel Be’er Sheva FC. Hasil dua pertandingan membawa klub Azerbaijan tersebut unggul dengan agregat 6-4.
Pencapaian itu menjadi tonggak penting bagi Sabah. Klub yang berdiri pada 2017 tersebut kini untuk pertama kalinya tampil dalam persaingan Liga Champions.
Kesuksesan Sabah juga tidak lepas dari peran Valdas Dambrauskas. Pelatih asal Lithuania itu memiliki perjalanan karier yang cukup berbeda dibandingkan banyak pelatih profesional lainnya.
Valdas Dambrauskas Gagal Jadi Pemain Profesional
Sebelum menekuni dunia kepelatihan, Dambrauskas sempat mencoba berkarier sebagai pesepak bola. Namun, ia tidak pernah mencapai level profesional.
Kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan sepak bola. Dambrauskas justru memilih jalur kepelatihan dan mulai membangun karier dari bidang tersebut.
Menariknya, perjalanan itu mendapat dorongan dari sebuah acara kuis televisi. Dilansir Tribuna, Dambrauskas mengikuti kuis Who Wants to Be a Millionaire? pada 2002.
Saat itu, usianya baru 25 tahun. Ia berhasil membawa pulang hadiah 4.000 Lithuanian Litai, yang nilainya sekitar Rp23 juta.
Uang Kuis Dipakai untuk Belajar Melatih
Dambrauskas sebenarnya berpeluang mendapatkan hadiah lebih besar. Namun, langkahnya terhenti setelah gagal menjawab pertanyaan tentang negara yang menerbitkan surat kabar harian terbanyak.
Meski gagal meraih hadiah utama 1 juta Lithuanian Litai, uang tersebut menjadi modal penting. Dambrauskas menggunakannya untuk mengembangkan kemampuan di bidang olahraga dan kepelatihan.
Ia kemudian pindah ke Inggris untuk menempuh studi Ilmu Keolahragaan dan Kepelatihan di London Metropolitan University.
Setelah menyelesaikan studinya, Dambrauskas menimba pengalaman di sejumlah akademi klub Inggris. Ia pernah bekerja bersama akademi Fulham, Manchester United, dan Brentford.
Kariernya kemudian berlanjut ke level senior. Kingsbury London Tigers menjadi tim pertama yang memberinya kesempatan sebagai pelatih tim senior.
Karier Dambrauskas Terus Berkembang
Dambrauskas selanjutnya membangun rekam jejak kepelatihan di sejumlah negara Eropa. Ia pernah menangani klub-klub dari Lithuania, Bulgaria, dan Kroasia.
Pada 2025, ia melanjutkan karier ke Azerbaijan dengan menangani Sabah FK. Sejak itu, ia menjadi bagian penting dalam perjalanan klub tersebut.
Sepanjang kariernya, Dambrauskas telah mengoleksi total 12 titel. Kini, ia menghadapi tantangan baru bersama Sabah FK di Liga Champions.
Keberhasilan menyingkirkan Hapoel Be’er Sheva menjadi awal dari cerita tersebut. Menarik untuk melihat sejauh mana Dambrauskas mampu membawa Sabah FK melanjutkan kejutan mereka di kompetisi Eropa. (*)






