Javanusa.com—Buang air besar (BAB) berdarah bisa menjadi tanda gangguan pada saluran pencernaan, mulai dari wasir hingga penyakit yang membutuhkan penanganan serius. Karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya sebelum menentukan pengobatan yang tepat.
Darah saat BAB dapat terlihat pada tinja, tisu toilet, atau air kloset. Jumlahnya bervariasi, mulai dari bercak kecil hingga perdarahan dalam jumlah banyak.
Warna darah juga dapat memberikan petunjuk mengenai sumber perdarahan. Namun, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Mengenali Tanda dan Warna Darah saat BAB
Dikutip dari Halodoc, BAB berdarah atau hematokezia merupakan kondisi ketika darah keluar bersama tinja atau muncul setelah seseorang buang air besar. Perdarahan dapat berasal dari berbagai bagian saluran pencernaan, mulai dari kerongkongan hingga anus.
Berikut beberapa karakteristik darah yang perlu diperhatikan:
-
- Darah merah terang: Sering berkaitan dengan perdarahan di bagian bawah saluran pencernaan, misalnya akibat wasir atau fisura ani.
- Darah berwarna merah gelap atau marun: Dapat menunjukkan perdarahan dari usus besar atau bagian usus yang lebih tinggi.
- Tinja hitam pekat seperti aspal: Kondisi ini disebut melena dan dapat menandakan perdarahan dari saluran pencernaan bagian atas, seperti lambung.
Meski wasir dan fisura ani termasuk penyebab yang umum, BAB berdarah juga dapat berkaitan dengan infeksi, peradangan usus, polip, atau kanker kolorektal.
Oleh karena itu, jangan mengabaikan perdarahan yang berulang. Terlebih jika kondisi tersebut disertai nyeri perut, perubahan pola BAB, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau tubuh terasa lemah.
Gejala BAB Berdarah yang Perlu Diwaspadai
Selain munculnya darah, penderita dapat mengalami sejumlah keluhan lain. Gejalanya bergantung pada lokasi, penyebab, dan tingkat keparahan perdarahan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
-
- Darah merah terang pada tinja atau tisu toilet.
- Tinja berwarna hitam pekat.
- Nyeri atau kram perut.
- Tubuh terasa lemah, pusing, atau mudah lelah.
- Anemia akibat kehilangan darah.
Jika perdarahan berlangsung banyak atau disertai pusing berat, pingsan, sesak napas, maupun nyeri perut hebat, segera cari pertolongan medis darurat.
Cara Mengatasi BAB Berdarah Berdasarkan Penyebabnya
Penanganan BAB berdarah harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Wasir, fisura ani, penyakit radang usus, divertikulitis, tukak lambung, dan infeksi tertentu memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda.
Berikut beberapa pilihan penanganan yang dapat dipertimbangkan.
1. Melakukan Perawatan di Rumah
Perawatan mandiri dapat membantu meredakan keluhan ringan, terutama jika perdarahan berkaitan dengan wasir atau fisura ani. Namun, langkah ini tidak menggantikan pemeriksaan medis ketika penyebab perdarahan belum diketahui.
Berendam dengan air hangat
Berendam dengan air hangat atau melakukan rendam duduk (sitz bath) dapat membantu mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman akibat wasir atau fisura ani.
Gunakan air hangat, bukan air panas, untuk menghindari iritasi pada kulit di sekitar anus.
Menggunakan krim atau salep sesuai kebutuhan
Krim atau salep tertentu dapat membantu meredakan gatal, nyeri, dan peradangan akibat wasir. Pilih produk sesuai indikasi dan ikuti petunjuk penggunaannya.
Jika keluhan tidak membaik, hindari penggunaan obat secara terus-menerus tanpa berkonsultasi dengan dokter. Perdarahan yang menetap membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Meningkatkan konsumsi makanan berserat
Sembelit dan kebiasaan mengejan berlebihan dapat memicu fisura ani atau memperburuk wasir. Karena itu, konsumsi serat dapat membantu melunakkan tinja dan memperlancar BAB.
