Javanusa.com—Masih banyak orang meragukan kandungan gizi susu UHT karena proses pemanasan bersuhu sangat tinggi.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi Ultra High Temperature (UHT) justru mampu menjaga nilai gizi susu sekaligus meningkatkan keamanannya dari kontaminasi bakteri berbahaya.
Apa Itu Susu UHT dan Mengapa Bisa Tahan Lama?
Susu UHT merupakan susu yang diproses menggunakan teknologi Ultra High Temperature, yaitu dipanaskan pada suhu lebih dari 138 derajat Celsius selama 1–2 detik.
Setelah proses tersebut, susu langsung dikemas secara steril dalam wadah kedap udara sehingga tetap aman dikonsumsi dalam waktu lama.
Berkat proses tersebut, susu UHT dapat disimpan pada suhu sekitar 30–37 derajat Celsius selama 16–20 minggu. Jika disimpan pada suhu 4–20 derajat Celsius, masa simpannya bahkan mencapai 40–52 minggu, selama kemasan belum dibuka.
Meski demikian, setelah kemasan dibuka, susu UHT sebaiknya disimpan di dalam lemari pendingin dan dikonsumsi maksimal dalam tujuh hari.
Mitos 1: Susu UHT Tidak Efektif Mencegah Osteoporosis
Anggapan bahwa susu segar lebih baik dibandingkan susu UHT untuk menjaga kesehatan tulang masih sering ditemukan. Namun, hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan klaim tersebut.
Faktanya, proses pemanasan UHT tidak mengurangi kadar kalsium dalam susu. Satu sajian susu UHT bahkan mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan kalsium harian tubuh.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa pemanasan pada ASI tidak memengaruhi penyerapan asam amino, kalsium, fosfor, maupun natrium pada bayi prematur. Temuan tersebut memperkuat bahwa proses pemanasan tidak otomatis menurunkan kualitas mineral penting.
Mitos 2: Proses UHT Menghilangkan Kandungan Nutrisi
Suhu pemanasan yang sangat tinggi sering memunculkan anggapan bahwa vitamin dan zat gizi dalam susu UHT hilang selama proses produksi.
Faktanya, kandungan nutrisi susu UHT tetap terjaga. Selain mempertahankan nilai gizi, proses pemanasan tersebut juga membantu membunuh bakteri patogen penyebab infeksi sehingga risiko keracunan makanan menjadi lebih rendah.
Mitos 3: Lemak dan Protein Susu UHT Rusak
Sebagian orang percaya bahwa proses UHT merusak komposisi protein dan lemak susu sehingga manfaat gizinya berkurang.
Kenyataannya, pemanasan memang menyebabkan perubahan kecil pada struktur protein dan lemak. Namun, perubahan tersebut tidak signifikan terhadap nilai gizi maupun kemampuan tubuh menyerap nutrisi.
Bahkan, lemak pada susu yang telah dipanaskan cenderung lebih mudah dicerna. Lemak susu juga berperan sebagai sumber vitamin A, D, E, K, sekaligus membantu penyerapan kalsium.
Untuk mengetahui kandungan gizi secara lengkap, konsumen tetap disarankan membaca informasi nilai gizi yang tercantum pada kemasan produk.
Mitos 4: Susu Segar Lebih Sehat daripada Susu UHT
Banyak orang menganggap susu segar selalu lebih sehat dibandingkan susu UHT. Padahal, kandungan gizi keduanya relatif tidak jauh berbeda.
Keunggulan utama susu UHT terletak pada tingkat keamanannya. Proses sterilisasi mampu membunuh bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella, sehingga risiko infeksi akibat konsumsi susu menjadi lebih rendah.
Sebaliknya, susu mentah masih berpotensi mengandung berbagai mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit apabila tidak diproses dengan benar.
Mitos 5: Susu UHT Selalu Harus Disimpan di Kulkas
Masih banyak yang langsung menyimpan susu UHT di dalam lemari es setelah membelinya. Padahal, langkah tersebut tidak wajib dilakukan selama kemasan belum dibuka.
Karena telah melalui proses sterilisasi dan dikemas secara aseptik, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang hingga 3–9 bulan, atau mengikuti tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan.
Penyimpanan di lemari pendingin baru diperlukan setelah kemasan dibuka agar kualitas susu tetap terjaga.
Pilih Produk Susu yang Aman
Berbagai anggapan negatif mengenai susu UHT sebagian besar tidak didukung bukti ilmiah. Teknologi UHT mampu mempertahankan kandungan nutrisi sekaligus meningkatkan keamanan produk dari kontaminasi bakteri.
Hal yang perlu diperhatikan, pengolahan susu menjadi keju, yoghurt, maupun es krim tidak selalu menjamin seluruh bakteri telah mati apabila bahan bakunya berasal dari susu mentah. Karena itu, memilih produk berbahan dasar susu UHT atau susu pasteurisasi menjadi langkah yang lebih aman untuk mengurangi risiko infeksi.
Bagi orang yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menentukan alternatif yang sesuai agar kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi. (*/red)






