Padang, Javanusa—Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pertanian terus menggencarkan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) secara gratis bagi hewan ternak berkuku belah.
Program ini menjadi langkah strategis untuk memutus rantai penularan PMK sekaligus melindungi komoditas peternakan masyarakat dari ancaman penyebaran virus.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeswan Dinas Pertanian Kota Padang, drh. Yasir Irawan, menjelaskan PMK merupakan penyakit akibat infeksi virus dengan tingkat penularan atau morbiditas yang sangat tinggi.
Penyakit ini menyerang area sensitif, terutama mulut dan kuku hewan, meski angka kematiannya atau mortalitas relatif rendah.
Pergerakan Ternak Jadi Faktor Utama Penularan
Menurut Yasir, hasil pemetaan Dinas Pertanian menunjukkan bahwa pergerakan atau transportasi ternak antarwilayah menjadi faktor utama penyebaran PMK di Kota Padang.
Sebagian besar pasokan hewan ternak yang masuk ke Padang berasal dari wilayah Sumatera Utara, seperti Kisaran dan Asahan. Kondisi tersebut menyebabkan tren lonjakan kasus atau outbreak mengikuti tingginya mobilitas ternak yang masuk ke Kota Padang.
UPT Puskeswan Kelola 700 Dosis Vaksin Gratis
Untuk mengurangi potensi kerugian peternak, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) memfasilitasi penyediaan vaksin PMK secara cuma-cuma.
Saat ini, UPT Puskeswan Dinas Pertanian Kota Padang mengelola sebanyak 700 dosis vaksin yang siap didistribusikan kepada peternak secara gratis selama kuota masih tersedia.
Adapun hewan ternak berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba, harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum menerima vaksin.
Hewan wajib dalam kondisi sehat, telah menjalani masa adaptasi minimal satu minggu di lokasi baru. Berusia minimal tiga bulan tanpa batas usia maksimal, serta tidak sedang bunting. Untuk ternak bunting, vaksinasi akan ditunda hingga kondisinya memungkinkan.
Kesadaran Peternak Terus Meningkat
Dinas Pertanian Kota Padang juga mencatat peningkatan signifikan kesadaran peternak dibandingkan saat awal wabah PMK pada 2022.
Saat ini, para peternak dinilai lebih kooperatif dalam menghadapi ancaman penyakit. Mereka tidak lagi panik menjual ternak dengan harga murah atau melakukan potong paksa. Selain itu, peternak juga semakin responsif memperketat biosekuriti kandang guna menekan risiko penyebaran virus.
Pemko Padang memastikan tim medis selalu siap bergerak cepat untuk menindaklanjuti setiap laporan dugaan kasus PMK di lapangan.
Yasir menjelaskan bahwa gejala klinis PMK pada bagian mulut ditandai munculnya lepuh menyerupai sariawan dan produksi air liur berlebihan atau hipersalivasi.
“Sementara pada kuku, terjadi luka di celah kuku yang berpotensi mengelupas dan memicu belatung jika terlambat ditangani. Kondisi ini bisa fatal dan memaksa peternak melakukan potong paksa jika tidak cermat,” ujar Yasir.
Ia menambahkan, tim penanganan medis dari UPT Puskeswan maupun Bidang Kesehatan Hewan akan segera turun ke lapangan setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Setiap kali ada laporan indikasi kasus dari masyarakat, tim penanganan medis dari UPT Puskeswan maupun Bidang Kesehatan Hewan akan langsung diterjunkan ke lapangan guna melakukan penanganan terpadu secara cepat,” katanya. (*/red)






