Javanusa.com—Pusar bau tidak selalu muncul karena tubuh kurang bersih. Penumpukan kotoran, infeksi jamur, infeksi setelah tindakan tertentu, hingga kista dapat memicu aroma tidak sedap dari area pusar.
Meski ukurannya kecil, pusar memiliki bentuk cekung yang membuat kotoran, keringat, minyak, dan sel kulit mati mudah tertahan. Kondisi tersebut dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri maupun jamur.
4 Penyebab Pusar Bau yang Perlu Diketahui
Pusar yang mengeluarkan bau menyengat perlu diperhatikan, terutama jika muncul bersama kemerahan, nyeri, gatal, bengkak, atau cairan. Dikutip dari Hellosehat, berikut sejumlah kondisi yang dapat menjadi penyebabnya.
1. Kebersihan pusar kurang terjaga
Bentuk pusar yang cekung membuat bagian ini mudah menyimpan kotoran. Semakin dalam cekungannya, semakin besar pula kemungkinan kotoran menumpuk.
Penelitian University of Pittsburgh Medical Center (UPMC) menyebut pusar dapat menjadi tempat hidup sekitar 67 jenis bakteri. Jamur dan mikroorganisme lain juga dapat berkembang di area yang lembap tersebut.
Keringat, minyak, sel kulit mati, dan kotoran dapat bercampur dengan mikroorganisme. Penumpukan ini kemudian dapat menimbulkan aroma tidak sedap.
Karena itu, membersihkan pusar secara rutin menjadi bagian penting dari menjaga kebersihan tubuh. Jangan menunggu sampai muncul bau untuk mulai memperhatikan area tersebut.
2. Infeksi jamur Candida
Lingkungan yang hangat, gelap, dan lembap membuat pusar menjadi salah satu area yang dapat mendukung pertumbuhan jamur Candida.
Pertumbuhan Candida yang berlebihan dapat menyebabkan infeksi pada lipatan kulit atau intertrigo kandidal. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan bau, tetapi juga dapat membuat kulit tampak merah dan bersisik.
Orang dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi tersebut. Gangguan sistem kekebalan tubuh dapat membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi jamur.
3. Infeksi setelah tindik atau operasi
Tindakan tertentu pada area pusar juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Salah satunya adalah tindik pusar yang membutuhkan perawatan tepat agar luka tidak terkontaminasi.
Infeksi biasanya menimbulkan gejala lain selain bau. Gejalanya dapat berupa nyeri, gatal, kemerahan, pembengkakan, serta keluarnya cairan putih atau hijau dan nanah.
Operasi hernia umbilikalis juga dapat meningkatkan risiko infeksi pada area pusar. Jika muncul tanda peradangan setelah tindakan, pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebabnya.
4. Kista di sekitar pusar
Kista juga dapat menjadi sumber bau tidak sedap dari pusar. Pada kondisi tertentu, kista tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya terlihat sebagai benjolan kecil.
Beberapa jenis kista yang dapat muncul antara lain kista epidermoid, kista pilar, dan kista sebasea. Kista epidermoid dan pilar dapat mengandung endapan protein keratin yang cukup tebal.
Ketika kista membesar lalu pecah, cairan kental berwarna kuning dapat keluar dan menimbulkan bau menyengat. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya infeksi.
Kista sebasea juga dapat mengalami masalah akibat penyumbatan kelenjar minyak. Saat infeksi berkembang, area tersebut dapat menjadi merah, gatal, nyeri, dan terasa perih ketika disentuh.
Peradangan pada kista juga dapat memicu pembentukan nanah. Cairan tersebut sering menimbulkan aroma yang lebih kuat.
Cara Mengatasi Pusar Bau
Penanganan pusar bau bergantung pada penyebabnya. Jika masalah muncul akibat kotoran yang menumpuk, perawatan kebersihan secara rutin biasanya menjadi langkah awal.
1. Bersihkan pusar saat mandi
Membersihkan pusar setiap hari dapat membantu mengurangi kotoran dan mikroorganisme yang menumpuk. Gunakan jari atau kain lembut untuk membersihkan bagian dalam pusar secara perlahan.
Hindari menggosok terlalu keras karena tindakan tersebut dapat menyebabkan iritasi. Setelah selesai, keringkan pusar dengan handuk atau tisu agar tidak meninggalkan kelembapan.
Area yang tetap lembap dapat mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur. Karena itu, pastikan bagian dalam pusar benar-benar kering setelah mandi.
2. Bersihkan dengan air hangat
Air hangat dapat digunakan untuk membantu membersihkan kotoran yang menempel di dalam pusar. Anda dapat menggunakan kain lembut atau ujung jari untuk membersihkan area tersebut secara perlahan.
Sebagian orang juga menggunakan campuran air hangat dan garam untuk membersihkan pusar. Namun, hindari penggunaan bahan atau produk yang dapat menyebabkan iritasi.
Penggunaan krim atau lotion secara berlebihan juga sebaiknya dihindari. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur.
3. Periksakan ke dokter jika muncul tanda infeksi
Pusar bau yang disertai nyeri, kemerahan, bengkak, gatal, atau keluarnya cairan perlu mendapat perhatian medis. Dokter dapat menentukan penyebab dan memberikan penanganan sesuai kondisi.
Jika terdapat kista, jangan mencoba memecahkan atau menusuknya menggunakan benda tajam. Tindakan tersebut dapat memperparah infeksi dan meningkatkan risiko komplikasi.
Dengan menjaga kebersihan pusar dan mengenali tanda infeksi sejak awal, masalah bau pada pusar dapat ditangani dengan lebih tepat. (*)






