Jakarta, Javanusa—Pemerintah terus mempercepat penguatan sumber daya manusia (SDM) industri untuk mendukung transformasi sektor manufaktur nasional yang semakin terdigitalisasi.
Langkah ini menjadi penting karena industri membutuhkan tenaga kerja yang menguasai teknologi dan mampu bersaing di pasar global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi industri tidak hanya bergantung pada modernisasi teknologi. Keberhasilan transformasi juga ditentukan oleh kesiapan tenaga kerja dalam beradaptasi terhadap perubahan.
Menurut Agus, sektor manufaktur masih menghadapi tantangan besar dalam penerapan teknologi digital. Tantangan tersebut mencakup kesiapan infrastruktur dan kualitas SDM yang mendukung proses transformasi industri.
Karena itu, Kementerian Perindustrian menjadikan pengembangan kompetensi tenaga kerja sebagai salah satu prioritas utama dalam agenda transformasi industri nasional.
“Penguatan SDM industri menjadi fondasi penting untuk memastikan transformasi manufaktur berjalan efektif dan berkelanjutan,” kata Agus.
Upaya tersebut sejalan dengan peta jalan Making Indonesia 4.0 dan visi Indonesia Emas 2045. Kedua agenda itu menempatkan sektor manufaktur sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebutuhan Industri Semakin Kompleks
Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Kementerian Perindustrian terus menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi bagi tenaga kerja industri dan peserta didik vokasi. Program tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan berbagai mitra di dalam maupun luar negeri.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan kebutuhan industri saat ini semakin kompleks. Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memahami teknologi digital dan berbagai aspek transformasi industri.
Menurutnya, kompetensi yang dibutuhkan mencakup otomatisasi, Internet of Things (IoT), pengelolaan data industri, efisiensi energi, hingga penerapan industri hijau.
Doddy menilai Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk usia produktif yang terus meningkat. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kompetensi agar sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
“Bonus demografi yang dimiliki Indonesia akan menjadi kekuatan besar apabila didukung SDM yang memiliki keterampilan relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri,” ujarnya.
Selain itu, Doddy menegaskan kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, lembaga pendidikan, dan mitra internasional menjadi kunci untuk menciptakan tenaga kerja yang inovatif dan berdaya saing global.
ASEAN-Japan Forum Perkuat Kolaborasi Pengembangan Talenta Industri
Komitmen pengembangan SDM industri juga tercermin melalui partisipasi BPSDMI dalam ASEAN-Japan Forum yang berlangsung di Jakarta pada 19 Mei 2026.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan organisasi internasional untuk membahas strategi pengembangan SDM industri di kawasan ASEAN.
Presiden Direktur JETRO Jakarta, Shinji Hirai, mengatakan industri saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Dunia kerja juga memerlukan talenta yang mampu berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Menurutnya, kebutuhan tersebut sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi kuat dan didukung jumlah angkatan kerja muda yang besar.
“Industri membutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang terampil dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI), Wulan Aprilianti Permatasari, menilai ASEAN-Japan Forum menjadi sarana penting untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus merumuskan langkah konkret dalam mencetak talenta industri yang kompetitif.
Wulan berharap dukungan dari ASEAN-METI Economic and Industrial Cooperation Committee dapat terus diperkuat guna mendorong transformasi digital dan meningkatkan daya saing SDM industri Indonesia.
Pelatihan Industri 4.0 Terus Diperluas
Selain memperluas kerja sama internasional, Kementerian Perindustrian terus menjalankan berbagai program pengembangan kapasitas SDM industri.
Sejak 2022, Kemenperin bersama Ministry of Economy, Trade and Industry dan The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships mengembangkan program peningkatan kompetensi tenaga pengajar di perguruan tinggi industri.
Program tersebut mencakup penerapan metode 5S dan Kaizen yang bertujuan meningkatkan produktivitas serta kualitas kerja. Memasuki 2025, cakupan program diperluas dengan fokus pada Green Transformation (GX) dan Digital Transformation (DX).
BPSDMI dan AOTS juga menggelar pelatihan LeMMI 4.0 di Politeknik STMI Jakarta sejak 2021. Hingga 2026, program tersebut telah diikuti 110 dosen dan mahasiswa.
Sementara itu, pelatihan serupa yang berlangsung di Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 telah menjangkau 258 praktisi industri.
Selain LeMMI 4.0, BPSDMI juga mengembangkan berbagai pelatihan yang berfokus pada penguasaan Big Data, Internet of Things, Cloud Computing, serta transformasi industri 4.0 untuk tingkat manajerial.
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berharap SDM industri digital Indonesia semakin siap menghadapi persaingan manufaktur global yang kian kompetitif. (*/red)






