Pessel, Javanusa—Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pesisir Selatan, terus mendorong penguatan Program Unggulan (Progul) Nagari Mengaji yang digagas Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni bersama Wakil Bupati Risnaldi Ibrahim.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah mengusulkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Nagari Mengaji, sekaligus menyiapkan penguatan materi pendidikan keagamaan bagi anak-anak di tingkat nagari.
Kepala Kantor Kemenag Pesisir Selatan, Yufrizal, mengatakan draf Perbup Nagari Mengaji tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Selatan melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Hukum, Syahrizal Antoni.
Usulan tersebut diharapkan menjadi salah satu landasan dalam memperkuat pelaksanaan Nagari Mengaji sehingga program tidak hanya berjalan sebagai kegiatan mengaji, tetapi memiliki arah pembinaan keagamaan yang lebih terstruktur.
“Yang sudah kita lakukan sekarang adalah mengusulkan Perbup. Draf Perbup Nagari Mengaji sudah kita berikan kepada Bupati melalui Asisten I, Bapak Syahrizal Antoni,” kata Yufrizal saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua PWI Pesisir Selatan Robby Oktora Romanza didampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi Yoni Syafrizal dan sejumlah pengurus PWI lainnya, Senin (29/9), di ruang kerjanya.
Menurut Yufrizal, keberadaan regulasi tersebut penting untuk memberikan arah yang lebih jelas dalam pelaksanaan Program Nagari Mengaji.
Dengan adanya pedoman, pembinaan anak-anak di nagari dapat dilakukan secara lebih terarah, termasuk dalam aspek kemampuan membaca Al Qur’an, pemahaman dasar ajaran Islam, pembentukan akhlak, serta praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, penguatan program tersebut juga berkaitan dengan pendidikan keagamaan Islam yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.
Dalam nomenklatur Kementerian Agama, pendidikan Al Qur’an mencakup antara lain Taman Kanak-Kanak Al Qur’an (TKQ), Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) dan Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA).
Sementara itu, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) merupakan pendidikan keagamaan Islam non formal yang memberikan penguatan dan pendalaman pendidikan agama Islam bagi peserta didik.
Karena itu, Yufrizal menyebut materi yang akan dikembangkan dalam pelaksanaan Nagari Mengaji tidak semata-mata berorientasi pada kemampuan membaca Al Qur’an.
Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan beragama yang baik sehingga ilmu yang diperoleh anak dapat tercermin dalam sikap dan perilakunya.
“Jadi bukan hanya mengaji. Ada pembelajaran akhlak dan budi pekerti, kemudian praktik ibadah dan materi-materi keagamaan lainnya. Harapannya anak-anak kita tidak hanya bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dari Praktik Ibadah hingga Muhadarah
Yufrizal menambahkan, materi pembelajaran dapat dikembangkan sesuai dengan jenjang dan kebutuhan peserta didik. Di antaranya penguatan akhlak, tata cara shalat wajib dan berbagai shalat sunnah, shalat berjamaah, pengurusan jenazah, doa-doa harian, hafalan surat-surat pendek, serta kemampuan menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui kegiatan muhadarah atau latihan berpidato.
Materi tersebut, memiliki nilai penting dalam membentuk keberanian, kemandirian dan keterampilan sosial anak. Melalui muhadarah, misalnya, santri tidak hanya belajar berbicara di depan orang banyak, tetapi juga dilatih menyampaikan pesan yang bersumber dari nilai-nilai keislaman dengan bahasa yang baik dan santun.
“Anak-anak juga perlu dibekali dengan praktik. Bagaimana shalat, bagaimana shalat berjamaah, bagaimana shalat jenazah, kemudian belajar menyampaikan ceramah atau muhadarah. Itu semua bagian dari pembentukan keterampilan dan karakter,” katanya.
Mengacu pada Kurikulum MDT Kemenag
Penguatan tersebut sejalan dengan arah kurikulum MDT Kementerian Agama. Dalam Kepdirjen Pendidikan Islam Nomor 3811 Tahun 2025, Kemenag menetapkan kurikulum dan standar kompetensi lulusan MDT Ula, Wustha dan Ulya, termasuk standar isi, alur perkembangan pembelajaran dan capaian pembelajaran.
Pada jenjang MDT Ula, misalnya, pembelajaran diarahkan untuk memperkuat pemahaman dasar agama Islam, membentuk karakter muslim yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, serta mengembangkan pengalaman dan keterampilan beribadah.