Sumber serat antara lain sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Tingkatkan asupannya secara bertahap agar saluran pencernaan dapat beradaptasi.
Menjaga kebersihan area anus
Bersihkan area anus menggunakan air dan sabun lembut jika diperlukan. Hindari menggosok terlalu keras karena tindakan tersebut dapat memperburuk iritasi.
Setelah membersihkan area tersebut, keringkan kulit dengan menepuknya secara perlahan. Hindari menggaruk bagian yang terasa gatal.
Mencukupi kebutuhan cairan dan berolahraga
Minum air yang cukup dan melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mencegah sembelit. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, aktivitas, dan lingkungan.
Biasakan juga untuk tidak menunda keinginan buang air besar. Hindari mengejan terlalu kuat atau duduk terlalu lama di toilet.
2. Menjalani Pemeriksaan dan Perawatan Medis
Jika perdarahan berulang, berlangsung terus-menerus, atau tidak membaik, dokter perlu mengevaluasi sumber perdarahan. Penanganan selanjutnya bergantung pada hasil pemeriksaan.
Endoskopi
Dokter dapat menggunakan endoskopi untuk memeriksa saluran pencernaan dan menemukan sumber perdarahan. Melalui prosedur tertentu, dokter juga dapat menghentikan perdarahan menggunakan klip, alat pembakar khusus, atau suntikan obat.
Jenis endoskopi yang digunakan bergantung pada lokasi perdarahan dan kondisi pasien. Kolonoskopi, misalnya, dapat membantu memeriksa usus besar ketika dokter mencurigai sumber perdarahan berada di area tersebut.
Angiografi
Jika perdarahan tidak dapat dikendalikan melalui endoskopi atau sumbernya sulit dijangkau, dokter dapat mempertimbangkan angiografi.
Prosedur ini menggunakan pencitraan pembuluh darah untuk menemukan lokasi perdarahan. Dokter juga dapat melakukan embolisasi melalui kateter untuk menghentikan aliran darah pada pembuluh yang bermasalah.
Pemberian obat-obatan
Dokter dapat meresepkan obat sesuai penyebab BAB berdarah. Pilihannya meliputi obat untuk meredakan gejala wasir, pelunak tinja untuk mengatasi sembelit, atau obat antiinflamasi untuk penyakit radang usus.
Antibiotik hanya diperlukan pada infeksi bakteri tertentu sesuai hasil evaluasi dokter. Pada perdarahan saluran pencernaan bagian atas, dokter juga dapat memberikan obat penekan produksi asam lambung jika memang diperlukan.
Obat penghenti perdarahan tidak digunakan secara rutin untuk semua kasus. Dokter menentukan terapi berdasarkan sumber, tingkat keparahan, dan kondisi pasien.
Pembedahan
Dokter dapat merekomendasikan operasi jika penyebab perdarahan membutuhkan tindakan bedah. Contohnya meliputi kanker kolorektal, komplikasi divertikulitis tertentu, atau kerusakan usus yang tidak dapat ditangani dengan metode lain.
Keputusan operasi bergantung pada diagnosis, tingkat keparahan penyakit, dan respons pasien terhadap pengobatan sebelumnya.
Kapan BAB Berdarah Harus Diperiksakan?
Segera periksakan diri jika darah muncul berulang, jumlahnya meningkat, atau disertai perubahan kebiasaan BAB. Pemeriksaan juga penting jika keluhan muncul bersama penurunan berat badan, nyeri perut, atau tanda anemia.
Jangan menunda pertolongan darurat jika perdarahan berlangsung banyak, tinja berwarna hitam seperti aspal disertai kondisi tubuh memburuk, atau muncul pusing berat dan pingsan.
BAB berdarah tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, pemeriksaan sejak dini membantu dokter menemukan penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai. (*)






