Tupai Janjang: Tradisi Rakyat Silungkang yang Nyaris Punah di Sumbar

Penulis -

Kamis, 5 Februari 2026 - 10:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tupai Janjang, pertunjukan Bakaba (bercerita) dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. (Foto: Ist)

Tupai Janjang, pertunjukan Bakaba (bercerita) dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. (Foto: Ist)

Agam, Javanusa—Minangkabau, Sumatera Barat, menyimpan beragam tradisi dan kesenian unik yang menjadi warisan bangsa. Keindahan dan kekayaan budaya ini berpotensi mendukung serta melengkapi kesenian lain di Indonesia.

Namun, perkembangan zaman membuat generasi muda mulai acuh terhadap kebudayaannya. Salah satu tradisi yang kini terancam adalah Tupai Janjang, pertunjukan Bakaba (bercerita) dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Tradisi ini memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan telah mendapat apresiasi hingga tingkat internasional.

Kisah di Balik Tupai Janjang

Amril Sutan Caniago, maestro Tupai Janjang asal Palembayan, menceritakan kisah legendaris Puti Silinduang Bulan dan Datuk Bandaro dari Kampung Pakudoran, yang dikutip Dinas Kebudayaan Sumbar.

Pasangan ini telah menikah selama 10 tahun namun belum dikaruniai anak. Suatu hari, mereka menempuh perjalanan menuju ladang kopi di Tabek Talao, melewati Lumbuak Batu, Kampung Pinang, Kampung Lansek, hingga Gunung Sago dan Kayu Ampek.

Di kebun kopi, Puti Silinduang Bulan melihat seekor tupai melompat di atas kayu. “Datuak, apa nama binatang itu?” tanyanya. Datuk Bandaro pun bertanya pada Bujang Salamaik, yang menjawab, “Itu tupai janjang, saya bermain setiap hari dan sangat menyenangkan.”

Puti Silinduang Bulan kemudian berujar, “Kalau kita mendapatkan anak seperti tupai janjang, betapa senangnya hati kita. “Datuk Bandaro menimpali, “Niat kita sama, marilah kita pulang dan menuju musala Inyiak,” begitu yang ditirukan Amril Sutan.

Perkembangan dan Ciri Khas Pertunjukan

Tupai Janjang awalnya berkembang dari kebiasaan mendongeng orang tua kepada anak sebagai media pendidikan moral. Menurut Gayatri (dalam Efendi, 2011:103), kesenian ini dulu menjadi bagian dari pertunjukan Randai saat waktu istirahat.

Kini, Tupai Janjang telah menjadi pertunjukan mandiri dengan ciri khas:

  • Penutur Tunggal
Baca Juga :  Perkuat Sinergi Daerah, Tanah Datar–Pekanbaru Matangkan Kerja Sama Strategis dan Tinjau Layanan AMAN 112

Pertunjukan dibawakan oleh satu orang yang memerankan seluruh tokoh.

  • Gerakan Silat

Setiap tokoh diperankan dengan gerakan menyerupai seni bela diri silat Minangkabau.

  • Dendang

Penutur menyanyikan nyanyian khas untuk mengiringi atau menggambarkan suasana.

  • Sastra Lisan

Cerita diwariskan dari mulut ke mulut tanpa naskah tertulis.

Upaya Pelestarian

Selain sebagai hiburan tradisional dalam acara adat, Tupai Janjang berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan media pewarisan budaya.

Seni ini menampilkan kekayaan sastra lisan Minangkabau dalam bentuk teater rakyat tutur.

Meski pertunjukan ini jarang ditemui saat ini, upaya pelestarian tetap penting agar generasi mendatang mengenal dan menghargai kekayaan budaya Minangkabau. (*/red)

Berita Terkait

Padang Mobile Masuk 5 Besar Padang Innovation Award 2026, Ini Keunggulannya
Pembangunan Drainase Padang Tembus 10 Km, Lampaui Target 4 Km
Muswil VII APTISI Sumbar Digelar 31 Oktober, Universitas Fort De Kock Jadi Tuan Rumah
Lantik 33 Pejabat Pemprov Sumbar, Arry Yuswandi Tekankan Kompetensi dan Etika Birokrasi
DPC GMNI Padang Gelar Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda: Soroti Skandal Ijazah Gibran
Atasi Kendala Peradilan, Fadly Amran Dorong PKS dengan Pengadilan Agama Padang
Fadly Amran Dorong Penguatan Pendidikan Diniyah Lewat Program Smart Surau
Mahyeldi Ajak Pemuda Sumbar Jaga Persatuan dan Waspadai Bahaya Narkoba

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Pembangunan Drainase Padang Tembus 10 Km, Lampaui Target 4 Km

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Muswil VII APTISI Sumbar Digelar 31 Oktober, Universitas Fort De Kock Jadi Tuan Rumah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Lantik 33 Pejabat Pemprov Sumbar, Arry Yuswandi Tekankan Kompetensi dan Etika Birokrasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:09 WIB

DPC GMNI Padang Gelar Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda: Soroti Skandal Ijazah Gibran

Kamis, 29 Oktober 2026 - 00:33 WIB

Atasi Kendala Peradilan, Fadly Amran Dorong PKS dengan Pengadilan Agama Padang

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:52 WIB

Fadly Amran Dorong Penguatan Pendidikan Diniyah Lewat Program Smart Surau

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Mahyeldi Ajak Pemuda Sumbar Jaga Persatuan dan Waspadai Bahaya Narkoba

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:12 WIB

Fadly Amran Tutup Diksarmil Menwa Pagaruyung Sumbar Angkatan ke-49, Tekankan Wawasan Kebangsaan dan Kesiapsiagaan Bencana

Berita Terbaru