Secara umum, struktur kurikulum MDT juga memuat mata pelajaran keagamaan seperti Al Qur’an, Hadis, Akidah, Akhlak, Fikih, Tarikh Islam dan Bahasa Arab. Hal tersebut menjadi rujukan penting agar pendidikan keagamaan tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi berkembang menjadi pemahaman, pengamalan dan pembentukan karakter.
Buku Pedoman Nagari Mengaji Disiapkan
Yufrizal mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan buku pedoman yang disebutnya telah memasuki edisi atau tahap ketiga dan selanjutnya akan dibagikan ke seluruh kecamatan.
Kehadiran buku tersebut diharapkan dapat membantu penyelenggara kegiatan di tingkat nagari dalam memahami materi dan arah pembelajaran Nagari Mengaji.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi bagian penting dari ikhtiar bersama pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun sumber daya manusia Pesisir Selatan.
Pendidikan agama, katanya, tidak hanya bertujuan mencetak anak-anak yang memahami ilmu keislaman, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki akhlak, kedisiplinan, kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari pembangunan infrastruktur. Pembangunan manusia melalui pendidikan dan pembinaan karakter juga menjadi bagian penting untuk menyiapkan generasi Pesisir Selatan yang mampu menghadapi perkembangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai agama.
“Kalau anak-anak kita sejak dini sudah dibekali ilmu agama, akhlak dan keterampilan ibadah, insyaallah itu akan menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Inilah yang perlu kita kuatkan bersama,” ujarnya.
PWI Pessel Dukung Penguatan Pendidikan Keagamaan
Sementara itu, Ketua PWI Pesisir Selatan Robby Oktora Romanza menyampaikan apresiasi atas dukungan dan langkah Kemenag Pesisir Selatan dalam memperkuat Program Nagari Mengaji.
Menurut Robby, pers memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang informatif, edukatif dan berimbang.
Dukungan tersebut tidak hanya diberikan terhadap pembangunan fisik, tetapi juga terhadap pembangunan sumber daya manusia, termasuk pendidikan, keagamaan, kesehatan, sosial dan berbagai program pemerintah yang menyentuh kepentingan masyarakat.
“Kami dari PWI Pesisir Selatan tentu mendukung program-program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah, baik pembangunan fisik maupun pembangunan sumber daya manusia. Sebab pembangunan manusia ini sangat penting untuk membentuk mental dan karakter masyarakat,” kata Robby.
Ia menilai Program Nagari Mengaji memiliki ruang yang luas untuk memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter generasi muda. Pendidikan agama yang diberikan secara terarah sejak usia dini dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, Kemenag, pemerintah nagari, tokoh agama, guru mengaji, masyarakat dan insan pers perlu terus diperkuat.
Masing-masing pihak memiliki peran berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“PWI akan terus berupaya mengambil bagian dalam mendukung pembangunan daerah melalui fungsi pers. Program yang baik perlu diketahui masyarakat, tetapi pemberitaannya juga harus tetap mengedepankan informasi yang benar, berimbang dan mencerdaskan,” ujarnya.
Robby juga menyampaikan terima kasih kepada Kakan Kemenag Pesisir Selatan Yufrizal beserta jajaran yang telah menerima kunjungan PWI dengan suasana yang baik dan penuh keakraban.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pak Kakan Kemenag beserta jajaran yang telah meluangkan waktu menerima kami. Pelayanan dan sambutan yang diberikan sangat baik. Silaturahmi seperti ini tentu penting untuk membangun komunikasi dan sinergi antara Kemenag dengan insan pers,” katanya.
Ia berharap komunikasi dan kerja sama tersebut dapat terus terjalin dalam rangka memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Pesisir Selatan.
Menurutnya, pers bukan hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong lahirnya masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesadaran dan kepedulian terhadap pembangunan.
Pertemuan tersebut pun menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi sekaligus membangun sinergi antara Kemenag dan PWI Pesisir Selatan. Dengan kolaborasi yang baik, program pembangunan, termasuk penguatan pendidikan keagamaan melalui Nagari Mengaji, diharapkan dapat semakin dikenal, dipahami dan mendapat dukungan masyarakat.
Sebab, membangun Pesisir Selatan bukan hanya tentang menghadirkan jalan, jembatan dan berbagai fasilitas fisik lainnya, tetapi juga tentang menyiapkan manusia yang memiliki ilmu, iman, akhlak dan kepedulian.
Dari nagari, pendidikan karakter itu diharapkan tumbuh dan menjadi bekal bagi generasi untuk melanjutkan pembangunan daerah di masa mendatang. (yoniks)






