Jakarta, Javanusa—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah diarahkan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa.
Badan Gizi Nasional (BGN) juga mendorong pembentukan kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan makan bersama.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Mariman Darto, mengatakan terdapat delapan kebiasaan baik yang perlu diterapkan selama pelaksanaan MBG.
Kebiasaan itu mencakup menyampaikan salam dan rasa syukur, mencuci tangan sebelum makan, serta tertib saat mengambil makanan.
Siswa juga didorong makan bersama, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta memperoleh edukasi tentang gizi dan keamanan pangan. Setelah selesai, mereka perlu menjaga kerapian dan kebersihan lingkungan.
“Pelaksanaan MBG di sekolah bukan hanya tentang menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak. Ada kebiasaan baik yang dapat dibangun melalui proses makan bersama, mulai dari menjaga kebersihan, menjaga, memperkenalkan gizi dan keamanan pangan, hingga menjaga lingkungan tetap bersih setelah makan,” kata Mariman di Jakarta, Minggu (6/9).
Pembiasaan Dilakukan Secara Konsisten
Menurut Mariman, delapan kebiasaan tersebut perlu diterapkan secara berurutan dalam setiap kegiatan makan bersama.
Konsistensi menjadi bagian penting agar kebiasaan tersebut tidak berhenti sebagai aturan selama program MBG berlangsung.
“Delapan kebiasaan ini diharapkan menjadi pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, kegiatan makan bersama tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan perilaku positif dan pola hidup sehat pada anak,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, kegiatan makan di sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran bagi siswa. Mereka tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga belajar menerapkan perilaku sehat dalam aktivitas sehari-hari.
Guru Punya Peran Penting
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menilai keterlibatan guru menjadi faktor penting dalam penerapan delapan kebiasaan tersebut.
Guru dapat menjadi contoh sekaligus mendampingi siswa selama kegiatan makan berlangsung. Peran itu juga membantu memastikan kebiasaan yang diperkenalkan melalui MBG terbawa ke lingkungan sehari-hari.
“Penerapan delapan kebiasan baik tersebut tentunya harus ada peran penting dari guru sebagai edukator karena dapat memberikan contoh dan membangun kebiasaan baik secara langsung kepada murid,” kata Hida.
Hida menambahkan, guru dapat mengingatkan siswa untuk mencuci tangan sebelum makan dan mengonsumsi makanan secara tertib.
Pendampingan juga mencakup kebiasaan menjaga kerapian serta membersihkan lingkungan setelah kegiatan makan selesai.
MBG Jadi Sarana Edukasi Hidup Sehat
BGN berharap penerapan delapan kebiasaan baik tersebut memperluas manfaat program MBG di sekolah.
Selain mendukung pemenuhan kebutuhan gizi siswa, kegiatan ini dapat membantu menanamkan disiplin, kepedulian terhadap kebersihan, serta pemahaman tentang gizi dan keamanan pangan.
Dengan demikian, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program penyediaan makanan bergizi. Program tersebut juga dapat menjadi bagian dari pembentukan pola hidup sehat dan perilaku positif sejak usia sekolah. (*)






