BPOM Ajak Masyarakat Padang Jadi AMR Warrior, Stop Antibiotik Tanpa Resep

Penulis -

Minggu, 8 Februari 2026 - 04:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar AMR Warrior Campaign di Hotel Rocky Padang, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Diskominfo Padang)

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar AMR Warrior Campaign di Hotel Rocky Padang, Sabtu (7/2/2026). (Foto: Diskominfo Padang)

Padang, Javanusa—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar AMR Warrior Campaign di Hotel Rocky Padang, Sabtu (7/2/2026).

Workshop bertajuk “Act Now, Protect Our Present, Secure Our Future” ini diikuti unsur pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan perwakilan masyarakat. Program tersebut menjadi bagian dari gerakan nasional pengendalian resistensi antimikroba.

Kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya resistensi antimikroba dan menekankan pentingnya penggunaan antibiotik secara rasional dan berbasis resep dokter.

Asisten II Setdako Padang, Didi Aryadi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif BPOM mengedukasi masyarakat secara langsung.

Ia menilai kampanye ini relevan dengan kebutuhan literasi kesehatan warga Kota Padang. Pesan utama kegiatan adalah penggunaan antibiotik harus tepat indikasi dan dosis.

“Ini sangat membantu masyarakat memahami kesehatan, khususnya terkait resistensi mikroba. Edukasi ini penting agar penggunaan antibiotik tidak sembarangan,” kata Didi mewakili Wali Kota Padang.

Menurut dia, kampanye kesehatan perlu dikemas kreatif agar mudah diterima publik. Karena itu, Pemko Padang mendukung kolaborasi lintas sektor dalam penguatan literasi kesehatan.

BPOM juga mengintegrasikan kampanye dengan kegiatan olahraga melalui agenda Fun Run yang digelar keesokan harinya. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjangkau generasi muda dan komunitas aktif. Selain edukatif, kampanye menjadi gerakan sosial berbasis partisipasi.

“Konsep bundling seperti ini sangat baik karena menggabungkan edukasi dan gaya hidup sehat. Masyarakat jadi lebih tertarik untuk terlibat,” ujar Didi.

Pemko Padang mendorong seluruh elemen masyarakat ikut berpartisipasi. Upaya pencegahan resistensi antimikroba dinilai perlu dukungan kolektif.

Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Picu Resistensi

Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, menegaskan penggunaan antimikroba tanpa resep dokter termasuk praktik tidak rasional. Kebiasaan itu mempercepat munculnya resistensi antimikroba. Dampaknya, obat tidak lagi efektif melawan infeksi.

Baca Juga :  Wako Fadly Amran: Tinggal di DAS Selalu Berisiko, Relokasi Jadi Solusi

“Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pasti berujung pada resistensi. Akibatnya, antimikroba tidak mampu lagi melawan penyakit,” kata Taruna dalam paparan kunci.

Ia meminta masyarakat tidak membeli antibiotik secara bebas tanpa pemeriksaan medis. Tenaga kesehatan juga diminta memperketat tata laksana pemberian obat.

Data WHO: Resistensi Antimikroba Jadi Ancaman Global

BPOM mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait dampak resistensi antimikroba. Pada tahun lalu, sekitar 4,6 juta kematian dikaitkan dengan kasus resistensi. Angka itu diproyeksikan bisa meningkat tajam jika tidak dikendalikan.

“Dalam 10 tahun ke depan, kematian akibat resistensi antimikroba bisa mencapai 10 juta orang per tahun. Ini ancaman nyata,” ujar Taruna.

Karena itu, ia menekankan pentingnya aksi nyata, bukan sekadar diskusi. Menurut dia, resistensi antimikroba berpotensi menjadi silent pandemic jika diabaikan.

Melalui workshop ini, BPOM mengajak peserta menjadi AMR Warrior atau pejuang melawan resistensi antimikroba. Langkah sederhana dimulai dari tidak mengonsumsi antibiotik tanpa resep. Edukasi keluarga juga menjadi kunci pencegahan.

“Mulai hari ini kita harus bertindak. Protect our present and secure our future,” kata Taruna.

Kampanye di Padang menjadi bagian dari penguatan jejaring daerah. BPOM menargetkan pesan pengendalian resistensi menjangkau komunitas hingga tingkat keluarga. (*/red)

Berita Terkait

Atasi Kemacetan Pengisian Solar di SPBU, Pemko Padang Terapkan Sistem Antrean Digital
Terkait Kisruh Gelar Datuak Rajo Bandaro, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mantan Wali Nagari Puluik Puluik Mencuat
Fadly Amran Minta OPD Padang Perkuat Inovasi Smart City di Enam Dimensi
Koto Tangah Siapkan 16 Venue MTQ ke-42 Padang, Ini Daftar Lokasinya
Koto Tangah Siapkan 65 Kafilah, Bidik Juara Umum MTQ ke-42 Kota Padang
Pemko Padang dan Pelindo Siapkan Penataan Muaro Padang Jadi Kawasan Wisata Maritim
Tutupi Trotoar dan Drainase, Satpol PP Padang Bongkar Lapak Pedagang di Jalan Sutan Syahrir
Gubernur Mahyeldi Dorong Tata Kelola Pemerintahan Sumbar Makin Kuat, Cegah Korupsi Sejak Awal

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru