4 Warna yang Tidak Disukai Nyamuk, Bisa Bantu Kurangi Risiko Gigitan

Penulis -

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi seekor nyamuk sedang menggigit kulit manusia. (Foto: Pexels)

Ilustrasi seekor nyamuk sedang menggigit kulit manusia. (Foto: Pexels)

Javanusa.com—Nyamuk ternyata tidak hanya mengandalkan aroma tubuh dan karbon dioksida untuk menemukan manusia.

Warna di sekitar juga dapat memengaruhi respons visual serangga ini, terutama setelah mendeteksi CO₂ dari napas manusia.

Pilihan warna pakaian ternyata dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemungkinan nyamuk mendekat.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nyamuk memiliki respons berbeda terhadap panjang gelombang cahaya tertentu.

Nyamuk dapat mengenali warna kulit manusia sebagai bagian dari spektrum merah-oranye. Respons tersebut semakin terlihat setelah serangga mendeteksi karbon dioksida dari pernapasan manusia.

Sebaliknya, beberapa warna cenderung tidak memberikan daya tarik visual yang sama. Dikutip dari Hellosehat, berikut empat warna yang dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi ketertarikan nyamuk.

1. Biru

Biru termasuk warna yang relatif kurang menarik perhatian nyamuk. Warna ini juga cenderung memantulkan cahaya sehingga tidak membentuk siluet tubuh yang kuat.

Informasi dari Mosquito and Vector Control Association of California menyebutkan bahwa pemilihan warna pakaian dapat menjadi salah satu faktor dalam mengurangi ketertarikan nyamuk.

Namun, efek warna tidak berdiri sendiri. Nyamuk tetap dapat mendeteksi manusia melalui CO₂, panas tubuh, dan sinyal biologis lainnya.

2. Hijau

Hijau juga termasuk warna yang cenderung tidak memperkuat siluet manusia. Warna ini dapat menyatu dengan lingkungan alami seperti rumput dan pepohonan.

Kondisi tersebut membuat keberadaan seseorang tidak terlalu menonjol secara visual. Karena itu, pakaian berwarna hijau dapat menjadi alternatif ketika ingin mengurangi daya tarik visual terhadap nyamuk.

Meski demikian, warna pakaian bukan metode utama untuk mencegah gigitan nyamuk. Perlindungan tetap perlu dilakukan dengan langkah lain.

3. Ungu

Ungu termasuk warna yang relatif tidak menunjukkan daya tarik tinggi bagi nyamuk. Respons tersebut terutama berkaitan dengan kondisi ketika tidak terdapat sinyal CO₂ di sekitarnya.

Baca Juga :  Toyota Indonesia Ekspor 3 Juta Unit, Menperin: Bukti Ketangguhan Industri Manufaktur Nasional

Warna ungu juga tidak berada pada spektrum merah-oranye yang dapat menarik perhatian nyamuk setelah serangga mendeteksi karbon dioksida.

Dengan demikian, penggunaan pakaian berwarna ungu dapat menjadi pilihan tambahan. Namun, efeknya tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan sinyal biologis lain yang diterima nyamuk.

4. Putih

Putih menjadi salah satu pilihan warna pakaian yang dapat membantu mengurangi daya tarik visual bagi nyamuk. Warna ini memantulkan cahaya dan relatif sedikit menyerap panas.

Selain itu, pakaian putih cenderung tidak membentuk siluet gelap yang mudah terlihat. Faktor tersebut dapat mengurangi rangsangan visual yang digunakan nyamuk ketika mencari calon mangsa.

Meski begitu, mengenakan pakaian putih tidak berarti seseorang terbebas dari risiko gigitan. Nyamuk masih dapat menemukan manusia melalui berbagai sinyal lain.

Nyamuk Tidak Hanya Mengandalkan Warna

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa nyamuk, termasuk jenis penyebab demam kuning, memiliki respons terhadap warna tertentu.

