Geopolitik Memanas, Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi lewat Sawit dan Singkong

Penulis -

Jumat, 13 Maret 2026 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia perkuat strategi domestik melalui percepatan swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional. (Foto: Kementan)

Indonesia perkuat strategi domestik melalui percepatan swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional. (Foto: Kementan)

Jakarta, Javanusa—Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, energi, dan rantai pasok dunia.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia memperkuat strategi domestik melalui percepatan swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Pemerintah mendorong optimalisasi komoditas dalam negeri, mulai dari minyak sawit hingga singkong, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi dan ekonomi nasional.

Sektor kelapa sawit menjadi salah satu penopang utama. Data yang disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menunjukkan produksi crude palm oil (CPO) Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton.

Angka tersebut meningkat sekitar 7,5 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang tercatat 48,16 juta ton. Jika digabungkan dengan palm kernel oil (PKO), total produksi sawit nasional diperkirakan mencapai sekitar 56 juta ton.

Menurut Eddy, peningkatan produksi dipengaruhi kondisi cuaca yang relatif baik serta harga sawit yang cukup tinggi pada tahun sebelumnya, sehingga mendorong petani meningkatkan perawatan kebun.

Ekspor Tetap Berjalan

Permintaan pasar internasional terhadap sawit Indonesia masih relatif kuat. Sepanjang 2025, ekspor sawit meningkat 9,5 persen dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton.

Namun, konflik global turut memengaruhi biaya pengiriman. Eddy menyebut biaya logistik dan asuransi pengiriman meningkat hingga sekitar 50 persen. Meski demikian, kontrak ekspor yang telah berjalan tetap dipenuhi.

Pengiriman sawit Indonesia masih berlangsung ke sejumlah negara tujuan utama, termasuk India dan China.

Di dalam negeri, konsumsi sawit juga meningkat. Pada 2025, konsumsi domestik tercatat sekitar 24,7 juta ton atau naik sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Gaji Penyuluh Pertanian Ditanggung Pusat, Wako Yota Balad: Ruang Fiskal APBD Jadi Lebih Luas

Kenaikan tersebut sebagian besar berasal dari kebutuhan energi melalui program biodiesel. Konsumsi biodiesel tercatat mencapai sekitar 12,7 juta ton atau meningkat 10,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Program biodiesel saat ini berada pada tahap implementasi campuran B40, dengan rencana peningkatan hingga B50 dalam jangka panjang sebagai bagian dari strategi pengurangan ketergantungan pada energi fosil impor.

Singkong Diproyeksikan Jadi Sumber Bioetanol

Selain sawit, pemerintah juga mengembangkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia Arifin Lambaga mengatakan singkong memiliki potensi besar untuk mendukung produksi bioetanol sebagai bagian dari bauran energi nasional.

Produksi singkong nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan penggunaan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan.

Menurut Arifin, kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari singkong, maka diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar.

Ia menjelaskan konversi rata-rata produksi bioetanol membutuhkan sekitar lima hingga tujuh kilogram singkong segar untuk menghasilkan satu liter bioetanol.

Persiapan Produksi

Pelaku industri dan petani saat ini diminta menyiapkan perencanaan produksi untuk mendukung pengembangan bioetanol. Langkah tersebut dilakukan agar komoditas singkong dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.

Dengan basis produksi pangan dan energi nabati yang besar, Indonesia berupaya memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global dan gangguan rantai pasok energi maupun pangan. (*/red)

Berita Terkait

Maigus Nasir Resmikan Kampung Budi Daya Ikan Air Tawar di Kelurahan Pisang, 53 Keluarga Terima Bantuan
Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung
Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain
Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan
Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi
Gerakan Pangan Murah Payakumbuh, Cabai Merah Dijual Rp50 Ribu per Kg
Pemko Padang dan UPTD PPD Padang Perkuat Sinergi, Optimalkan PAD Lewat Inovasi Layanan Pajak Kendaraan
Gandeng BRI, Pemko Padang Pacu PAD Lewat Digitalisasi Retribusi dan Pajak Daerah

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:17 WIB

Pemerintah Pangkas Ekspor Gas 8 Persen, Bahlil Pastikan Tak Langgar Kontrak

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Polri Kerahkan 200 Personel Brimob dan 10 Bareskrim Tangani Karhutla di Kalimantan

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Hadapi Kekeringan dan Karhutla, Kemenag Ajak Umat Islam Salat Istisqa

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Operasi Patuh 2026 Dimulai Hari Ini, Korlantas Polri Utamakan Edukasi dan Keselamatan

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Kapolri Ungkap Laboratorium Sabu di Aceh, Hampir 1,2 Ton Narkotika Disita

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:41 WIB

BGN Kembalikan Rp160,37 Miliar ke Kas Negara, Tindak Lanjuti Temuan BPK

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:17 WIB

MUI Desak Pemerintah Segera Putuskan Nasib Konser Andrea Bocelli di Indonesia

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:06 WIB

Kapan Awal Ramadan 2027? KHGT Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh pada 8 Februari

Berita Terbaru