Javanusa.com—Air minum yang dikonsumsi setiap hari seharusnya tidak hanya jernih, tetapi juga terbebas dari kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan.
Banyak masyarakat menggunakan air galon sebagai sumber air minum utama, sementara sebagian lainnya mengandalkan air keran yang direbus sebelum dikonsumsi.
Meski proses perebusan mampu membunuh sebagian besar mikroorganisme, air keran yang telah direbus belum tentu sepenuhnya aman.
Risiko kontaminasi masih dapat berasal dari bakteri tertentu, logam berat, maupun zat kimia yang terkandung dalam sumber air.
Beberapa jenis bakteri bahkan diketahui memiliki daya tahan terhadap suhu tinggi.
Salah satunya adalah Clostridium botulinum, bakteri yang dapat ditemukan di tanah, sungai, dan danau serta berpotensi menyebabkan botulisme pada manusia.
Perbandingan Kebersihan Air Galon dan Air Keran Rebus
Sebelum memilih sumber air minum, masyarakat perlu memahami perbedaan tingkat kebersihan antara kedua jenis air tersebut.
1. Kebersihan Air
Air keran umumnya berasal dari dua sumber utama, yakni air tanah dari sumur dan pasokan perusahaan air minum (PAM). Meskipun air PAM telah melalui proses pengolahan, kualitasnya dapat menurun selama distribusi menuju rumah pelanggan. Kontaminasi dapat terjadi melalui jaringan pipa yang digunakan untuk menyalurkan air.
Sementara itu, air sumur juga tidak selalu bebas dari pencemaran. Kandungan logam berat maupun zat berbahaya dari lingkungan sekitar berpotensi memengaruhi kualitas air tanah. Karena itu, air PAM maupun air sumur sebaiknya disaring dan direbus terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai air minum.
Berbeda dengan air keran, air minum dalam kemasan (AMDK) yang dijual dalam bentuk galon diproduksi melalui proses higienis dan harus memenuhi standar mutu tertentu.
Produk yang telah memiliki izin edar dari BPOM dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) umumnya dapat langsung dikonsumsi.
2. Keamanan Konsumsi
Untuk memastikan keamanan air sumur, pengujian laboratorium menjadi langkah yang paling disarankan. Pemeriksaan tersebut dapat menentukan apakah air layak dikonsumsi atau masih mengandung zat pencemar.
Jika belum pernah diuji, air sumur maupun air PAM sebaiknya tidak langsung diminum, terutama bila memiliki warna keruh, bau menyengat, atau rasa yang tidak normal.
Di sisi lain, air galon yang masih dalam masa edar dan disimpan dengan benar umumnya aman digunakan. Namun, kemasan plastik tetap memiliki risiko kontaminasi bakteri apabila disimpan terlalu lama atau terpapar panas secara terus-menerus.
Air yang Difilter Dinilai Lebih Aman
Selain perebusan, penyaringan atau filtrasi menjadi metode yang banyak direkomendasikan untuk meningkatkan kualitas air minum.
National Sanitation Foundation (NSF) menilai bahwa air yang telah melalui proses filtrasi memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih aman untuk kebutuhan sehari-hari dibandingkan air yang hanya direbus.
Tips Memilih Air Minum yang Aman Jika Menggunakan Air Galon
Pastikan produk berasal dari merek yang telah terdaftar di BPOM dan memenuhi standar SNI. Selain itu, periksa kondisi kemasan serta tanggal edar produk sebelum digunakan.
Penyimpanan juga perlu diperhatikan. Hindari menempatkan galon di area yang terkena sinar matahari langsung atau suhu tinggi dalam waktu lama.
Jika menggunakan air meran rebus lakukan pengujian kualitas air melalui laboratorium atau dinas kesehatan setempat untuk mengetahui tingkat keamanannya.
Setelah dinyatakan layak, gunakan sistem penyaringan terlebih dahulu sebelum merebus air hingga matang.
Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko paparan kuman maupun zat pencemar yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Pada akhirnya, pilihan antara air galon dan air keran rebus bergantung pada kualitas sumber air, proses pengolahan, serta cara penyimpanannya.
Yang terpenting, air yang dikonsumsi harus memenuhi standar kebersihan dan keamanan agar kesehatan keluarga tetap terjaga. (*/red)






