Jakarta, Javanusa—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 73,8 juta masyarakat telah mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Juli 2026. Jumlah tersebut melampaui capaian sepanjang 2025 yang mencapai 70 juta peserta.
Pemerintah kini mengarahkan program itu ke tahap berikutnya, yakni memastikan setiap temuan hasil pemeriksaan memperoleh tindak lanjut berupa edukasi, pengobatan, pemantauan, hingga rujukan sesuai kondisi kesehatan peserta.
Dalam Media Briefing Evaluasi CKG di Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa (4/8), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan tujuan utama CKG bukan hanya melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” ujar Menkes Budi.
Ia menyebut langkah tersebut menjadi bagian dari target pemerintah untuk menjangkau 130 juta penduduk melalui Program CKG sepanjang 2026.
Mayoritas Peserta Berasal dari Puskesmas
Data Kemenkes menunjukkan sebanyak 62,7 juta peserta menjalani skrining melalui puskesmas dan kegiatan berbasis komunitas. Sementara itu, 11,1 juta peserta berasal dari kalangan pelajar.
Layanan CKG tersedia secara gratis bagi seluruh kelompok usia melalui lebih dari 10.000 puskesmas, sekolah, dan komunitas di berbagai daerah.
Pada tahun ini, Kemenkes memprioritaskan penanganan tiga faktor risiko utama penyakit tidak menular (PTM), yaitu hipertensi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Ketiga kondisi tersebut menjadi penyebab dominan penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal.
Hingga akhir Juli 2026, pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh (IMT) telah menjangkau sekitar 90 persen sasaran. Adapun pemeriksaan gula darah telah mencapai 83 persen.
Tindak Lanjut Dilakukan di Puskesmas
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi mengatakan hasil skrining tidak berhenti pada tahap pemeriksaan.
Mulai Agustus 2026, Kemenkes memantau pelaksanaan tata laksana kesehatan di sedikitnya 5.300 puskesmas sebelum sistem tersebut diperluas ke seluruh Indonesia.
Sebagai bagian dari penanganan awal di tingkat komunitas, masyarakat yang memenuhi indikasi medis dapat memperoleh obat hipertensi, diabetes, maupun kolesterol secara gratis untuk kebutuhan hingga 15 hari pertama. Selanjutnya, pengobatan akan diteruskan melalui mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Penyakit Tidak Menular Semakin Mendominasi
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan pola penyakit di Indonesia telah berubah. Saat ini, penyakit tidak menular menjadi penyebab utama gangguan kesehatan dan sering berkembang tanpa gejala.
“Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi,” tegas Dante.
Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai kebiasaan rutin, bukan hanya dilakukan sekali.
“Cek kesehatan tidak cukup dilakukan sekali. Jika memungkinkan, lakukan setiap tahun. Kita akan terus memperbaiki sistem agar masyarakat yang ditemukan berisiko dapat lebih cepat diobati dan tetap sehat,” lanjutnya.
Selain pemeriksaan berkala, Dante juga mengajak masyarakat menerapkan pola makan seimbang dan rutin beraktivitas fisik untuk menekan risiko penyakit tidak menular.
Deteksi Dini Tingkatkan Harapan Hidup Sehat
Pakar Kesehatan Masyarakat dr. Iwan Ariawan menilai keberhasilan Program CKG bergantung pada kesinambungan antara proses skrining, deteksi dini, dan tindak lanjut pengobatan.
Ia menjelaskan masih terdapat kesenjangan antara angka harapan hidup dengan harapan hidup sehat akibat banyak penyakit yang terlambat diketahui.
“Yang ingin kita capai bukan hanya masyarakat hidup lebih lama, tetapi hidup sehat dan berkualitas. Karena itu, CKG harus berjalan dalam satu rangkaian: skrining, deteksi, dan tindak lanjut,” kata dr. Iwan. (*)






