Javanusa.com—Abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengganggu kenyamanan saat erupsi gunung api. Partikel halus yang mengandung mineral dan pecahan kaca vulkanik dapat mengiritasi hingga melukai permukaan kornea.
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah pertolongan yang tepat ketika mata terkena abu vulkanik. Kesalahan penanganan, terutama mengucek mata, justru dapat memperparah luka pada kornea.
Abu Vulkanik Berbeda dari Debu Biasa
Indonesia berada di kawasan Ring of Fire sehingga aktivitas gunung api menjadi salah satu ancaman bencana yang perlu diantisipasi. Ketika erupsi terjadi, abu dapat terbawa angin dan mencapai wilayah permukiman.
Secara ilmiah, abu vulkanik berasal dari fragmentasi magma dan batuan akibat tekanan gas yang tinggi saat erupsi eksplosif.
Material tersebut mengandung mineral, kristal, serta silikon dioksida atau silika. Pendinginan magma yang berlangsung cepat juga dapat membentuk pecahan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.
Bentuk partikelnya pun tidak beraturan. Sebagian memiliki permukaan kasar dan tepi tajam sehingga bersifat abrasif ketika bersentuhan dengan jaringan tubuh.
Selain itu, abu yang berada di atmosfer dapat berinteraksi dengan gas vulkanik, seperti sulfur dioksida dan asam klorida. Kondisi tersebut dapat meningkatkan iritasi pada jaringan mukosa.
Mengapa Abu Vulkanik Bisa Melukai Kornea?
Mata menjadi salah satu organ yang rentan terhadap paparan abu vulkanik. Kornea memiliki banyak ujung saraf sehingga gesekan kecil saja dapat menimbulkan rasa sakit.
Partikel tajam yang masuk ke balik kelopak mata dapat bergesekan dengan permukaan kornea ketika seseorang berkedip atau mengucek mata.
Gesekan tersebut berpotensi menyebabkan abrasi kornea. Luka pada permukaan kornea juga dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak mendapat penanganan yang tepat.
Dalam kondisi yang lebih berat, kerusakan kornea dapat berkembang menjadi ulkus kornea. Gangguan tersebut berisiko mengancam penglihatan dan membutuhkan pemeriksaan medis.
Kenali Gejala Mata Terpapar Abu Vulkanik
Keluhan biasanya muncul setelah mata terkena partikel abu. Dikutip dari Halodoc, beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
-
- Sensasi seperti ada pasir atau benda asing yang mengganjal di mata.
- Mata tampak merah dan terasa nyeri.
- Air mata keluar terus-menerus.
- Mata menjadi sensitif terhadap cahaya atau fotofobia.
- Muncul sekret atau kotoran mata yang lebih kental.
Rasa seperti terdapat serpihan di dalam mata perlu mendapat perhatian. Berkedip berulang kali atau mengucek mata dapat meningkatkan gesekan antara partikel dan kornea.
Jangan Kucek Mata, Segera Bilas
Langkah pertama ketika mata terkena abu vulkanik adalah menghindari mengucek mata. Tindakan tersebut dapat membuat partikel abrasif semakin menggores kornea.
Pemakai lensa kontak juga perlu segera melepasnya. Sebelum menyentuh mata, cuci tangan dengan bersih agar tidak menambah kontaminasi.
Selanjutnya, bilas mata menggunakan saline atau air bersih. Arahkan aliran cairan secara perlahan dari sisi dekat hidung menuju sisi luar mata.
Proses pembilasan bertujuan membantu mengeluarkan partikel tanpa menambah gesekan. Lakukan irigasi selama sekitar 15–20 menit.
Setelah pembilasan, air mata buatan tanpa pengawet dapat membantu menjaga kelembapan permukaan mata. Produk tersebut juga dapat memberikan rasa nyaman pada iritasi ringan.
Gunakan Goggles Saat Hujan Abu
Pencegahan tetap menjadi langkah penting ketika erupsi gunung api menghasilkan hujan abu. Gunakan kacamata pelindung tertutup atau goggles ketika harus berada di luar ruangan.
Kacamata minus maupun kacamata hitam biasa belum tentu mampu menutup celah masuknya partikel dari berbagai arah.
Perlindungan mata menjadi semakin penting ketika angin membawa abu dalam konsentrasi tinggi ke wilayah permukiman.
Kapan Harus ke Dokter Mata?
Tidak semua iritasi mata akibat abu vulkanik dapat ditangani sendiri. Pemeriksaan dokter mata diperlukan jika keluhan tetap muncul setelah proses pembilasan.
Nyeri tajam yang menetap dan penglihatan kabur menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian. Munculnya titik putih pada kornea juga memerlukan evaluasi medis segera.
Masyarakat sebaiknya tidak menggunakan obat tetes mata yang mengandung steroid atau antibiotik tanpa pemeriksaan dan indikasi dokter.
Penanganan yang tepat sejak awal dapat membantu mencegah komplikasi akibat cedera kornea. Jika keluhan berat muncul setelah paparan abu vulkanik, segera hubungi dokter spesialis mata. (*)






