Pasaman, Javanusa—Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi Geothermal Bonjol terus bergerak maju.
Pada pertengahan Juni 2025 ini, proyek yang digarap PT Medco Geothermal Sumatera (MGSu) memasuki fase penting, yakni tahap Parklane atau pengeboran awal.
Namun, Bupati Pasaman Welly Suhery menegaskan kemajuan proyek harus tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat.
Ia meminta setiap permasalahan yang muncul tidak disamaratakan, tapi diklasifikasikan dan ditangani secara spesifik.
“Perusahaan harus tetap beroperasi. Namun masyarakat tidak boleh dirugikan. Semua penyelesaian harus sesuai hukum yang berlaku,” kata Welly Suhery saat sosialisasi jelang persiapan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) Geothermal Bonjol, Kamis (11/6/2025), di Aula Kantor Camat Bonjol.
Pentingnya Investasi, Tapi Stabilitas Harus Dijaga
Dalam arahannya, Bupati menyampaikan pemerintah daerah saat ini sangat membutuhkan investasi.
Hal ini menjadi penting karena alokasi dana pusat ke daerah, seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK), mengalami penurunan akibat efisiensi APBN.
“Pasaman perlu investasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun situasi daerah harus tetap kondusif. Jika ada masalah, mari cari solusi bersama. Investor mendapat keuntungan, masyarakat juga mendapat manfaat,” jelasnya.
Atas nama Pemkab Pasaman, ia juga menyampaikan apresiasi kepada PT MGSu yang telah memilih Pasaman sebagai lokasi investasi energi terbarukan.
Ia menekankan agar proyek ini membuka peluang kerja seluas-luasnya bagi warga lokal.
“Saya sudah bicara langsung dengan manajemen PT Medco. Mereka saya minta memprioritaskan tenaga kerja lokal, terutama dari Bonjol,” ujar Bupati.
Tahap Parklane: Pengeboran dan Pengukuran Potensi Uap
Site Manager PT MGSu, Sigit Widiatmoko, menjelaskan pihaknya sebenarnya sudah merencanakan operasi sejak 2019.
Namun, pandemi Covid-19 menyebabkan penundaan, dan aktivitas baru dimulai pada November 2023.
Setelah pengambilan data lapangan, PT MGSu memulai tahap sosialisasi pembebasan lahan pada Maret 2024, dan dilanjutkan dengan pembangunan akses jalan ke lokasi pengeboran pada Desember 2024. Kini, pada Juni 2025, proyek telah masuk ke fase pengeboran awal atau Parklane.
“Tahap ini penting karena akan menentukan seberapa besar tekanan uap dan suhu panas bumi yang bisa dimanfaatkan,” terang Sigit.
Ia memperkirakan, energi panas bumi dari Geothermal Bonjol memiliki suhu maksimum sekitar 150 derajat Celsius. Termasuk dalam kategori medium low enthalpy, yang mampu menghasilkan listrik hingga 35 kilovolt.
“Energi uap panas inilah yang nantinya menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Namun, seluruh proses akan memakan waktu cukup panjang, hingga sekitar 2032,” jelasnya.
Dua Titik Pengeboran Awal, Fokus pada Keamanan Lingkungan
Pengeboran awal akan dilakukan di dua titik: Bonjol 1 di Kampung Tampang dan Bonjol 3 di Sungai Limau.
Pada Maret lalu, PT MGSu telah membangun tapak sumur serta kolam pengolahan limbah lumpur dari aktivitas pengeboran.
“Tahap pertama pengeboran akan mencapai kedalaman sekitar 1 kilometer,” tambah Sigit.
Acara sosialisasi di Kantor Camat Bonjol juga diisi dengan forum diskusi terbuka antara masyarakat dan pihak PT MGSu.
Berbagai pihak hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Bupati Pasaman, kepala OPD teknis, camat, forkopimca, wali nagari se-Kecamatan Bonjol, Ketua KAN, Ketua Bamus, ninik mamak, tokoh masyarakat, serta unsur pemuda Nagari Ganggo Mudiak. (*/red)






