Ekspor Kerajinan Tembus USD 305 Juta, IKM Binaan Kemenperin Panen Transaksi di Inacraft 2026

Penulis -

Senin, 16 Februari 2026 - 11:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Perindustrian memfasilitasi pelaku IKM binaan untuk mengikuti ajang Inacraft 2026. (Foto: Kemenperin)

Kementerian Perindustrian memfasilitasi pelaku IKM binaan untuk mengikuti ajang Inacraft 2026. (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian memfasilitasi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) binaan untuk mengikuti ajang Inacraft 2026.

Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara itu menjadi etalase produk kreatif berbasis budaya dan bahan lokal. Langkah ini sekaligus memperkuat penetrasi pasar domestik dan ekspor.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut pameran sebagai instrumen strategis memperluas jaringan bisnis. Pemerintah menilai promosi langsung masih efektif mendongkrak transaksi dan kemitraan. Karena itu, pembinaan dan fasilitasi terus diperluas.

“Inacraft menjadi ajang strategis bagi pelaku usaha kerajinan untuk memperluas pasar. Ini bentuk apresiasi terhadap produk dalam negeri,” ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta.

Inacraft 2026 dan Fasilitasi IKM Binaan

Pameran Inacraft 2026 digelar di Jakarta International Convention Center pada 4–8 Februari 2026. Melalui Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), pemerintah memfasilitasi delapan IKM binaan. Seluruh peserta ditempatkan dalam satu area booth terpadu.

Delapan IKM yang difasilitasi meliputi Karya Seni Tanduk, Lampung Ethnica, Manika Kaltim, Ragenda MOP Jewelry, Khyang Leather, Shamara, Kalaniwood, dan D’moroy.

Produk yang ditampilkan mencakup perhiasan, aksesoris, tas serat alam, kulit, tenun, hingga kerajinan limbah kayu. Variasi produk ini menunjukkan kekuatan material lokal dan inovasi desain.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, mengatakan kurasi peserta menitikberatkan kualitas dan kesiapan pasar. Menurut dia, desain dan fungsi produk sudah disesuaikan dengan tren konsumen. Pendekatan ini penting untuk meningkatkan peluang transaksi.

“Kami memfasilitasi booth dalam satu island agar daya tarik pengunjung lebih kuat dan potensi penjualan meningkat,” kata Reni.

Data Ekspor Kerajinan Tumbuh Signifikan

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kemenperin, ekspor kerajinan pada triwulan III 2025 mencapai USD 305,54 juta. Angka itu naik tajam dibanding triwulan sebelumnya sebesar USD 173,5 juta. Kenaikan ini menjadi indikator permintaan global terhadap produk kerajinan Indonesia.

Baca Juga :  Pelaku UMKM Jangan Mudah Tergiur Pinjaman Online Ilegal

Selain itu, delapan IKM binaan yang tampil di Inacraft 2026 mencatat total transaksi Rp 338,16 juta selama pameran. Nilai tersebut dihimpun dari penjualan langsung dan pesanan lanjutan. Data ini menunjukkan pameran masih efektif sebagai kanal uji pasar.

“Capaian ini menegaskan minat pasar tinggi dan eksposur produk meningkat lewat pameran,” ujar Reni.

Ditjen IKMA menilai kekuatan kerajinan Indonesia terletak pada bahan baku lokal dan sentuhan desain. Kombinasi keduanya menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Karena itu, pelaku IKM didorong terus berinovasi dan membangun karakter produk.

Program pembinaan juga mencakup diversifikasi produk dan standardisasi mutu. Pemerintah turut memberi pendampingan sertifikasi dan kesiapan ekspor. Skema ini disiapkan agar IKM bisa naik kelas dan masuk rantai pasok global.

Tema Womenpreneurs dan Penghargaan

Inacraft 2026 mengangkat tema pemberdayaan womenpreneurs dalam industri kreatif. Tema ini menyoroti kontribusi perempuan dalam inovasi dan pelestarian nilai budaya. Sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha perempuan.

Ajang ini juga menghadirkan sejumlah penghargaan, termasuk Inacraft Award dan Digital Excellence Award. Salah satu IKM binaan Ditjen IKMA meraih penghargaan kategori serat alam. Penghargaan tersebut memperkuat kredibilitas produk di mata pembeli dan mitra bisnis. (*/red)

Berita Terkait

Pulihkan Usaha Pembudidaya di Solok, Pemprov Sumbar Salurkan 52 Ribu Bibit Ikan
Mahyeldi Dorong 740 Ribu UMKM Sumbar Perkuat Legalitas, Sertifikasi Halal, dan Akses Modal
Padang Bidik UCCN 2027, Fadly Amran Ajak Pelaku Usaha Gastronomi Perkuat Kolaborasi
Kejuaraan Panahan Berkuda Porprov Sumbar Dongkrak Omzet Pedagang Pantai Pasir Jambak
Perpres Perlindungan Ojol Terbit, Atur Kemitraan hingga Biaya Platform 8 Persen
Satgas Payakumbuh Temukan Indikasi Pengisian BBM Berulang, SPBU Diminta Perketat Pengawasan
Empat Pasar di Pariaman Dapat Tambahan Anggaran Rehabilitasi Rp4,1 Miliar
Gebyar Pajak 2026, Mahyeldi Dorong Warga Sumbar Makin Taat Bayar Pajak

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru