Padang, Javanusa—SMK Negeri 7 Padang tampil gemilang dalam ajang Karnaval Kota Tua 2025 yang digelar di kawasan Batang Arau, Kota Padang, Kamis (7/8/2025).
Dengan mengangkat tema malamang, sekolah kejuruan ini berhasil meraih gelar juara berkat konsep budaya yang unik, otentik, dan penuh makna.
Karnaval yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HJK Padang ke-356 itu diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah dan komunitas budaya.
Namun, penampilan tim SMK Negeri 7 Padang mencuri perhatian publik berkat pendekatan kreatif dalam memadukan unsur tradisi dan modernitas.
Konsep Budaya: Tradisi Lama dengan Sentuhan Modern
Penggagas konsep, Raja Gusminal, menjelaskan ide mengangkat tema malamang—tradisi memasak lamang dalam budaya Minangkabau—berangkat dari keinginan untuk menghidupkan nilai-nilai klasik dengan tampilan yang lebih segar dan relevan bagi generasi muda.
“Meskipun kesannya jadul, kami ambil sisi modernnya. Karena tidak semua yang jadul itu ketinggalan zaman. Justru bisa menjadi sesuatu yang cantik dan amazing,” ujar Raja.
Alih-alih menggunakan bahan sintetis atau replika, tim ini menggunakan material bambu asli untuk seluruh properti dan kostum.
Warna dan tekstur bambu dipertahankan secara alami, menciptakan kesan visual yang kuat sekaligus menyampaikan pesan budaya yang utuh.
“Tidak ada satu pun dari properti dan busana kami yang dibuat dari bahan sintetis. Semuanya langsung dari bambu. Bahkan warna kostum pun kami sesuaikan dengan warna bambu, lalu dipadukan dengan tarian yang dibawakan langsung oleh siswa,” tambahnya.
Eksplorasi Musik: Bebas dari Instrumen Konvensional
Keunikan lainnya terletak pada aspek musikalitas. Jika kebanyakan pertunjukan Minang mengandalkan alat musik seperti talempong, tim SMK Negeri 7 Padang justru menyuguhkan vokal tradisional ‘Hu-ha-hu-ha’ sebagai pengganti irama musik.
“Kami memang tidak memakai talempong. Tapi justru di situ letak kreativitasnya—bagaimana menyajikan sesuatu yang beda, tapi tetap bermakna,” jelas Raja.
Kolaborasi dan Semangat Pelestarian Budaya
Lebih dari sekadar kompetisi, kemenangan ini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara guru dan siswa dalam menghasilkan karya budaya yang inovatif.
“Kami sangat bangga. Ini adalah hasil kerja sama yang luar biasa. Anak-anak kami luar biasa—mereka yang membuat semuanya jadi hidup,” ujar Raja dengan penuh semangat.
Ia menekankan pentingnya terus mengenalkan tradisi lokal kepada generasi muda sebagai bentuk pelestarian identitas budaya.
“Kalau tidak dikenalkan terus-menerus, budaya seperti ini bisa hilang. Anak-anak harus paham tradisi dan etnis di sekitarnya,” pungkasnya. (*/red)






