Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar Bazar Lebaran 2026 untuk mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri sekaligus mendorong konsumsi produk industri dalam negeri. Kegiatan berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di Plasa Pameran Industri Kemenperin, Jakarta.
Plt. Inspektur Jenderal M. Rum menyebutkan, kegiatan ini rutin diselenggarakan untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau dan mempromosikan produk nasional, khususnya sektor agro dan barang konsumsi.
Sektor industri agro menjadi tulang punggung industri pengolahan nasional. Pada 2025, sektor ini menyumbang 52,09% PDB industri nonmigas dan 9% PDB nasional, dengan pertumbuhan 4,95%.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor industri agro mencapai USD 78,77 miliar dan impor USD 21,19 miliar, sehingga neraca dagang positif sebesar USD 57,58 miliar. Investasi di sektor ini tercatat Rp191,7 triliun dan menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025.
Memasuki 2026, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada pada 54,02, menunjukkan optimisme pelaku industri dalam meningkatkan produksi, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri.
Pemerintah juga terus mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam dalam negeri melalui integrasi sektor hulu dan hilir, serta pengembangan klaster komoditas unggulan seperti kakao, sagu, dan kelapa untuk produk pangan, farmasi, kosmetik, dan bioenergi.
Plt. Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa sektor makanan dan minuman domestik meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
Tingkat utilisasi saat ini mencapai 70–80%, lebih tinggi dari rata-rata normal sekitar 60%. Pemerintah memastikan kelancaran pasokan bahan baku melalui optimalisasi Neraca Komoditas dan koordinasi lintas sektor.
Bazar Lebaran 2026 diikuti 80 perusahaan, termasuk industri besar, menengah, dan UMKM. Produk yang dipasarkan antara lain minyak goreng, gula, roti, kopi, susu, yoghurt, cokelat, es krim, mi instan, makanan siap saji, produk olahan daging, frozen food, batik, kerajinan kulit, dan busana muslim.
Menurut Irjen Rum, tingginya partisipasi pelaku industri mencerminkan kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi pemerintah dan dunia usaha.
Kegiatan ini juga diharapkan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. (*/red)






