Javanusa.com—Film drama Indonesia Saat Aku Bersuara siap hadir di bioskop mulai 18 Juni 2026. Mengangkat isu kekerasan seksual dan perjuangan penyintas mencari keadilan, film ini menawarkan kisah emosional tentang keberanian melawan budaya bungkam yang masih sering terjadi di masyarakat.
Film berdurasi 85 menit dengan klasifikasi penonton usia 13 tahun ke atas ini menyoroti perjalanan seorang korban kekerasan seksual dalam menghadapi trauma sekaligus memperjuangkan keadilan.
Film tersebut disutradarai Sonu S dan diproduseri oleh Shalu TM, Sonu S, Sonya S, Indrani B, Aashish S, Azarya SB, serta Akhil A.
Sejumlah aktor dan aktris ternama turut memperkuat cerita, di antaranya Hana Malasan, Marshanda, Lukman Sardi, Cut Mini, Teuku Rifnu Wikana, dan Nino Fernandez.
Perjalanan Nadia dari Korban Menjadi Penggerak Perubahan
Dalam film ini, Marshanda berperan sebagai Nadia, seorang pengacara muda yang sedang menikmati puncak kariernya. Kehidupannya berubah seketika setelah mengalami pemerkosaan brutal saat berusaha membantu sahabatnya.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam yang memengaruhi berbagai aspek kehidupannya. Nadia harus menghadapi trauma berat, keretakan hubungan dengan orang-orang terdekat, hingga masa depan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Meski demikian, Nadia tidak memilih untuk menyerah. Ia berupaya bangkit dari keterpurukan dan menolak terjebak dalam budaya diam yang kerap membungkam korban kekerasan seksual.
Gerakan #NoMoreSilence Jadi Simbol Perlawanan
Perjuangan Nadia berlanjut ketika ia bergabung dengan Andien yang diperankan Rini Yulianti dan Riana yang dimainkan Hana Malasan. Bersama-sama mereka membentuk gerakan sosial bernama #NoMoreSilence.
Gerakan tersebut bertujuan mendorong para penyintas agar berani menyampaikan pengalaman mereka, mencari dukungan, dan memperjuangkan hak-haknya melalui jalur yang tersedia.
Namun jalan yang mereka tempuh tidak mudah. Ketiganya harus berhadapan dengan stigma sosial, tekanan dari lingkungan sekitar, hingga tantangan dalam sistem hukum yang sering dianggap kurang berpihak kepada korban.
Di tengah perjuangan itu, Nadia memperoleh dukungan dari Adrian, seorang jaksa yang diperankan Ibnu Jamil. Adrian juga menyimpan pengalaman traumatis yang membuatnya memahami perjuangan para penyintas.
Sajikan Drama Emosional dengan Pesan Sosial Kuat
Melalui cerita yang dekat dengan realitas sosial, Saat Aku Bersuara tidak hanya menyuguhkan drama yang menyentuh emosi penonton. Film ini juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami pentingnya empati terhadap korban kekerasan seksual serta mendukung upaya penegakan keadilan.
Kombinasi tema yang relevan dan jajaran pemain berpengalaman membuat film ini berpotensi menjadi salah satu drama Indonesia yang banyak diperbincangkan pada pertengahan 2026.
Lebih dari sekadar tontonan, Saat Aku Bersuara membawa pesan bahwa setiap suara korban memiliki hak untuk didengar, dihargai, dan diperjuangkan. (*/red)






