Jakarta, Javanusa—Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat lebih dari 5.000 warga mengungsi.
Hingga Minggu (16/8), penanganan darurat masih berlangsung setelah bencana menewaskan 47 orang dan merusak ratusan bangunan.
Berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, Kabupaten Sikka mencatat jumlah pengungsi terbesar. Sebanyak 3.356 jiwa kini berada di sejumlah lokasi pengungsian.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.356 warga menempati GOR Samador. Sementara itu, 2.000 warga lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.
Kabupaten Manggarai menyusul dengan 2.078 pengungsi. Warga terdampak juga masih bertahan di Kabupaten Nagekeo dengan jumlah sekitar 500 jiwa.
Selain wilayah di NTT, pengungsi juga tercatat di Bima dan Kepulauan Selayar.
Kebutuhan Pengungsi Mendesak
Kebutuhan dasar menjadi fokus utama dalam penanganan pascagempa NTT. Pemerintah dan tim penanganan bencana terus berupaya memenuhi kebutuhan para penyintas.
Di Kabupaten Manggarai, pengungsi membutuhkan puluhan tenda darurat untuk menunjang tempat tinggal sementara. Mereka juga memerlukan 30 ton beras, obat-obatan, serta perlengkapan tidur.
Bantuan yang dibutuhkan mencakup 1.000 selimut, 1.000 velbed, dan 1.000 lembar tikar. Pasokan air bersih melalui tandon serta genset juga menjadi kebutuhan mendesak.
Kondisi tersebut semakin berat karena gempa utama memicu ratusan kali guncangan susulan. Hingga pembaruan data terakhir, tercatat 341 aktivitas gempa susulan.
Gempa NTT Tewaskan 47 Orang
Dampak paling parah terlihat dari jumlah korban jiwa. Gempa tersebut telah menyebabkan 47 orang meninggal dunia di sejumlah wilayah NTT.
Kabupaten Manggarai mencatat korban meninggal terbanyak dengan 23 jiwa. Berikutnya, Manggarai Timur mencatat 17 korban meninggal.
Korban lainnya berasal dari Sikka sebanyak empat jiwa. Manggarai Barat, Ende, dan Nagekeo masing-masing mencatat satu korban meninggal.
Selain korban meninggal, sedikitnya 101 warga mengalami luka-luka. Tingkat keparahan luka para korban berbeda-beda.
Gempa yang berpusat di laut itu juga menimbulkan kerusakan besar pada rumah dan fasilitas publik. Data sementara menunjukkan ratusan bangunan mengalami kerusakan.
Di NTT, sebanyak 914 rumah mengalami rusak berat. Sebanyak 126 rumah rusak sedang dan 317 lainnya mengalami rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum. Tercatat 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah mengalami kerusakan.
Pemerintah Siapkan Status Tanggap Darurat
Pemerintah Provinsi NTT kini memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat. Status tersebut direncanakan berlaku selama 14 hari.
Sejumlah pemerintah kabupaten terdampak juga telah menetapkan status kedaruratan. Langkah itu disertai pembentukan pos komando untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Kabupaten Manggarai menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari. Masa berlaku berlangsung dari 15 Agustus hingga 13 November 2026.
Ketetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Nomor 319 Tahun 2026. Pemerintah daerah kemudian membentuk pos komando melalui Keputusan Bupati Nomor 320 Tahun 2026.
Sementara itu, Kabupaten Ngada menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana selama 30 hari. Periode tersebut berlangsung dari 15 Agustus hingga 15 September 2026.
Pemerintah Kabupaten Ngada juga membentuk Pos Komando melalui Keputusan Bupati Nomor 441 dan Nomor 442/KEP/HK/2026.
Kabupaten Manggarai Timur mengambil langkah berbeda. Pemerintah daerah menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026.
Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.
Tim Gabungan Sisir Wilayah Terdampak
Di lapangan, tim gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih melakukan penyisiran. Mereka mendata sekaligus memverifikasi dampak gempa di sejumlah lokasi.
Layanan kesehatan juga mendapat penguatan untuk menangani korban dan penyintas. Rumah Sakit Lapangan telah berdiri dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Sementara itu, akses transportasi untuk kebutuhan logistik dan evakuasi terus dipantau. Jalur lintas darat Larantuka-Maumere kini sudah kembali terhubung dan dapat dilalui.
Namun, akses jalan yang menghubungkan Ende dan Nagekeo masih terputus. Tim penanganan terus mencari jalur alternatif untuk menjaga distribusi bantuan dan mobilitas evakuasi. (*)






