Hardimen Siap Nahkodai Ketua PDPM Kabupaten Pesisir Selatan

Penulis -

Rabu, 6 Agustus 2025 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hardimen (kiri) saat bersama Ustad Syamsuddin Nur Makka (Ustad Syam) beberapa waktu lalu. (Fot: Dok Hardiman)

Hardimen (kiri) saat bersama Ustad Syamsuddin Nur Makka (Ustad Syam) beberapa waktu lalu. (Fot: Dok Hardiman)

Pessel, Javanusa—Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan aktivis organisasi, Hardimen SPd.I, MPd memantapkan langkah untuk maju sebagai kandidat Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pesisir Selatan.

Pria kelahiran Nagari Duku, 39 tahun silam itu mengaku terdorong oleh kuatnya dukungan masyarakat serta dorongan internal organisasi Muhammadiyah.

Dukungan tersebut dilatari atas keinginannya untuk menjadikan organisasi tersebut bisa menjadi motor penggerak ketahanan pangan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat di daerah sejuta pesona tersebut.

Sejak bergabung dengan organisasi Muhammadiyah tahun 2010, Hardimen juga telah menapaki berbagai jenjang organisasi di Pesisir Selatan dan Sumbar secara umumnya.

Mulai dari pengalaman sebagai anggota KNPI Kabupaten Pesisir Selatan hingga KNPI Sumbar hingga perannya kini sebagai Wakil Sekretaris MUI dan BKMT Kabupaten Pesisir Selatan.

Semua pengalaman itu ia yakini menjadi bekal memimpin PDPM Pesisir Selatan ke depan.

“Pemuda Muhammadiyah harus bisa menjadi garda terdepan dalam ketahanan pangan. Kami ingin membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera,” ujarnya dengan senyum.

Hal itu memang tidak berlebihan, sebab pendidikan formal yang ditempuh Hardimen juga mendukung visinya. Lulusan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam, ia lulus dengan gelar M Pd pada tahun 2021.

Pendidikan itu menurutnya memberi pemahaman yang kuat tentang kepemimpinan, manajemen, dan pendidikan pemuda.

Tak hanya di bidang organisasi, Hardimen juga menekuni dunia usaha. Ia memiliki penggilingan padi dengan produk unggulan “Beras Rajo Pasisia” serta bisnis alat kesehatan.

Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang rantai pasok pangan, kualitas produk, serta manajemen bisnis yang efektif.

“Pengalaman mengelola usaha memberi saya wawasan penting tentang bagaimana ketahanan pangan bisa dibangun dari hulu hingga hilir,” jelasnya.

Baca Juga :  Maigus Nasir Buka Turnamen Sepak Bola PDPM Cup Piala Wali Kota 2026, Wadah Pembinaan Karakter dan Sportivitas  

Prestasi Hardimen pun tak kalah mentereng. Ia pernah menjadi anggota Paskibra Kabupaten Pesisir Selatan pada 2005 dan dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor pada 2008.

Pada tahun 2010, ia dipercaya pula menjadi Pemangku Ketahanan Pangan Provinsi Sumbar, menegaskan komitmennya di bidang pangan sejak muda.

Motivasi Hardimen untuk memimpin PDPM sangat jelas, yakni mendukung program pemerintah, mengatasi masalah pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan membangun kemandirian bangsa.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga soal kualitas, distribusi, dan kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Dalam visi yang diusung, Hardimen ingin Muhammadiyah Pesisir Selatan menjadi penggerak utama inovasi dan kerja sama, khususnya di bidang pangan.

Misi yang ia bawa mencakup peningkatan kapasitas pemuda, pengembangan program pertanian berkelanjutan, hingga kolaborasi dengan pemerintah dan stakeholder terkait.

“Saya ingin Muhamadiyah tidak hanya aktif secara organisasi, tapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Hardimen menyadari tantangan yang ada. Indonesia masih menghadapi keterbatasan lahan pertanian, perubahan iklim, penurunan produktivitas, dan kurangnya regenerasi petani. Namun, ia yakin dengan program berbasis komunitas, semua itu bisa diatasi.

“Saya ingin menghadirkan program yang menarik bagi pemuda, sehingga mereka mau turun langsung ke lapangan dan ikut mengembangkan ketahanan pangan,” ujarnya.

Motto yang ia pegang adalah “Membangun Ketahanan Pangan, Membangun Masa Depan untuk Pangan Kuat, Pemuda Hebat”. Moto tersebut bukan sekadar kata-kata, tetapi landasan setiap rencana dan strategi yang ia susun.

Dalam kesehariannya, Hardimen tetap sederhana. Hobi dan makanan favoritnya mungkin tak banyak diketahui publik, tapi ia mengaku menikmati kopi setengah manis sebagai kesederhanaan yang menenangkan di tengah kesibukan.

Keluarga menjadi sumber semangatnya. Istri dan anaknya selalu menjadi pendukung utama setiap langkah yang ia ambil.

Baca Juga :  Buka PKKMB UBH, Fadly Amran Ajak Mahasiswa Jadi Generasi Kreatif dan Berjiwa Wirausaha

“Keluarga adalah motivasi terbesar saya,” ungkap ayah Hadil Zayan Al Bukhari ini lagi.

Pengalaman Hardimen menunjukkan bahwa integritas, dedikasi, dan manajemen yang baik adalah kunci keberhasilan organisasi. Ia ingin membawa Muhammadiyah Kabupaten Pesisir Selatan menjadi organisasi yang tidak hanya eksis, tapi juga memberi manfaat nyata.

Dengan pengalaman, visi, dan motivasi yang kuat, suami Widya Natalia, SPd, MPd T, ini siap membawa organisasi Muhammadiyah menjadi lebih inovatif, berdaya, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Organisasi Muhammadiyah harus menjadi contoh bagi semua. Secara bersama pula kita melalui organisasi ini bisa membangun ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan di daerah yang kita cintai ini,” tutupnya. (yoniks)

Berita Terkait

Mahyeldi Jajaki Kerja Sama Bank Tanah, Bukit Gombong Berpotensi untuk Reforma Agraria
Atasi Kemacetan Pengisian Solar di SPBU, Pemko Padang Terapkan Sistem Antrean Digital
Terkait Kisruh Gelar Datuak Rajo Bandaro, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mantan Wali Nagari Puluik Puluik Mencuat
Fadly Amran Minta OPD Padang Perkuat Inovasi Smart City di Enam Dimensi
Koto Tangah Siapkan 16 Venue MTQ ke-42 Padang, Ini Daftar Lokasinya
Koto Tangah Siapkan 65 Kafilah, Bidik Juara Umum MTQ ke-42 Kota Padang
Pemko Padang dan Pelindo Siapkan Penataan Muaro Padang Jadi Kawasan Wisata Maritim
Tutupi Trotoar dan Drainase, Satpol PP Padang Bongkar Lapak Pedagang di Jalan Sutan Syahrir

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:44 WIB

Evi Yandri Dorong Ninik Mamak dan Bundo Kanduang Perkuat Ketahanan Keluarga

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru