Javanusa.com—Mendengkur atau ngorok saat tidur sering dianggap sebagai kondisi yang wajar. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu dapat dianggap sepele. Dalam sejumlah kasus, dengkuran menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis.
Dikutip dari laman Hello Sehat, mendengkur terjadi ketika aliran udara di saluran pernapasan mengalami hambatan saat seseorang tidur. Hambatan itu membuat jaringan di tenggorokan bergetar saat udara keluar dan masuk sehingga menimbulkan suara dengkuran.
Semakin sempit saluran napas, semakin kuat getaran yang terjadi dan suara ngorok pun terdengar lebih keras.
Meski penyempitan saluran napas saat tidur merupakan proses yang alami, tidak semua orang mengalami kebiasaan mendengkur.
Berikut adalah beberapa alasan kenapa orang tidur ngorok.
1. Struktur Anatomi Mulut dan Tenggorokan
Bentuk anatomi tubuh menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya dengkuran. Ukuran amandel, adenoid, atau lidah yang lebih besar dari normal dapat menghambat aliran udara di saluran pernapasan.
Selain itu, langit-langit mulut yang rendah atau tebal juga berpotensi mempersempit jalur udara. Kondisi tersebut membuat jaringan di sekitar tenggorokan lebih mudah bergetar saat udara melewatinya.
2. Kelebihan Berat Badan
Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami dengkuran. Penumpukan jaringan lemak di sekitar leher dan tenggorokan dapat mempersempit saluran napas.
Selain itu, lemak yang menumpuk di area perut dan dada dapat menekan sistem pernapasan. Akibatnya, proses bernapas saat tidur menjadi lebih berat dan memicu munculnya dengkuran.
3. Faktor Usia
Risiko mendengkur cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi ini terjadi karena otot-otot di saluran pernapasan mengalami penurunan kekuatan dan menjadi lebih kendur.
Ketika udara melewati saluran napas yang lebih rileks, getaran lebih mudah muncul. Karena itu, suara dengkuran lebih sering terdengar pada orang dewasa dan lanjut usia. Meski demikian, anak-anak juga dapat mengalami kondisi serupa dalam kasus tertentu.
4. Gangguan pada Saluran Pernapasan
Pilek, alergi, maupun sinusitis dapat menyebabkan hidung tersumbat dan peradangan pada saluran napas. Kondisi tersebut membuat aliran udara menjadi tidak lancar saat tidur.
Saat udara sulit melewati rongga hidung, seseorang cenderung bernapas lebih berat. Akibatnya, kemungkinan munculnya suara ngorok saat tidur menjadi lebih besar.
5. Pengaruh Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat penenang dapat memicu dengkuran karena membuat otot-otot tenggorokan menjadi lebih rileks. Relaksasi berlebihan pada otot tersebut dapat mempersempit jalur udara dan meningkatkan risiko mendengkur.
Karena itu, penggunaan obat-obatan tertentu perlu mendapat perhatian, terutama jika kebiasaan ngorok muncul setelah mengonsumsinya.
6. Kebiasaan Merokok dan Mengonsumsi Alkohol
Rokok dan alkohol sama-sama dapat memengaruhi fungsi saluran pernapasan. Alkohol membuat otot tenggorokan lebih rileks, sedangkan asap rokok mengiritasi saluran napas dan meningkatkan produksi lendir.
Kombinasi kedua kondisi tersebut menyebabkan saluran udara menyempit. Akibatnya, dengkuran lebih mudah terjadi saat seseorang tidur.
7. Obstructive Sleep Apnea
Mendengkur juga dapat menjadi gejala gangguan tidur yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea atau OSA. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas tersumbat sementara saat tidur sehingga menyebabkan henti napas selama beberapa detik.
Gangguan tersebut dapat berulang berkali-kali dalam satu malam. Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas tidur dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.
8. Posisi Tidur
Posisi tidur turut memengaruhi munculnya dengkuran. Tidur telentang membuat lidah dan jaringan lunak di tenggorokan lebih mudah jatuh ke belakang akibat gravitasi.
Akibatnya, saluran napas menjadi lebih sempit dan suara dengkuran lebih mudah muncul. Mengubah posisi tidur menjadi miring serta meninggikan posisi kepala dapat membantu mengurangi kebiasaan ngorok pada sebagian orang.
Kapan Mendengkur Perlu Diwaspadai?
Dengkuran yang terjadi sesekali umumnya tidak berbahaya. Namun, kondisi ini perlu mendapat perhatian jika disertai gejala lain seperti henti napas saat tidur, sering terbangun pada malam hari, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau sakit kepala saat bangun tidur.
Dalam kondisi tersebut, seseorang sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebab pasti mendengkur sehingga penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi yang mendasarinya. (*/red)






