AI Mampu Bikin Film, Nezar Patria Soroti Tantangan Baru Sensor Film

Penulis -

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan keynote speech sekaligus membuka acara Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan Lembaga Sensor Film di Aston Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan keynote speech sekaligus membuka acara Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan Lembaga Sensor Film di Aston Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

Bogor, Javanusa—Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru bagi penyensoran film.

Teknologi ini memungkinkan siapa saja membuat video dengan adegan realistis, termasuk konten kekerasan dan pornografi yang memerlukan pengawasan cermat.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai perkembangan AI generatif menuntut Lembaga Sensor Film (LSF) meningkatkan kompetensi dalam menilai karya audiovisual.

Pasalnya, teknologi tersebut mampu menghasilkan gambar, video, hingga suara yang menyerupai kenyataan.

Nezar menyampaikan hal itu dalam acara Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan LSF di Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).

AI Membuka Akses Produksi Film Lebih Luas

Menurut Nezar, perkembangan teknologi telah mengubah cara industri perfilman memproduksi karya. Kini, masyarakat dapat membuat video dan film tanpa harus memiliki latar belakang profesional di bidang sinema.

“Inovasi teknologi mengubah cara-cara produksi dalam dunia perfilman. Perubahan alat produksi ini membuat produksi film bisa diakses oleh siapa saja dan pembuatan film menjadi lebih demokratis. Namun, film dengan kualitas sinematik tetap membutuhkan keterampilan dan rasa estetika yang tinggi,” ujar Nezar.

Ia menjelaskan bahwa AI generatif dapat menciptakan konten baru melalui pemrosesan data. Kemampuannya tidak terbatas pada pembuatan gambar, tetapi juga mencakup produksi suara dan peniruan karakteristik suara seseorang.

Perkembangan tersebut membuka peluang baru bagi industri kreatif. Namun, teknologi yang sama juga berpotensi menimbulkan masalah ketika seseorang menggunakan konten buatan AI untuk menggambarkan peristiwa fiktif seolah-olah benar-benar terjadi.

Konten AI Memunculkan Risiko Baru

Nezar mengamati bahwa penggunaan AI generatif dalam produksi konten digital terus berkembang. Sejumlah platform telah menampilkan film pendek dan drama yang memanfaatkan teknologi tersebut.

Di sisi lain, AI juga dapat menghasilkan adegan kekerasan, pornografi, serta materi yang menantang norma masyarakat. Kemampuan menghasilkan konten secara cepat dan realistis membuat proses penilaian membutuhkan ketelitian lebih tinggi.

Baca Juga :  Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?

“Generative AI bisa menciptakan sesuatu yang baru. Dengan teknologi ini, kita bisa membuat gambar atau foto, bahkan menduplikasi suara seseorang untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia ucapkan,” jelas Nezar.

Kemampuan meniru suara seseorang menjadi salah satu contoh risiko yang perlu mendapat perhatian. Konten semacam itu dapat menimbulkan persoalan ketika pembuatnya tidak menjelaskan bahwa materi tersebut merupakan hasil rekayasa AI.

Karena itu, penilaian terhadap film tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mendeteksi unsur visual atau audio. Penilai juga perlu mempertimbangkan konteks, tujuan, dan pesan yang ingin disampaikan pembuat karya.

LSF Hadapi Beban Penyensoran 40 Ribu Film per Tahun

Tantangan tersebut semakin besar karena LSF menangani volume film yang tinggi setiap tahun. Nezar menyebut sekitar 110 orang di lembaga tersebut bertugas melakukan penyensoran terhadap 40 ribu film setiap tahun.

Jumlah tersebut menunjukkan perlunya dukungan teknologi untuk membantu proses pemeriksaan. AI dapat mendukung identifikasi adegan atau unsur tertentu sehingga petugas dapat melakukan penilaian secara lebih terarah.

Meski demikian, Nezar mengingatkan bahwa kemampuan mesin memiliki keterbatasan. Sistem AI dapat mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami makna dan konteks yang melatarbelakanginya.

“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” tegas Nezar.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya peran manusia dalam menentukan hasil penilaian. Teknologi dapat mempercepat pemeriksaan, tetapi petugas tetap perlu menafsirkan isi film secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Literasi AI dan Etika Perlu Diperkuat

Nezar mendorong LSF memperkuat kompetensi dalam memahami cara kerja AI, mengenali keterbatasannya, serta menilai pemanfaatannya dalam produksi dan penyensoran film.

Baca Juga :  Wow…Seharga Apartemen! Inilah 7 Ikan Termahal di Dunia

Menurutnya, peningkatan literasi AI juga perlu mencakup aspek hukum dan etika. Pemahaman tersebut penting untuk mendukung transparansi, akuntabilitas, keamanan, serta penilaian risiko dalam penggunaan teknologi.

Dengan bekal tersebut, LSF diharapkan mampu merespons perubahan industri perfilman secara tepat. Pemanfaatan AI perlu berjalan seiring dengan ketelitian penilaian dan tanggung jawab dalam melindungi masyarakat dari konten yang tidak sesuai.

Tantangan penyensoran film pada era AI bukan hanya soal mengenali gambar atau suara hasil rekayasa. LSF juga perlu memastikan bahwa teknologi mendukung proses penilaian tanpa menggantikan pertimbangan manusia terhadap konteks dan pesan sebuah karya. (*)

Berita Terkait

Dodo Rilis Single Layar Kaca, Ceritakan Rindu dan Hubungan Jarak Jauh
Sinopsis Film Serangan Balik di Netflix: Aksi Lukman Sardi Melawan Sindikat Kriminal
Siap Mencekam! Film Dewi Siluman Ular Rilis 12 November 2026, Intip Sinopsis Lengkapnya
BRIE Rilis SIREN, Single Alternative R&B tentang Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Ronald Dewa Rangkum Perjalanan Cinta dalam Album Galau Gagal Move On, Salah Mencinta Jadi Andalan
mpq Rilis Album Kedua Dignified Losers, Angkat Kisah tentang Kekalahan dan Keteguhan
MALIQ & D’Essentials Rilis Single Arah Labuh, Buka Jalan Menuju Album Terbaru
Paolo Octaviano Rilis That’s Why I Love You, Lagu yang Tersimpan Sejak 2008

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Fermin Aldeguer Absen di MotoGP Malaysia 2026, Iker Lecuona Kembali Jadi Pengganti

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:53 WIB

Mick Doohan Nilai MotoGP Adelaide Bisa Tarik Penggemar Baru

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:07 WIB

Daftar Lengkap Pemenang Ballon d’Or 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Lamine Yamal Cetak Rekor Sejarah: Tiga Kali Beruntun Sabet Gelar Pemain Muda Terbaik Ballon d’Or 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Harry Kane Sabet Gelar Striker Terbaik Dunia 2026, Cetak 73 Gol dalam Semusim

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Luis de la Fuente Raih Pelatih Terbaik Ballon d’Or 2026, Bawa Spanyol Cetak Rekor Tak Terkalahkan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Harry Kane Raih Ballon d’Or 2026, Akhiri Puasa Gelar 25 Tahun Pemain Inggris

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Klasemen Liga Inggris 2026/2027: MU Terpuruk di Posisi ke-16, Liverpool Tembus 4 Besar

Berita Terbaru

Mick Doohan. (Foto: MotoGP.com)

MotoGP

Mick Doohan Nilai MotoGP Adelaide Bisa Tarik Penggemar Baru

Selasa, 27 Okt 2026 - 12:53 WIB