WFP: 45 Juta Orang Terancam Kelaparan pada 2026, Indonesia Klaim Surplus Beras

Penulis -

Selasa, 24 Maret 2026 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

World Food Programme (WFP) memperkirakan hampir 45 juta orang tambahan berpotensi mengalami kelaparan akut pada 2026. (Foto: Kementan)

World Food Programme (WFP) memperkirakan hampir 45 juta orang tambahan berpotensi mengalami kelaparan akut pada 2026. (Foto: Kementan)

Jakarta, Javanusa—Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperkirakan hampir 45 juta orang tambahan berpotensi mengalami kelaparan akut pada 2026, seiring eskalasi konflik global dan tingginya harga energi.

Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian rantai pasok pangan dunia, terutama akibat konflik di Timur Tengah serta gangguan logistik internasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi global saat ini memperlihatkan tingginya risiko krisis pangan, sehingga setiap negara perlu memperkuat produksi dalam negeri.

“Setiap negara harus memperkuat ketahanan pangan dan tidak bergantung pada negara lain,” ujar Amran, Minggu (22/3/2026).

Menurut Kementerian Pertanian, kenaikan harga energi dan gangguan jalur pelayaran berpotensi meningkatkan biaya logistik dan memicu inflasi pangan, seperti yang terjadi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022.

Dampak konflik dinilai tidak terbatas pada wilayah terdampak langsung, tetapi meluas melalui rantai pasok global. Negara yang bergantung pada impor pangan disebut paling rentan terhadap lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.

Produksi Beras Nasional dan Cadangan Pangan

Di tengah tekanan global, pemerintah menyatakan produksi beras nasional berada dalam kondisi surplus. Produksi beras tercatat sekitar 34,7 juta ton, meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Cadangan beras pemerintah dilaporkan melebihi 4 juta ton. Pemerintah menilai kondisi ini menjadi indikator penguatan ketahanan pangan nasional.

Pemerintah menjalankan dua pendekatan utama untuk meningkatkan produksi pangan, yaitu:

    • Intensifikasi: peningkatan produktivitas melalui benih unggul, mekanisasi, pompanisasi, dan peningkatan indeks pertanaman.
    • Ekstensifikasi: perluasan lahan melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa.

Selain itu, pemerintah melakukan deregulasi di sektor pertanian dengan menerbitkan 13 Peraturan Presiden serta mencabut sekitar 500 regulasi internal untuk mempercepat distribusi sarana produksi dan menekan biaya.

Baca Juga :  KWT Solok Batuang Indah Kembangkan Bibit Tanaman
Reformasi Distribusi Pupuk dan Modernisasi

Perubahan juga dilakukan pada tata kelola pupuk. Distribusi yang sebelumnya melibatkan banyak tahapan kini disederhanakan menjadi jalur langsung dari Kementerian Pertanian ke produsen hingga petani.

Kementerian Pertanian melaporkan kebijakan ini menurunkan biaya pupuk hingga 20 persen dan meningkatkan volume distribusi sekitar 700 ribu ton.

Di sisi lain, modernisasi pertanian melalui mekanisasi disebut mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja, mempercepat masa tanam dan panen, serta menekan biaya produksi.

Nilai Tukar Petani (NTP) dilaporkan mencapai 125. Pemerintah juga menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan tersebut disebut berkontribusi pada perputaran ekonomi di tingkat petani hingga Rp132 triliun.

Untuk jangka panjang, pemerintah mengembangkan kawasan produksi baru melalui optimalisasi lahan rawa, terutama di Kalimantan. Program ini mencakup revitalisasi ratusan ribu hektare lahan dengan sistem irigasi modern.

Langkah tersebut ditujukan untuk menambah sumber produksi beras nasional di masa mendatang. (*/red)

Berita Terkait

Kaleb J Rilis Tanda Cinta, Lagu tentang Janji Setia hingga Seumur Hidup
Presiden Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel di IWIP Senilai Rp180 Triliun
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat di Pasaman Barat dan Pesisir Selatan Hari Ini
Kepala BGN Sudaryono: Insentif MBG Kini Lebih Adil, Proporsional dan Efisien
Uji Coba MBG Sistem Prasmanan, BGN Ingin Makanan Lebih Hangat dan Segar di Sekolah
MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres
Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi
Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 10:42 WIB

BMKG Minangkabau: Waspada Hujan Lebat di Pesisir Selatan dan Sejumlah Wilayah Sumbar Hari Ini

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:33 WIB

Prakiraan Cuaca Sumbar 7 Oktober: Hujan Lebat Berpotensi Meluas hingga Malam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Prakiraan Cuaca Sumbar 6 Oktober 2026: Pasaman Barat, Agam dan Pasaman Berpotensi Hujan Lebat

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Hujan Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar Hari Ini, Warga Diminta Waspada

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Prakiraan Cuaca Sumbar 4 Oktober 2026: Pesisir Selatan Waspada Hujan Sangat Lebat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Prakiraan Cuaca Sumbar 3 Oktober 2026, Agam Siaga Hujan Lebat

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:16 WIB

BMKG Maritim Teluk Bayur Peringatkan Gelombang hingga 2,5 Meter di Perairan Sumbar 3-6 Oktober 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:06 WIB

Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Sumbar Hari Ini

Berita Terbaru