Antusiasme Pelajar Warnai Pembukaan Gebyar Ramadan 1446 H di Masjid Raya Ganting

Penulis -

Selasa, 18 Maret 2025 - 10:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pelajar antusias berfoto dengan Wali Kota Padang Fadly Amran. (Foto: Diskominfo Padang)

Para pelajar antusias berfoto dengan Wali Kota Padang Fadly Amran. (Foto: Diskominfo Padang)

Padang, Javanusa—Malam Ramadan di Kota Padang semakin semarak dengan dibukanya Gebyar Ramadan 1446 H di Masjid Raya Ganting, Senin (17/3/2025) malam.

Bukan hanya prosesi pembukaan yang menarik perhatian, melainkan juga antusiasme luar biasa dari pelajar yang hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan Islami tersebut.

Dari awal acara, mereka tampak penuh semangat, mengenakan busana muslim terbaik, duduk rapi di dalam masjid, menyimak dengan seksama setiap rangkaian acara.

Tak sedikit dari mereka yang saling berbincang, bertukar cerita tentang persiapan mereka mengikuti perlombaan yang akan digelar dalam beberapa hari ke depan.

Salah satu peserta yang tampak bersemangat adalah Nadira, santri dari MDTA Masjid Syukur, Kelurahan Rawang, Kecamatan Padang Selatan. Ia mengaku sudah lama menantikan kesempatan ini dan tak sabar untuk menunjukkan kemampuannya.

“Saya sangat senang bisa ikut Gebyar Ramadan. Ini bukan sekadar perlombaan, tapi juga kesempatan untuk menambah teman dan belajar lebih banyak tentang Islam. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya dengan mata berbinar.

Tak hanya Nadira, ratusan peserta lainnya juga tampak bersemangat. Beberapa di antaranya sibuk berbincang dengan teman-teman sebayanya, membahas strategi, atau sekadar berbagi kegembiraan.

Bagi mereka, Gebyar Ramadan bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada nilai-nilai keislaman dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Melihat kegembiraan dan antusiasme para peserta, Wali Kota Padang, Fadly Amran mengungkapkan rasa bangganya. Menurutnya, semangat generasi muda dalam mengikuti Gebyar Ramadan ini menjadi bukti bahwa syiar Islam di Kota Padang terus tumbuh dan berkembang.

“Luar biasa melihat antusiasme anak-anak kita. Mereka adalah harapan masa depan yang akan membawa Kota Padang semakin maju dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. Gebyar Ramadan ini bukan hanya tentang lomba, tapi tentang bagaimana kita menanamkan kecintaan mereka kepada Islam sejak dini,” ujar Fadly Amran.

Baca Juga :  Kapolda Sumbar Irjen Djati Wiyoto Dimutasi, Irjen Jawari Jadi Pengganti  

Ia juga menambahkan bahwa Pemerintah Kota Padang berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan keislaman yang melibatkan generasi muda, sejalan dengan program unggulan Smart Surau.

“Kami ingin memastikan masjid dan surau tetap menjadi tempat yang mereka rindukan, tempat mereka tumbuh dan berkembang. Ini bukan hanya program, tapi gerakan yang harus kita jaga bersama,” tambahnya.

Seusai acara pembukaan, momen yang paling menarik terjadi. Puluhan pelajar itu berbondong-bondong menghampiri Wali Kota Padang, Fadly Amran untuk bersalaman dan berfoto bersama.

Satu per satu menjabat tangan orang nomor satu di Kota Padang itu. Beberapa bahkan berani mengungkapkan harapan dan impian mereka di hadapan sang wali kota.

“Pak Wali, saya ingin jadi hafiz Al-Qur’an. Semoga saya bisa menang lomba nanti,” ujar seorang anak penuh percaya diri, yang langsung disambut dengan senyuman dan dukungan dari Fadly Amran.

“MasyaAllah, semangat seperti ini yang kita butuhkan. InsyaAllah, teruslah belajar, dan semoga bisa menjadi kebanggaan keluarga, agama, dan Kota Padang,” balasnya sambil mengusap kepala anak tersebut.

Momen hangat ini menjadi bukti bahwa Gebyar Ramadan bukan hanya tentang acara seremonial, tetapi juga tentang kedekatan pemimpin dengan warganya, terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.

Selain menyemarakkan bulan suci, Gebyar Ramadan juga menjadi bagian dari visi besar Pemko Padang dalam menjadikan kota ini sebagai pusat wisata religi dan wisata halal.

“Ke depan, kami akan menginisiasi Festival Surau, sebuah ajang yang melibatkan pengurus masjid, imam, dan tentunya anak-anak, agar kita bisa membawa syiar Islam lebih luas lagi. Bukan hanya di tingkat Kota Padang, tetapi juga ke tingkat Sumbar dan bahkan nasional,” jelas Fadly Amran.

Baca Juga :  5 Manfaat Butterfly Stretch untuk Paha dan Panggul, Simak Cara Melakukannya

Dengan semangat luar biasa dari peserta dan dukungan penuh dari berbagai pihak, Gebyar Ramadan 1446 H tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga wadah untuk membangun generasi Islami yang kuat, menciptakan kebersamaan, dan memperkuat syiar Islam di Kota Padang. (*/jn01)

Berita Terkait

Kaleb J Rilis Tanda Cinta, Lagu tentang Janji Setia hingga Seumur Hidup
Presiden Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel di IWIP Senilai Rp180 Triliun
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat di Pasaman Barat dan Pesisir Selatan Hari Ini
Kepala BGN Sudaryono: Insentif MBG Kini Lebih Adil, Proporsional dan Efisien
Uji Coba MBG Sistem Prasmanan, BGN Ingin Makanan Lebih Hangat dan Segar di Sekolah
MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres
Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi
Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru