Javanusa.com—Perebutan tempat ketiga di Piala Dunia FIFA sering dipandang sebagai pertandingan pelengkap setelah partai final ditetapkan.
Namun, sejumlah laga justru menciptakan momen ikonik, memecahkan rekor, dan menjadi penentu lahirnya peraih Sepatu Emas hingga pemain terbaik turnamen.
Meski tidak menentukan gelar juara, pertandingan perebutan tempat ketiga kerap menghadirkan tensi tinggi.
Setiap tim tetap berupaya menutup turnamen dengan kemenangan sekaligus membawa pulang medali perunggu.
Di sisi lain, laga ini juga menjadi kesempatan terakhir bagi pemain untuk memperbaiki statistik individu. Tidak sedikit penghargaan bergengsi, seperti Adidas Golden Boot, dipastikan melalui pertandingan tersebut.
Berikut empat laga perebutan tempat ketiga paling berkesan dalam sejarah Piala Dunia FIFA.
1. Kroasia 2-1 Belanda (Piala Dunia 1998)
Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi panggung bersejarah bagi Kroasia. Pada penampilan pertamanya di ajang tersebut, tim asuhan Miroslav Blažević berhasil mencapai semifinal sebelum menghadapi Belanda dalam perebutan tempat ketiga di Parc des Princes.
Robert Prosinečki membawa Kroasia unggul pada menit ke-14 setelah melewati Arthur Numan dan menaklukkan Edwin van der Sar. Belanda kemudian menyamakan kedudukan melalui tendangan jarak jauh Boudewijn Zenden.
Menjelang turun minum, Davor Šuker kembali membawa Kroasia memimpin lewat penyelesaian yang tenang. Skor 2-1 bertahan hingga akhir pertandingan dan memastikan Kroasia meraih medali perunggu pada debut Piala Dunia mereka.
Gol tersebut juga mengantar Šuker mengoleksi enam gol dan merebut penghargaan Adidas Golden Boot Piala Dunia 1998.
2. Italia 2-1 Inggris (Piala Dunia 1990)
Empat tahun sebelumnya, Italia menutup Piala Dunia 1990 dengan kemenangan 2-1 atas Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Pertandingan itu menjadi penegas penampilan impresif Salvatore Schillaci sepanjang turnamen.
Roberto Baggio membuka keunggulan Italia sebelum David Platt menyamakan skor menjadi 1-1. Memasuki menit-menit akhir, Paul Parker menjatuhkan Schillaci di dalam kotak penalti.
Penyerang yang dijuluki “Toto” itu sukses mengeksekusi penalti dan memastikan kemenangan Italia. Tambahan satu gol membuat Schillaci mengakhiri turnamen dengan enam gol, sekaligus meraih Adidas Golden Boot dan Golden Ball sebagai pemain terbaik Piala Dunia 1990.
3. Prancis 6-3 Jerman Barat (Piala Dunia 1958)
Perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958 antara Prancis dan Jerman Barat masih tercatat sebagai pertandingan dengan jumlah gol terbanyak dalam sejarah laga perebutan medali perunggu.
Prancis menang meyakinkan 6-3. Just Fontaine menjadi bintang utama setelah mencetak empat gol, masing-masing dua gol di babak pertama dan dua gol pada babak kedua.
Empat gol tersebut membuat Fontaine mengoleksi total 13 gol sepanjang turnamen. Hingga kini, catatan itu masih menjadi rekor jumlah gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia dan menempatkannya sebagai salah satu pencetak gol terbaik sepanjang sejarah kompetisi.
4. Uruguay 2-3 Jerman (Piala Dunia 2010)
Perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menghadirkan duel sengit antara Jerman dan Uruguay. Pertandingan berlangsung terbuka dengan saling balas gol hingga menit-menit akhir.
Thomas Müller membawa Jerman unggul lebih dulu dan menyamai koleksi gol David Villa serta Wesley Sneijder dalam persaingan Adidas Golden Boot.
Uruguay kemudian membalas melalui Edinson Cavani, sebelum Diego Forlán membalikkan keadaan lewat tendangan voli spektakuler.
Jerman akhirnya bangkit. Marcell Jansen menyamakan skor, lalu Sami Khedira mencetak gol penentu kemenangan 3-2.
Hasil itu tidak hanya memastikan Jerman meraih medali perunggu, tetapi juga menjadi fondasi bagi generasi pemain yang kemudian menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil.
Laga Perebutan Tempat Ketiga Selalu Melahirkan Cerita Besar
Sejarah menunjukkan bahwa perebutan tempat ketiga Piala Dunia FIFA jauh dari sekadar pertandingan penutup. Banyak momen bersejarah lahir dari laga ini, mulai dari rekor gol Just Fontaine, keberhasilan Davor Šuker dan Salvatore Schillaci meraih Adidas Golden Boot, hingga drama kebangkitan Jerman atas Uruguay.
Karena itu, meski bukan partai final, perebutan tempat ketiga tetap menjadi panggung penting yang kerap menghadirkan kisah berkesan dalam sejarah Piala Dunia. (*)






