Sebuah Catatan dari Ujung Negeri Sumatera Barat: Derasnya Arus Sungai, Sederas Harapan Masyarakat di Patamuan

Penulis -

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy mengunjungi Jorong Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman. (Foto: FB Vasko Ruseimy)

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy mengunjungi Jorong Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman. (Foto: FB Vasko Ruseimy)

Catatan: Vasko Ruseimy (Wakil Gubernur Sumbar)

Iduladha tahun ini terasa berbeda. Bukan sekadar karena saya tidak merayakannya bersama keluarga, tetapi karena perjalanan yang saya pilih membawa saya pada sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah pertemuan dengan kenyataan hidup di ujung negeri.

Dengan penuh keikhlasan, anak dan istri melepas saya. Di hari yang biasanya penuh kehangatan keluarga, saya justru menempuh perjalanan menuju Sungai Lolo, Jorong Patamuan. Sebuah titik kecil di kaki Bukit Barisan, di perbatasan Pasaman, Limapuluh Kota, dan Riau.

Tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Jauh dari gemerlap pembangunan. Namun sangat dekat dengan keteguhan hidup. Perjalanan ke sana bukanlah perkara ringan.

Dari Padang, kami menempuh hampir sepuluh jam perjalanan darat. Jalan berliku, menembus bukit dan lembah, seolah menguji niat sejak awal. Tapi ternyata itu belum seberapa. Dari titik terakhir kendaraan berhenti, kami harus melanjutkan perjalanan menyusuri sungai dengan sampan kecil, tanpa pelampung, tanpa perlindungan, hanya mengandalkan keberanian, doa, dan kepercayaan pada sang pengemudi.

Arus sungai begitu deras. Batu-batu besar bersembunyi di bawah permukaan. Beberapa kali sampan kami dihantam arus, oleng, nyaris kehilangan keseimbangan. Perjalanan itu semakin sunyi ketika malam datang. Tak ada cahaya, selain remang bulan di atas kepala. Senter tak digunakan, kata sang nahkoda, cahaya lampu justru bisa mengganggu pandangan.

Di atas sampan itu, saya hanya bisa diam dan berdoa. Saya memperhatikan wajah sang nahkoda yang tetap tenang, seolah telah bersahabat lama dengan derasnya sungai. Ketika perahu hampir terseret ke batu besar, ia dengan sigap mengendalikan arah, membaca arus, dan membawa kami kembali ke jalur aman.

Di tengah gemuruh air itu, saya mulai berpikir. Bagi kami, sungai ini adalah ancaman. Namun bagi masyarakat di sana, inilah jalan kehidupan. Jalur warga membawa hasil kebun. Jalur menuju pengobatan.

Baca Juga :  Wako Padang Sampaikan Nota Keuangan dan Ranperda Perubahan APBD 2026, Pendapatan Daerah Naik Rp504,53 Miliar

Bahkan jalur untuk mengantar harapan. Dan di situlah saya tersadar, betapa jauhnya jarak antara kenyamanan yang kita miliki dengan realitas yang mereka jalani setiap hari.

Namun, semua rasa lelah itu terbayar saat kami tiba. Tak ada penyambutan mewah. Tak ada protokol berlebihan. Hanya anak-anak yang berlari di tepian sungai. Wajah-wajah tua dengan senyum tulus. Dan kehangatan yang tidak bisa dibuat-buat. Saat malam tiba, kami diajak duduk bersama di rumah warga.

Hidangan yang tersaji sangat sederhana. Namun justru di situlah saya merasakan kehangatan yang luar biasa. Ada satu lauk yang membuat saya terdiam cukup lama, ikan sungai yang mereka sebut sebagai ikan larangan.

Saya kemudian mengetahui, ikan itu bukan sembarang ikan. Dalam adat setempat, ikan tersebut tidak boleh diambil sesuka hati. Harus ada kesepakatan para ninik mamak, ada waktu yang ditentukan, ada aturan yang dijaga bersama.

