Padang, Javanusa—Sebanyak 179 anak tercatat mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, hingga Juli 2026.
Dari jumlah tersebut, 37 anak dengan kondisi kompleks mendapat rujukan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) dan klinik untuk penanganan lanjutan oleh dokter spesialis.
Puskesmas Anak Air terus memperkuat penanganan stunting melalui intervensi gizi, pendampingan keluarga, deteksi dini, hingga pelayanan rujukan.
Langkah tersebut menyasar anak yang sudah mengalami stunting sekaligus mencegah risiko sejak masa kehamilan.
Kepala Puskesmas Anak Air, Marta Nofa, mengatakan upaya penanganan dilakukan dari hulu dengan melibatkan ibu hamil, keluarga, kader Posyandu, serta tenaga kesehatan.
“Kami berusaha untuk mengintervensi dari hulunya, yaitu dari ibu hamil. Melalui inovasi Balek Lancah yang terus kami kembangkan, kami melibatkan seluruh keluarga dan masyarakat, termasuk suami, guna memastikan kesehatan ibu dan janin terkontrol dengan baik hingga proses persalinan,” ujar Marta Nofa.
37 Anak Mendapat Rujukan Lanjutan
Dari 179 kasus yang tercatat hingga Juli, sebanyak 37 anak memerlukan penanganan lebih lanjut karena memiliki kondisi yang kompleks.
Puskesmas merujuk anak-anak tersebut ke RSUD dan klinik untuk memperoleh pemeriksaan serta penanganan dokter spesialis. Sementara itu, anak lainnya mendapat asuhan gizi intensif sesuai kebutuhan.
Intervensi juga mencakup pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal kepada sasaran.
Puskesmas Anak Air menjalankan program PMT lokal menggunakan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dari Kementerian Kesehatan.
Tenaga gizi mengelola menu bersama mitra lokal agar makanan memenuhi kebutuhan nutrisi sasaran.
Selama program berlangsung, kader mengantarkan makanan tersebut langsung ke rumah penerima setiap hari.
Pendampingan Dimulai dari Masa Kehamilan
Penanganan stunting di Puskesmas Anak Air tidak berhenti setelah anak menunjukkan tanda gangguan pertumbuhan. Tenaga kesehatan juga mendampingi ibu hamil, terutama mereka yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia.
Puskesmas menjalankan upaya Bina Ibu Hamil Kurang Energi Kronis untuk Cegah Anak Kurus. Program ini bertujuan menjaga kondisi ibu sekaligus mendukung pertumbuhan janin sejak dalam kandungan.
Marta mengatakan karakteristik wilayah Anak Air turut menghadirkan tantangan dalam pencegahan stunting.
Mobilitas warga yang tinggi, banyaknya pendatang, serta ibu hamil usia muda menjadi sejumlah faktor yang mendapat perhatian.
Meski demikian, koordinasi lintas sektor dan pengawasan kader Posyandu membantu memperkuat pemantauan ibu dan anak.
Puskesmas juga mencatat tidak ada lagi persalinan di rumah karena seluruh proses persalinan kini mendapat penanganan medis.
“Tantangan wilayah perlintasan dengan mobilitas warga yang tinggi serta banyaknya ibu hamil usia muda tentu menyimpan kerentanan tersendiri. Namun, berkat sinergi lintas sektor yang solid, pengawasan ketat, serta garda terdepan kader Posyandu, budaya persalinan di rumah kini sepenuhnya telah beralih ke persalinan medis yang aman,” ujarnya.
Kader Posyandu Perkuat Deteksi Dini
Di tingkat masyarakat, kader Posyandu memegang peran penting dalam menemukan anak yang mengalami masalah pertumbuhan.
Kader melakukan pemantauan terhadap balita, termasuk anak yang terlihat kurus atau masuk kelompok berisiko stunting.
Jika menemukan kondisi yang perlu mendapat perhatian, kader mengarahkan keluarga ke Puskesmas Anak Air.
Pola asuh menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi petugas. Orang tua yang bekerja terkadang menitipkan anak kepada pengasuh atau anggota keluarga lain.
Dalam kondisi tersebut, anak berisiko mendapat makanan selingan yang kurang bernutrisi. Kebiasaan itu dapat menurunkan nafsu makan dan menghambat pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Karena itu, puskesmas tidak hanya mengandalkan intervensi makanan. Edukasi dan pendampingan keluarga juga menjadi bagian penting dalam memastikan perubahan pola asuh berjalan secara berkelanjutan.
Warga Rasakan Pendampingan Puskesmas
Pelayanan Puskesmas Anak Air juga dirasakan langsung oleh keluarga yang memiliki balita stunting.
Afreni Erita, warga yang memiliki balita stunting, mengapresiasi respons petugas ketika anaknya membutuhkan penanganan lanjutan.
“Kami mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari Puskesmas Anak Air. Anak kami dibantu dan dirujuk ke klinik spesialis anak. Petugas medis menjemput, mendampingi proses pengobatan sampai selesai, hingga diantar kembali ke rumah dan selama masa pemulihan, perhatian dan pemantauan dari puskesmas terus berjalan,” kata Afreni.
Dukungan pelayanan kesehatan di Puskesmas Anak Air kini mencakup laboratorium terpadu dan layanan ultrasonografi (USG). Fasilitas tersebut didukung dokter serta bidan terlatih untuk menunjang pelayanan ibu dan anak.
Pemerintah Kota Padang mengajak ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita rutin memanfaatkan Posyandu serta fasilitas kesehatan.
Pemantauan sejak dini diharapkan membantu mencegah risiko stunting dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (*)






