Javanusa.com—ASI perah tidak bisa disimpan sembarangan, terutama ketika ibu berada di luar rumah atau kembali bekerja. Suhu ruangan menjadi faktor penting yang menentukan berapa lama ASI dalam dot tetap aman untuk bayi.
Menurut panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), daya tahan ASI perah berbeda berdasarkan kondisi penyimpanannya. ASI yang belum diminum bayi memiliki batas penyimpanan berbeda dengan ASI yang sudah masuk ke mulut bayi.
Pertanyaan tentang ASI dalam dot berapa lama bertahan tanpa kulkas kerap muncul saat ibu bepergian. IDAI memberikan batas waktu berdasarkan suhu lingkungan.
Pada suhu sekitar 25 derajat Celsius atau lebih rendah, ASI perah dapat bertahan sekitar 6–8 jam. Namun, ketika suhu ruangan melebihi 25 derajat Celsius, ASI sebaiknya digunakan dalam waktu 2–4 jam.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama di wilayah dengan suhu udara relatif tinggi. Ibu sebaiknya tidak mengandalkan batas waktu penyimpanan pada suhu ruangan jika lingkungan terasa panas.
Membawa ASI Perah Saat Bepergian
Ibu tetap dapat membawa ASI perah selama perjalanan dengan menggunakan cooler bag. Pastikan tas pendingin tersebut dilengkapi kantong es agar suhu ASI tetap rendah.
Dengan penyimpanan menggunakan cooler bag dan kantong es, ASI perah dapat bertahan hingga 24 jam. Setelah tiba di tempat tujuan, segera pindahkan ASI ke lemari pendingin.
Berapa Lama ASI Bertahan di Kulkas dan Freezer?
Selain suhu ruang, IDAI juga memberikan panduan mengenai lama penyimpanan ASI perah dalam berbagai jenis tempat penyimpanan.
Berikut batas penyimpanan berdasarkan suhu:
-
- Lemari es dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius: hingga 5 hari.
- Freezer yang berada di dalam lemari es dengan suhu sekitar -15 derajat Celsius: hingga 2 minggu.
- Freezer dengan pintu terpisah dan suhu sekitar -18 derajat Celsius: 3–6 bulan.
- Deep freezer dengan suhu sekitar -20 derajat Celsius: 6–12 bulan.
Ibu sebaiknya menyesuaikan metode penyimpanan dengan kebutuhan. ASI yang akan segera diberikan dapat disimpan di lemari pendingin, sedangkan stok jangka panjang dapat ditempatkan di freezer.
Sisa ASI di Dot Tidak Boleh Disimpan untuk Pemberian Berikutnya
Aturan berbeda berlaku untuk ASI yang sudah diminum bayi. Sisa ASI dalam dot tidak boleh digunakan kembali untuk pemberian berikutnya setelah melewati batas aman.
Ketika bayi mengisap dot, ASI dapat bercampur dengan air liur. Kondisi tersebut memungkinkan kuman berkembang sehingga meningkatkan risiko kontaminasi.
CDC menyebutkan bahwa sisa ASI yang sudah diminum bayi masih dapat diberikan hingga 2 jam setelah bayi selesai menyusu. Setelah melewati waktu tersebut, sisa ASI sebaiknya dibuang.
Tips Menyimpan ASI Perah agar Tetap Aman
Penyimpanan yang tepat membantu mempertahankan kualitas ASI sekaligus mengurangi risiko kontaminasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan ibu antara lain:
-
- Gunakan botol kaca atau wadah plastik keras bebas BPA dengan penutup rapat.
- Cantumkan nama anak dan tanggal pemerahan pada wadah.
- Gunakan ASI yang lebih dahulu diperah sebelum stok yang lebih baru.
- Simpan ASI dalam jumlah yang sesuai kebutuhan sekali minum.
- Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dicairkan atau dihangatkan.
- Hindari penggunaan microwave untuk menghangatkan ASI.
- Pertimbangkan cangkir, sendok, atau pipet sebagai alternatif pemberian ASI perah.
- Cuci tangan menggunakan sabun sebelum memerah atau memberikan ASI.
- Bersihkan peralatan pemerahan dan pemberian ASI secara rutin.
IDAI juga menyebutkan bahwa pemberian ASI menggunakan botol dapat mengganggu proses menyusu langsung pada sebagian bayi. Karena itu, metode pemberian dapat disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi.
Kapan Bayi Perlu Dibawa ke Dokter?
Orang tua perlu segera membawa bayi ke dokter jika muncul muntah berulang, diare, demam, lemas, atau penolakan untuk menyusu. Perhatian khusus diperlukan jika keluhan muncul setelah bayi mengonsumsi ASI perah yang diduga sudah tidak layak.
Tanda dehidrasi juga perlu diwaspadai. Beberapa di antaranya berupa popok yang lebih jarang basah, mulut kering, serta bayi yang terus-menerus rewel.
Konsultasi dengan dokter juga dapat dilakukan ketika ibu mengalami kesulitan memerah ASI atau merasa produksi ASI menurun. Pemeriksaan diperlukan bila bayi menunjukkan tanda bingung puting setelah menerima ASI melalui dot. (*)