Namun malam itu, ikan itu dihidangkan untuk kami. Para ninik mamak bersepakat membukanya, sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang dari jauh. Di hadapan hidangan itu, saya tidak hanya merasakan nikmatnya makanan. Saya merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah penghormatan yang tulus, yang lahir dari hati.

Dan jujur, itu membuat saya terdiam. Karena saya tahu, apa yang mereka berikan malam itu bukan sekadar makanan. Itu adalah bentuk keikhlasan. Bentuk penghargaan. Bahkan mungkin, sebuah pengorbanan dari adat yang mereka jaga selama ini.

Saat itu saya paham. Masyarakat sebenarnya tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin diperhatikan. Mereka hanya ingin diyakinkan bahwa mereka tidak dilupakan.

Di tengah keterbatasan, saya melihat sesuatu yang mungkin mulai hilang di banyak tempat, gotong royong yang hidup, surau yang tetap dijaga, adat yang masih dihormati, dan kebersamaan yang tidak tercemar kepentingan.

Baca Juga :  Hasil Euro 2024, Kroasia Sama Kuat dengan Albania

Iduladha di sana bukan sekadar tentang kurban. Ia adalah tentang ketulusan hidup. Kami menginap di rumah warga. Dari sana saya melihat langsung, masih banyak rumah yang tidak layak huni. Saat itu juga saya memutuskan, program bedah rumah harus hadir di tempat ini.

Listrik pun belum tersedia secara layak. Pembangkit yang dulu ada telah lama rusak. Saya meminta agar perbaikan segera dipercepat agar malam mereka tidak lagi gelap. Keesokan harinya, setelah salat Id, kami melaksanakan penyembelihan kurban.

Dan satu hal yang membuat hati saya tergetar, di sana, sebelumnya tidak ada hewan kurban sama sekali. Melihat kebahagiaan mereka saat sapi kurban disembelih itu bukan sekadar rasa syukur, itu adalah haru yang sulit dijelaskan.

Perjalanan ini mengajarkan saya satu hal penting. Menjadi pemimpin bukan hanya soal laporan di atas meja. Bukan hanya angka dan program.

Pemimpin harus hadir. Melihat langsung. Merasakan sendiri. Karena di balik jalan yang sulit, di balik sungai yang deras, ada suara-suara kecil yang sering tak terdengar,padahal justru itulah yang paling membutuhkan perhatian.

Derasnya arus sungai yang saya lalui hari itu, terasa seperti derasnya harapan masyarakat. Harapan untuk diperhatikan. Harapan agar pembangunan tidak berhenti di kota. Harapan agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik.

Dan saya pulang. bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa amanah. Bahwa sejauh apa pun sebuah tempat dari pusat kota, ia tidak boleh jauh dari perhatian kita. Jorong Patamuan Sungai Lolo mungkin berada di ujung negeri. Namun suara masyarakatnya harus selalu berada di pusat hati kita. (*)

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Patras Jalani Tur Jepang Perdana, Bawa Cha-Cha Boo! ke Empat Panggung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Tak Harus Menang untuk Bahagia, Lafa Pratomo dan Ari Lesmana Hadirkan Juara Dua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Sinopsis Film Uniform: Cinta di Balik Seragam, Kisah Perwira Muda Bongkar Kematian Kekasih

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:06 WIB

Kaisa dan Nada Swara Gembira Rilis Selamat Ulang Tahun, Lagu Ceria untuk Momen Spesial

Senin, 5 Oktober 2026 - 21:17 WIB

Lindee Cremona Raih Indomusik Awards 2026 lewat Lagu Kucing – di Tempat Biasa

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Float Rilis EP Constant Changes, Bawa Semangat Pulih lewat Yang Kembali Pulih

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:05 WIB

Film Laut Bercerita Tayang 29 Oktober 2026, Kisah Mahasiswa Hilang di Tengah Ketegangan Yogyakarta

Berita Terbaru

Ifan resmi mundur dari GOVINDA setelah 18 tahun bersama. (Foto: IG @ade_govinda)

Hiburan

Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA

Kamis, 8 Okt 2026 - 15:29 WIB