Javanusa.com—Swedia memilih tidak larut dalam kekecewaan setelah kalah telak 1-5 dari Belanda pada laga kedua Grup F Piala Dunia FIFA 2026.
Meski hasil tersebut menjadi pukulan besar, kapten Victor Lindelof menegaskan timnya tetap optimistis karena peluang lolos ke babak berikutnya masih terbuka saat menghadapi Jepang pada laga terakhir grup.
Swedia Berusaha Bangkit Setelah Kekalahan Telak
Hasil kontras dialami Swedia dalam dua pertandingan awal Grup F. Setelah membuka turnamen dengan kemenangan meyakinkan 5-1 atas Tunisia, tim asuhan Graham Potter justru tumbang dengan skor identik saat menghadapi Belanda di Houston Stadium.
Kekalahan tersebut membuat Swedia harus bekerja keras pada pertandingan terakhir fase grup. Namun, suasana di ruang ganti tetap terkendali.
Victor Lindelof menilai perubahan drastis dalam sepak bola merupakan hal yang biasa terjadi. Karena itu, ia meminta rekan-rekannya segera mengalihkan fokus ke laga berikutnya.
“Begitulah sepak bola. Segalanya bisa berubah dengan sangat cepat. Suatu hari Anda berada di puncak, lalu di hari berikutnya berada di titik terendah. Itulah hidup, dan itulah sepak bola. Kami masih memiliki pertandingan baru pada Kamis, dan kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menciptakan suasana yang baik di dalam tim serta tampil sebaik mungkin,” kata Lindelof kepada FIFA.
Lindelof Soroti Kesalahan yang Berulang
Meski kalah empat gol, Lindelof merasa performa Swedia tidak sepenuhnya buruk. Setelah tertinggal dua gol lebih dulu, timnya sempat menunjukkan respons positif dan beberapa kali mengancam gawang Belanda.
Momentum itu sempat memberi harapan. Namun, Belanda kembali mengambil kendali pertandingan pada awal babak kedua dengan mencetak dua gol tambahan.
Menurut Lindelof, salah satu masalah terbesar timnya adalah kegagalan mengantisipasi pola serangan lawan yang berulang.
“Tentu saja hasilnya memang seperti itu, tetapi saya pikir kami melakukan beberapa hal baik hari ini yang bisa kami bawa ke pertandingan berikutnya. Dan tentu saja ada beberapa hal lain yang bisa kami pelajari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa gol tercipta dari situasi yang hampir sama.
“Ada hampir tiga gol yang identik yang kami kebobolan, ketika mereka memainkan umpan pendek di antara penjaga gawang dan garis pertahanan kami lalu berhasil mencetak gol. Itu sulit diterima, tetapi kami masih memiliki satu pertandingan lagi dan semuanya masih berada di tangan kami sendiri.”
Anthony Elanga Nilai Skor Tidak Mencerminkan Permainan
Pandangan serupa disampaikan penyerang Anthony Elanga. Pemain berusia 24 tahun itu menilai skor akhir tidak menggambarkan jalannya pertandingan secara keseluruhan.
Menurutnya, Swedia sebenarnya mampu memberikan perlawanan yang lebih baik dan memiliki peluang untuk menambah gol.
“Saya pikir skor tidak benar-benar mencerminkan jalannya pertandingan. Menurut saya ini bukan pertandingan yang layak berakhir 5-1,” kata Elanga.
Pemain yang masuk dari bangku cadangan itu menjadi pencetak satu-satunya gol Swedia setelah memanfaatkan umpan Alexander Isak. Selain gol tersebut, Elanga juga mencuri perhatian lewat aksi backheel yang melewati sela kaki pemain bertahan Belanda.
Meski kecewa dengan hasil akhir, Elanga tetap menikmati kesempatan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
“Saya pikir Piala Dunia adalah panggung terbesar di dunia, dan Anda benar-benar ingin menunjukkan kemampuan Anda. Tujuan saya hanyalah masuk ke lapangan dan membantu tim semaksimal mungkin. Saya mencetak gol, yang tentu menjadi bonus, tetapi saya benar-benar ingin memenangkan pertandingan ini,” ujarnya.
Fokus ke Laga Penentuan Melawan Jepang
Kini Swedia tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan tersebut. Pertandingan melawan Jepang akan menjadi penentu nasib mereka di Grup F Piala Dunia FIFA 2026.
Dengan peluang lolos yang masih terbuka, Lindelof dan rekan-rekannya bertekad memanfaatkan laga terakhir untuk mengamankan tiket ke fase berikutnya. (*/red)






