Javanusa.com—Tujuh anak dengan karakter dan latar belakang berbeda harus menyatukan kemampuan mereka dalam sebuah pertunjukan.
Kisah tersebut menjadi inti film Kuru Sumange, drama musikal dan tari yang mengambil latar kehidupan anak-anak di tanah Bugis.
Film karya Irwandi Irgantara itu bakal hadir di bioskop pada 30 Agustus 2026. Selain menjadi sutradara, Irwandi juga bertindak sebagai produser film berdurasi 100 menit tersebut.
Kuru Sumange mendapat klasifikasi Semua Umur dari Lembaga Sensor Film (LSF). Ceritanya berfokus pada tujuh anak yang bertemu dalam ajang Festival Anak Daerah.
Kisah Tujuh Anak dalam Satu Pertunjukan
Tujuh tokoh utama film ini terdiri dari Aisyah, Santi, Kinara, Yasmin, Nindi, Hendra, dan Fahri. Mereka datang dengan karakter serta persoalan yang berbeda.
Aisyah Afiqa Alfan memerankan Aisyah. Santi diperankan Andi Izzatunisa Faisal, sedangkan Gerhana Ayunindya Putri memainkan karakter Kinara.
Luthfia Zahra Talita Fredy berperan sebagai Yasmin. Sementara itu, Andi Atifa Nur Maharani memerankan Nindi.
Dua karakter lainnya dimainkan M Fais Rezki Faisal sebagai Hendra dan Adlin Izzanil sebagai Fahri.
Pertemuan mereka berlangsung dalam Festival Anak Daerah. Alih-alih tampil secara terpisah, ketujuh peserta itu kemudian mendapat tugas dari juri untuk menampilkan satu pertunjukan bersama.
Situasi tersebut membuat mereka harus mengesampingkan perbedaan. Setiap anak perlu berkontribusi agar pertunjukan yang mereka siapkan dapat berjalan dengan baik.
Perbedaan Karakter Memicu Konflik
Tugas bersama itu ternyata tidak mudah. Masing-masing anak membawa persoalan pribadi yang memengaruhi proses persiapan pertunjukan.
Perbedaan karakter dan latar belakang juga membuat hubungan mereka menghadapi sejumlah tantangan. Konflik kemudian muncul ketika mereka berusaha menemukan cara untuk bekerja sebagai satu kelompok.
Meski menghadapi berbagai persoalan, ketujuh anak tersebut tetap berusaha mempertahankan pertunjukan yang sudah mereka persiapkan.
Melalui unsur drama, musik, dan tari, Kuru Sumange menggambarkan dinamika anak-anak ketika harus bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dan karakter berbeda.
Cerita tersebut sekaligus membawa penonton mengikuti proses mereka dalam membangun kebersamaan di tengah konflik dan perbedaan. (*)






