Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pembangunan industri nasional yang kompetitif dan berkelanjutan.
Langkah itu sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat dekarbonisasi industri serta mendukung transisi energi menuju industri hijau di Indonesia.
Pertumbuhan kawasan industri yang semakin pesat turut meningkatkan kebutuhan pengelolaan air bersih dan air limbah.
Karena itu, pengembangan teknologi pengolahan air terpadu dan sirkular dinilai menjadi solusi strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan air industri sekaligus mendukung target net zero emission (NZE).
“Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, khususnya pengolahan air baku dan air limbah, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,” ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (12/5).
Penandatanganan Kerja Sama Pengolahan Air
Pada Senin (11/5), Kementerian Perindustrian bersama Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia menggelar penandatanganan nota kesepahaman proyek percontohan penggunaan teknologi pengolahan air baku dan air limbah di Jakarta.
Nota kesepahaman itu berfokus pada pengembangan proyek percontohan penggunaan teknologi pengolahan air baku dan pengolahan air limbah secara terpadu dan sirkular di kawasan industri.
Kerja sama tersebut diharapkan menjadi langkah awal menghadirkan solusi pengelolaan air bagi kawasan industri dan industri pengolahan yang lebih efisien, modern, serta ramah lingkungan di Indonesia.
Pertumbuhan Kawasan Industri Meningkat
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare.
Kawasan industri tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai realisasi investasi mencapai Rp6.744,58 triliun. Selain itu, sektor tersebut juga menyerap tenaga kerja hingga 2,35 juta orang.
Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan kawasan industri mencapai 49,15 persen. Kondisi itu turut meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pengelolaan air dan limbah yang andal serta berkelanjutan.
Teknologi DIAB Diklaim Lebih Efisien
Dalam kerja sama itu, Qiaoyin City Management Co., Ltd. memperkenalkan teknologi pengolahan air baku dan air limbah terbaru bernama Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB).
Teknologi tersebut dirancang untuk menghadirkan sistem pengolahan limbah industri yang lebih efisien dari sisi biaya maupun penggunaan lahan.
Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd., Wan Yiming mengatakan teknologi DIAB menghadirkan metode baru dalam pengolahan air limbah pabrik dengan biaya yang lebih hemat.
“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen dibandingkan metode konvensional,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan sistem prefabrikasi atau komponen siap pasang membuat fasilitas pengolahan dapat beroperasi empat kali lebih cepat. Teknologi itu dinilai menjadi solusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan bagi pengelola kawasan industri.
Lima Kawasan Industri Jadi Pilot Project
Ke depan, kerja sama tersebut akan diterapkan di lima kawasan industri dengan target implementasi awal selama enam bulan setelah penandatanganan kerja sama.
Program itu juga memiliki periode operasional hingga tiga tahun. Agus Gumiwang menegaskan proyek tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem industri hijau.
“Akan ada lima kawasan industri yang menjadi pilot project dalam kerja sama ini, namun kita tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang baik, tetapi juga mencari model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan,” katanya.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia Akhmad Ma’ruf Maulana menyambut positif kolaborasi tersebut.
Menurutnya, penerapan teknologi pengolahan air baku dan air limbah modern akan membantu kawasan industri meningkatkan daya saing sekaligus memenuhi tuntutan industri global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan lingkungan.
Ia berharap proyek percontohan itu dapat menjadi model yang direplikasi di berbagai kawasan industri lainnya di Indonesia.
Kemenperin Perluas Kerja Sama Internasional
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Tri Supondy menjelaskan Kementerian Perindustrian melalui Ditjen KPAII terus memperluas kerja sama internasional serta mendukung penerapan teknologi ramah lingkungan di kawasan industri Indonesia.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada tahap pilot project saja, tetapi juga mampu mendorong investasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional, serta pengembangan industri berbasis inovasi di Indonesia. Semoga kolaborasi ini menjadi fondasi kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat luas,” tutup Tri. (*/red)