Beberapa warna seperti merah, oranye, dan cyan dapat menarik perhatian nyamuk dalam kondisi tertentu. Namun, serangga ini tidak menggunakan penglihatan sebagai satu-satunya petunjuk untuk mencari manusia.

Karbon dioksida menjadi salah satu sinyal penting dalam proses tersebut. Manusia secara alami mengeluarkan CO₂ ketika bernapas sehingga nyamuk dapat menggunakannya untuk mendeteksi keberadaan calon mangsa.

Setelah mendeteksi CO₂, nyamuk kemudian merespons sinyal visual dan biologis lainnya. Suhu tubuh serta kelembapan dari keringat juga dapat membantu nyamuk menentukan lokasi manusia.

Karena itu, warna pakaian saja tidak cukup untuk mengusir nyamuk. Seseorang tetap berisiko digigit meskipun menggunakan warna yang kurang menarik bagi serangga tersebut.

Warna Gelap Cenderung Lebih Mudah Terlihat

Warna gelap seperti hitam, biru tua, dan merah dapat menciptakan kontras atau siluet yang lebih jelas. Kondisi tersebut membuat keberadaan manusia lebih mudah dikenali secara visual.

Baca Juga :  GAPEMBI Sumbar Dilantik, Wali Kota Padang Ajak Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Risiko juga dapat meningkat ketika seseorang berada di dekat orang lain yang mengenakan warna yang lebih menarik perhatian nyamuk. Artinya, lingkungan sekitar turut berperan dalam respons visual serangga.

Karena itu, strategi mengurangi paparan nyamuk sebaiknya tidak hanya berfokus pada warna pakaian. Penataan area rumah juga dapat menjadi bagian dari upaya tambahan.

Pilih Warna yang Lebih Terang di Rumah

Pemilihan warna terang seperti putih, biru, atau hijau muda dapat dipertimbangkan untuk pakaian maupun sejumlah elemen lingkungan. Cara ini dapat menjadi langkah tambahan untuk mengurangi rangsangan visual yang menarik nyamuk.

Sebaliknya, penggunaan warna merah, oranye, dan hitam di area yang sering digunakan untuk beraktivitas dapat dikurangi. Langkah tersebut terutama relevan pada teras, halaman, atau ruang luar yang menjadi tempat berkumpul.

Pemilihan warna tanaman dan bunga juga dapat diperhatikan. Jika memungkinkan, hindari menempatkan bunga berwarna merah atau oranye terlalu dekat dengan area yang sering digunakan untuk beraktivitas.

Selain pengaturan warna, penggunaan tanaman yang dikenal dapat membantu mengurangi keberadaan nyamuk juga dapat dipertimbangkan. Namun, strategi tersebut sebaiknya menjadi pelengkap, bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan nyamuk.

Pada akhirnya, warna dapat memengaruhi perilaku visual nyamuk, tetapi bukan berarti warna tertentu mampu mengusir nyamuk secara permanen. Pencegahan yang lebih efektif tetap membutuhkan kombinasi berbagai langkah untuk mengurangi kontak dengan nyamuk. (*)

Berita Terkait

Perkuat Pariwisata Kesehatan Sumbar, Fadly Amran Dorong Digitalisasi Herbal
Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman
Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:02 WIB

Alee Rilis Single Apa Kabarmu?, Angkat Rindu yang Kembali Setelah Perpisahan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:08 WIB

BLINGOUTKID Rilis Single Freak Like Me, Kisah Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:03 WIB

satchi! Rilis All the Almost, Lagu Indie-Folk tentang Cinta yang Tak Kunjung Terungkap

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Gavendri Rilis Album Kedua Sympathy/Empathy, Rekam Pergulatan Hidup sebagai Orang Dewasa

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Patras Jalani Tur Jepang Perdana, Bawa Cha-Cha Boo! ke Empat Panggung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Tak Harus Menang untuk Bahagia, Lafa Pratomo dan Ari Lesmana Hadirkan Juara Dua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Sinopsis Film Uniform: Cinta di Balik Seragam, Kisah Perwira Muda Bongkar Kematian Kekasih

Berita Terbaru