Javanusa.com—Abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori kendaraan atau halaman rumah. Partikelnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit, bahkan memperburuk penyakit tertentu.
Sekilas, abu vulkanik yang menempel pada kendaraan, atap, atau halaman rumah memang terlihat seperti debu biasa. Namun, karakter material tersebut jauh berbeda dari debu tanah atau debu rumah.
Abu vulkanik terbentuk ketika tekanan gas yang sangat kuat saat erupsi menghancurkan batuan. Material tersebut kemudian menghasilkan pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik berukuran sangat kecil.
Partikelnya memiliki permukaan keras dan sudut tajam. Karakter tersebut membuat abu vulkanik bersifat abrasif dan dapat mengikis jaringan ketika masuk atau menempel pada tubuh.
Ukuran partikelnya juga beragam. Abu berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dapat masuk ke saluran pernapasan, sedangkan partikel berukuran di bawah 2,5 mikron (PM2.5) mampu mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.
Karena itu, masyarakat perlu memperlakukan abu vulkanik sebagai material yang berpotensi membahayakan kesehatan, bukan sekadar kotoran yang harus segera dibersihkan.
Dampak Abu Vulkanik terhadap Kesehatan
Kementerian Kesehatan melalui Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat mengandung partikel berukuran kasar hingga sangat halus.
Pada kondisi tertentu, erupsi juga dapat membawa gas vulkanik yang bersifat iritan. Komposisi material dan tingkat bahayanya dapat berbeda pada setiap erupsi.
Paparan abu yang terbawa angin dapat menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka pendek. Risiko juga perlu mendapat perhatian lebih pada kelompok yang sudah memiliki penyakit tertentu.
1. Mengganggu saluran pernapasan
Abu vulkanik dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan. Paparan juga dapat memicu batuk berdahak, sesak dada, mengi, hingga kesulitan bernapas.
Kondisi tersebut dapat menjadi lebih berat pada penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), bronkitis kronis, serta penyakit jantung dan paru lainnya.
2. Mengiritasi mata
Partikel abu dapat membuat mata merah, perih, gatal, berair, dan terasa seperti kemasukan benda asing.
Partikel yang memiliki permukaan tajam juga dapat menggesek permukaan mata. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan abrasi atau goresan pada kornea.
3. Memicu iritasi kulit
Kontak dengan abu vulkanik dapat menyebabkan kulit memerah, gatal, atau terasa perih. Paparan juga berpotensi memperburuk gangguan kulit yang sudah ada.
4. Mencemari makanan dan air
Abu vulkanik dapat mengontaminasi makanan serta sumber air yang terbuka. Karena itu, masyarakat perlu melindungi makanan dan tempat penampungan air selama terjadi hujan abu.
5. Meningkatkan risiko kecelakaan
Sebaran abu dapat mengurangi jarak pandang secara signifikan. Material yang menumpuk di jalan juga dapat membuat permukaan menjadi licin.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara yang tetap beraktivitas saat hujan abu berlangsung.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Mengurangi paparan menjadi langkah penting selama terjadi sebaran abu vulkanik. Masyarakat sebaiknya mengikuti arahan otoritas dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Saat harus keluar rumah, gunakan masker N95 atau masker medis. Kacamata pelindung atau goggles serta pakaian berlengan panjang juga dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan abu.
Di dalam rumah, tutup pintu, jendela, dan lubang ventilasi dengan rapat. Langkah ini membantu mencegah abu masuk dan menumpuk di dalam ruangan.
Lindungi pula makanan, air minum, dan sumur terbuka. Gunakan penutup yang rapat agar material vulkanik tidak mencemari sumber konsumsi.
Selama hujan abu, sebaiknya hindari penggunaan lensa kontak. Gunakan kacamata biasa untuk mengurangi risiko iritasi atau cedera pada kornea.
Ketika membersihkan abu di rumah, gunakan metode wet cleaning. Basahi permukaan terlebih dahulu agar abu tidak kembali beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan.
Masyarakat juga perlu memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi pemerintah dan otoritas terkait.
Dengan memahami karakter abu vulkanik dan menerapkan perlindungan yang tepat, risiko paparan terhadap kesehatan dapat ditekan. (*)






