Javanusa.com—Manicure dan pedicure sama-sama bertujuan menjaga kuku tetap bersih dan rapi. Namun, keduanya memiliki fokus perawatan yang berbeda dan membutuhkan perhatian terhadap kebersihan alat.
Dilansir Halodoc, manicure ditujukan untuk kuku serta kulit tangan. Sementara itu, pedicure berfokus pada kuku dan kulit kaki.
Perawatan tersebut memang dapat membuat penampilan kuku lebih terawat. Namun, prosedur yang kurang higienis dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri, jamur, hingga iritasi kulit.
Perbedaan Manicure dan Pedicure
Perbedaan manicure dan pedicure paling mudah terlihat dari bagian tubuh yang menjadi sasaran perawatan.
Manicure mencakup pemotongan dan pembentukan kuku tangan, perawatan kutikula, serta penggunaan cat kuku. Pedicure menerapkan langkah serupa pada kuku kaki.
Pedicure juga biasanya melibatkan perendaman kaki. Proses ini membantu membersihkan kulit dan mengatasi bagian telapak yang kasar.
Kebersihan menjadi perhatian penting, terutama saat melakukan pedicure. Kaki lebih sering berada dalam kondisi lembap akibat penggunaan sepatu.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebut bak rendam kaki dan sistem filternya dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri serta jamur jika tidak mendapat disinfeksi yang tepat.
Risiko Kesehatan dari Manicure dan Pedicure
Perawatan kuku dapat menimbulkan masalah kesehatan apabila prosedurnya menyebabkan luka atau menggunakan peralatan yang tidak higienis.
Yale Medicine menjelaskan, proses membasahi, memotong, mengikir kuku, hingga memangkas kutikula dapat membuka peluang masuknya bakteri dan jamur.
Beberapa gangguan yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Paronikia
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan paronikia sebagai peradangan pada area sekitar kuku. Kondisi ini dapat muncul akibat trauma, iritasi, atau infeksi.
Kebiasaan mengorek kutikula serta penggunaan kuku palsu atau cat kuku dalam waktu lama dapat meningkatkan risikonya.
2. Infeksi jamur kuku
Onikomikosis dapat menyebabkan kuku berubah warna menjadi putih atau kuning kecokelatan. Kuku juga dapat menjadi rapuh dan mudah rusak.
Menurut Kemenkes RI, trauma pada kuku dan lingkungan lembap termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi jamur.
3. Reaksi alergi
Bahan tertentu dalam produk kuku palsu dapat memicu reaksi alergi. Karena itu, AAD menyarankan konsumen mengetahui jenis produk yang digunakan selama perawatan.
4. Paparan sinar UV
Penggunaan lampu UV untuk mengeringkan kuku gel juga perlu diperhatikan. Yale Medicine menyebut paparan tersebut dapat sedikit meningkatkan risiko kanker kulit dan penuaan dini jika dilakukan secara rutin.
Tips Aman Melakukan Manicure dan Pedicure
Kebersihan salon dan cara melakukan perawatan menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko masalah pada kuku.
Jangan memotong atau mendorong kutikula secara agresif. Jika perlu merapikannya, lakukan perlahan setelah mandi ketika kulit sudah lebih lunak.
Bagi yang ingin mencukur bulu kaki, lakukan setelah pedicure. Mencukur sebelumnya dapat menimbulkan luka kecil yang berpotensi menjadi jalan masuk bagi bakteri.
Perhatikan kondisi salon sebelum menjalani perawatan. Pastikan tempatnya bersih dan petugas mencuci tangan sebelum menangani pelanggan berikutnya.
Tanyakan pula bagaimana salon membersihkan dan mendisinfeksi alat. Jika rutin melakukan manicure atau pedicure, membawa peralatan kuku pribadi juga dapat menjadi pilihan.
Pengguna kuku gel sebaiknya memberikan perlindungan tambahan pada tangan. Oleskan tabir surya spektrum luas sebelum menggunakan lampu UV untuk mengeringkan kuku.
Penggunaan kuku palsu juga sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus. Terlebih jika kuku mudah rapuh atau memiliki riwayat masalah akibat infeksi jamur.
Kapan Perlu Memeriksakan Kuku ke Dokter?
Perubahan pada area kuku setelah manicure atau pedicure perlu mendapat perhatian, terutama jika muncul tanda infeksi.
Segera konsultasikan ke dokter jika kulit di sekitar kuku menjadi merah, bengkak, terasa hangat, atau nyeri. Kondisi tersebut semakin perlu diperiksa jika muncul nanah atau disertai demam.
Perubahan pada kuku juga tidak boleh diabaikan. Kuku yang berubah warna, menebal, rapuh, atau terangkat dari dasar kuku dapat menjadi tanda infeksi jamur.
Orang dengan diabetes atau daya tahan tubuh yang lemah juga perlu lebih berhati-hati. Sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter sebelum menjalani pedicure karena termasuk faktor risiko paronikia. (*)






