Javanusa.com—Banyak orang menggunakan obat kumur hanya untuk menyegarkan napas. Padahal, cairan antiseptik ini juga membantu membersihkan area mulut yang sulit dijangkau sikat gigi, seperti sela-sela gigi, permukaan lidah, gusi, hingga bagian belakang rongga mulut.
Selain mengurangi bau mulut, beberapa jenis obat kumur berfungsi menjaga kelembapan rongga mulut dan membantu menetralkan kadar asam yang dapat memicu kerusakan gigi.
Di pasaran tersedia obat kumur yang dapat dibeli bebas maupun produk yang memerlukan resep dokter. Jenis resep biasanya digunakan untuk mengatasi kondisi kesehatan mulut tertentu sesuai diagnosis tenaga medis.
Kandungan Obat Kumur dan Fungsinya
Setiap produk obat kumur memiliki komposisi yang berbeda sehingga manfaatnya juga tidak sama. Beberapa bahan yang umum digunakan antara lain:
-
- Antimikroba untuk membantu mengurangi plak, gingivitis, peradangan gusi tahap awal, serta menekan bakteri penyebab bau mulut.
- Zat penetral bau yang bekerja menghilangkan senyawa penyebab halitosis.
- Astringent salt yang berfungsi menyamarkan bau mulut.
- Fluoride untuk membantu mencegah gigi berlubang sekaligus memperkuat lapisan gigi.
- Peroksida yang membantu mengurangi munculnya noda pada permukaan gigi.
- Antiseptik seperti chlorhexidine gluconate atau hexetidine.
- Bahan perisa, seperti sorbitol, sukralosa, dan sodium saccharin.
Sementara itu, obat kumur yang diresepkan dokter dapat mengandung antijamur, antibiotik, anestesi lokal, antihistamin, antasida, maupun kortikosteroid. Produk ini umumnya digunakan untuk membantu menangani infeksi, peradangan, atau keluhan tertentu, termasuk sebagai obat kumur saat sakit gigi.
Obat Kumur Efektif Membantu Mengatasi Bau Mulut
Halitosis atau bau mulut merupakan masalah yang sering dialami banyak orang. Kondisi ini dapat dipicu oleh pertumbuhan bakteri, sisa makanan yang menempel pada gigi dan lidah, hingga berpuasa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa obat kumur dapat membantu mengurangi bau mulut. Kandungan zinc dan chlorine dioxide diketahui mampu menetralkan senyawa penyebab bau, sedangkan chlorhexidine dan cetylpyridinium diperkirakan membantu menurunkan jumlah bakteri penyebab halitosis.
Namun, manfaat obat kumur tidak berhenti di situ. Produk ini juga dapat memberikan sejumlah keuntungan lain, seperti:
-
- Membantu mengurangi penumpukan plak.
- Menurunkan risiko gigi berlubang melalui kandungan fluoride.
- Mendukung perawatan setelah operasi mulut atau pencabutan gigi pada produk tertentu.
- Membantu menangani gangguan mulut akibat terapi radiasi maupun kemoterapi melalui obat kumur yang diresepkan dokter.
Meski demikian, obat kumur bukan pengganti menyikat gigi dan menggunakan pasta gigi. Keduanya tetap menjadi langkah utama untuk membersihkan sisa makanan dan bakteri penyebab gangguan kesehatan gigi.
Selain itu, jika mengalami masalah gigi atau gusi yang sudah berat, pemeriksaan ke dokter gigi tetap menjadi pilihan yang dianjurkan.
Cara Menggunakan Obat Kumur dengan Benar
Agar manfaat obat kumur lebih optimal, pengguna perlu memperhatikan aturan pemakaian.
Pertama, pastikan produk telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selanjutnya, gunakan sesuai petunjuk pada kemasan atau anjuran dokter.
Sebagian besar obat kumur digunakan satu kali sehari, umumnya sebelum tidur atau setelah menyikat gigi. Gunakan gelas takar yang tersedia, biasanya sekitar 10 ml atau setara dua sendok teh penuh, kecuali dokter menyarankan dosis berbeda.
Berkumurlah selama sekitar satu menit, lalu keluarkan cairannya. Hindari menelan obat kumur dan selalu dampingi anak saat menggunakannya.
Untuk hasil yang lebih baik, jangan makan, minum, atau berkumur menggunakan cairan lain selama sekitar 30 menit setelah pemakaian.
Jika menggunakan obat kumur yang mengandung chlorhexidine, sebaiknya berkumur setelah menyikat gigi dan sebelum memakai obat kumur tersebut karena beberapa kandungan pasta gigi dapat mengurangi efektivitas chlorhexidine.
Siapa yang Perlu Berhati-hati Menggunakan Obat Kumur?
Penggunaan obat kumur pada anak berusia di bawah enam tahun sebaiknya dihindari, terutama produk yang mengandung alkohol, kecuali atas anjuran dokter. Cairan tersebut berisiko tertelan dan dapat menyebabkan mulut menjadi lebih kering sehingga bau mulut justru bertambah.
Selain itu, penggunaan jangka panjang obat kumur beralkohol masih menjadi bahan perdebatan para ahli terkait kemungkinan kaitannya dengan perkembangan kanker mulut.
Sebagian besar pengguna tidak mengalami efek samping yang serius. Namun, beberapa orang dapat merasakan mulut kering atau perubahan sensasi rasa yang biasanya bersifat sementara.
Pada individu yang sensitif terhadap kandungan tertentu, obat kumur dapat memicu kemerahan, luka, atau nyeri pada rongga mulut. Keluhan tersebut dapat diatasi dengan mengencerkan obat kumur menggunakan air atau mengganti produk, misalnya dengan berkumur menggunakan air garam.
Segera konsultasikan ke dokter apabila muncul noda pada gigi atau lidah setelah menggunakan obat kumur. Ibu hamil dan menyusui juga dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menggunakan produk ini. (*)






