Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas akses pasar global bagi industri kecil dan menengah (IKM) nasional, terutama sektor fesyen dan kriya.
Upaya itu melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Bali dengan memfasilitasi IKM binaan mengikuti ajang internasional Home InStyle 2026 di Hong Kong.
Pameran yang digelar Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) tersebut berlangsung pada 27–30 April 2026 di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, Hong Kong.
Menteri Perindustrian (Kemenperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, produk kerajinan Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
Menurutnya, daya saing itu dapat meningkat melalui inovasi desain, penggunaan bahan baku berkelanjutan, serta penguatan fungsi produk sesuai kebutuhan konsumen dunia.
“Produk kerajinan nasional yang mengedepankan kreativitas dan inovasi memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional. Karena itu, Kemenperin terus mendukung pengembangan kapasitas dan promosi IKM agar mampu bersaing di pasar global,” ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (5/5).
Ia juga mengapresiasi semangat pelaku IKM yang terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar ekspor melalui partisipasi pada pameran internasional.
Menurut Agus, keikutsertaan dalam ajang global tidak hanya membuka peluang transaksi bisnis, tetapi juga memperluas wawasan, pengalaman, serta jejaring kemitraan internasional bagi pelaku industri.
“Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan IKM Indonesia dapat semakin adaptif terhadap perkembangan tren global dan mampu memperluas akses pasar ekspor secara berkelanjutan,” tambahnya.
Home InStyle Jadi Ajang Promosi Produk Kriya Indonesia
Partisipasi dalam Home InStyle 2026 menjadi langkah strategis Kemenperin untuk memperkenalkan produk kriya Indonesia di platform internasional.
Pameran tersebut merepresentasikan perkembangan tren gaya hidup global dengan mengangkat tema inovasi material, eksplorasi budaya, dan penguatan kreativitas desain.
Selain itu, ajang tersebut juga menampilkan solusi berbasis teknologi untuk mendukung kebutuhan masyarakat lanjut usia seiring berkembangnya tren silver economy.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, pameran internasional menjadi sarana penting untuk meningkatkan wawasan IKM terhadap tren desain dan inovasi kreatif dunia.
“Pada ajang Home InStyle 2026, Ditjen IKMA melalui BPIFK membawa tiga IKM alumni program Creative Business Incubator (CBI), yakni Manamu dari Bali, Kampoeng Anyaman dari Jawa Tengah, dan Koto Batu dari Banten,” jelas Reni.
Pameran tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi dan temu bisnis. Home InStyle 2026 juga menghadirkan berbagai inovasi desain dan teknologi melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra internasional.
Salah satu area utama pameran ialah Cultural and Creative Avenue yang menampilkan karya desain terkurasi dari berbagai negara dengan memadukan unsur budaya dan pendekatan desain kontemporer.
HKTDC juga bekerja sama dengan Pantone untuk memperkenalkan warna tren 2026, yakni “Cloud Dancer”, yang diaplikasikan pada berbagai produk home and lifestyle.
Koto Batu Raih Penghargaan Internasional
Prestasi membanggakan diraih salah satu IKM binaan BPIFK, yakni Koto Batu. IKM tersebut meraih penghargaan “Best of Show Award” dalam ajang European Product Design Award x HKTDC Home InStyle 2026 melalui karya desain bertajuk Felora.
“Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kualitas desain, inovasi, dan nilai estetika produk Indonesia telah mendapatkan pengakuan di tingkat internasional,” ungkap Reni.
Sementara itu, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, Dickie Sulistya Aprilyanto mengatakan, Home InStyle 2026 mengusung pendekatan hibrida yang mengintegrasikan kegiatan luring dan daring.
Menurutnya, konsep tersebut membuka peluang interaksi bisnis yang lebih luas bagi para peserta.
“Melalui platform digital yang tersedia, peserta dapat melanjutkan komunikasi bisnis, menjajaki peluang kerja sama, serta mengakses informasi produk secara lebih luas dan efisien,” jelas Dickie.
Ia menambahkan, partisipasi BPIFK dalam pameran internasional menjadi bentuk komitmen Kemenperin dalam mendukung promosi, pemasaran, dan penguatan jejaring IKM Indonesia di tingkat global.
Selain itu, langkah tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri fesyen serta kriya nasional.
“Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi produk kriya Indonesia di pasar internasional dan mendorong peningkatan kontribusi IKM terhadap perekonomian nasional,” tutupnya. (*/red)






