Padang, Javanusa—Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar) Muhidi meminta wakil kepala sekolah memperkuat kepemimpinan, karakter, dan kemampuan adaptasi peserta didik di tengah perubahan teknologi dan budaya yang semakin cepat.
Menurut Muhidi, sekolah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Perubahan dunia kerja, kemajuan teknologi, serta arus budaya global menuntut sekolah menyiapkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Hal itu disampaikan Muhidi saat menghadiri Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Wakil Kepala SMA, SMK, dan SLB se-Sumbar, Rabu (9/9/2026).
Keteladanan Jadi Kunci Kepemimpinan Sekolah
Muhidi menilai kualitas sumber daya manusia berkaitan erat dengan kualitas kepemimpinan di satuan pendidikan. Dalam konteks tersebut, wakil kepala sekolah memiliki posisi strategis untuk membangun budaya sekolah yang sehat dan produktif.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan arahan atau kebijakan. Seorang pemimpin juga harus memperlihatkan sikap yang dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekolah.
“Dalam teori pendidikan, orang lebih mudah melihat kenyataan daripada sekadar mendengar perkataan. Karena itu, kepemimpinan harus menjadi contoh. Pemimpin harus lebih banyak berbuat daripada berkata,” ujar Muhidi.
Menurutnya, keteladanan dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana. Disiplin, ketepatan waktu, kebersihan, serta budaya kerja yang baik perlu menjadi bagian dari keseharian pemimpin sekolah.
Sekolah Perlu Target yang Terukur
Selain keteladanan, Muhidi meminta wakil kepala sekolah memiliki visi dan misi yang jelas. Sekolah juga perlu menetapkan target tahunan agar arah pengembangan pendidikan dapat diukur dan dievaluasi.
“Kalau kita ingin menjalankan kepemimpinan, kita harus memahami apa itu kepemimpinan. Sekolah harus punya visi dan misi, kemudian jelas setiap tahunnya apa target dan capaian yang ingin dicapai,” katanya.
Ia melihat dunia pendidikan kini bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik.
Peserta didik juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi agar mampu menghadapi perubahan lingkungan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas dan hebat, tetapi juga orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Sebagai pemimpin pendidikan, kita harus memahami perubahan itu dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapinya,” tuturnya.
Pendidikan Sumbar Tetap Berpijak pada Nilai Lokal
Muhidi juga menyoroti tantangan globalisasi terhadap generasi muda. Persaingan tenaga kerja semakin terbuka, sementara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus bergerak dengan cepat.
Di tengah perubahan tersebut, ia meminta sekolah di Sumatera Barat tetap menjaga nilai adat, agama, dan kebangsaan. Wawasan global tetap penting, tetapi tidak boleh menghilangkan identitas lokal.
“Adat kita adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Nilai-nilai ini jangan sampai kita tinggalkan. Kita ingin anak-anak kita cerdas, tetapi juga mampu memuliakan dan menghargai orang lain,” katanya.
Menurut Muhidi, Sumatera Barat memiliki banyak figur yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Ia menyebut Mohammad Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, serta sejumlah tokoh lainnya.
Tokoh-tokoh tersebut, kata dia, memiliki prinsip dan kontribusi besar bagi bangsa. Nilai keteladanan mereka perlu terus dikenalkan melalui pendidikan.
Perkuat Keterampilan dan Literasi Digital
Untuk menghadapi masa depan, Muhidi mendorong sekolah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Literasi digital serta penguasaan teknologi juga perlu mendapat perhatian.
Kebutuhan tersebut semakin penting bagi pendidikan vokasi. Muhidi menilai lulusan SMK harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Ia mengingatkan bahwa ijazah saja tidak cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Keterampilan dan sertifikasi juga menjadi modal penting bagi lulusan pendidikan vokasi.
“Tantangannya cukup besar. Dunia kerja ke depan tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga kompetensi yang dimiliki. Karena itu, kita harus memberikan kesadaran kepada peserta didik sejak dini mengenai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.
Wakil Kepala Sekolah Jadi Ujung Tombak
Sementara itu, Kabid PGTK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Monica M Nur mengatakan kegiatan tersebut merupakan angkatan kedua Bimtek bagi wakil kepala sekolah.
Monica menilai wakil kepala sekolah memegang peran penting dalam operasional dan kepemimpinan satuan pendidikan. Mereka berinteraksi langsung dengan peserta didik serta berbagai unsur dalam lingkungan sekolah.
“Banyak sekali persoalan sekolah yang harus dihadapi. Bapak dan ibu adalah bagian penting dari kepemimpinan di sekolah. Wakil kepala sekolah juga langsung terjun berinteraksi dengan murid dan masyarakat sekolah,” kata Monica.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana.
Menurut Monica, pembangunan manusia harus menjadi perhatian utama agar sekolah mampu menghasilkan generasi yang kompeten sekaligus memiliki karakter kuat.
“Kita harus fokus pada pembangunan manusia, bukan hanya pembangunan fisik,” ujarnya. (*)






