Jakarta, Javanusa—Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat menjadi 118 titik pada Rabu (28/10/2026).
Papua Selatan menjadi wilayah dengan temuan tertinggi, yakni 84 titik. Meski demikian, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla masih mencatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat peningkatan hotspot nasional. Pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 pada pukul 21.00 WIB menunjukkan 118 titik.
Angka tersebut bertambah 39 titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 79 titik. Seluruh temuan tersebut masuk kategori high confidence atau tingkat kepercayaan tinggi.
Papua Selatan mendominasi sebaran dengan 84 titik. Berikutnya, Kalimantan Timur mencatat 24 titik, Sulawesi Selatan lima titik, Sulawesi Tengah empat titik, dan Sulawesi Barat satu titik.
Di sisi lain, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla masih nihil hotspot selama dua hari berturut-turut. Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa data hotspot tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan terbakar. Satelit mendeteksi anomali suhu permukaan, sehingga petugas tetap membutuhkan pemeriksaan langsung melalui patroli dan groundcheck.
Papua Selatan Berstatus Tanggap Darurat
Tingginya temuan hotspot di Papua Selatan menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla. Berdasarkan Laporan Posko Kementerian Kehutanan, provinsi tersebut masih berstatus tanggap darurat karhutla hingga 28 November 2026.
Sementara itu, laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan per 28 Oktober menunjukkan sejumlah operasi pemadaman masih berlangsung. Kondisi ini terjadi meskipun beberapa provinsi prioritas mencatat nihil hotspot kategori high confidence.
Pemadaman Masih Berlangsung di Jambi dan Sumatera Selatan
Di Jambi, petugas berhasil memadamkan kebakaran di Simpang Terusan, Kabupaten Batang Hari. Namun, operasi masih berlanjut di Simpang Datuk, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan Desa Tanjung, Kabupaten Muaro Jambi.
Kedua lokasi tersebut berada di kawasan lahan gambut. Hingga laporan terakhir, api belum sepenuhnya padam sehingga petugas masih melanjutkan penanganan.
Kondisi serupa terjadi di Sumatera Selatan. Tim berhasil memadamkan api di Timbangan, Kabupaten Ogan Ilir, tetapi kebakaran bawah masih berlangsung di Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat turun pada siang dan sore hari. Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghentikan kebakaran di lahan gambut.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, Regu Pemadam Kebakaran (RPK), dan unsur terkait terus melakukan pemadaman. Strateginya mencakup penyekatan, pemutusan penjalaran api, serta penanganan dari beberapa sisi.
Penanganan Karhutla Berlanjut di Kalimantan dan Sulawesi
Di Kalimantan Selatan, petugas menangani kebakaran di Landasan Ulin Barat, Banjarbaru. Api di area tersebut sudah terkendali, tetapi asap tebal masih muncul di beberapa titik.
Karena itu, tim tetap melakukan pemantauan dan penanganan lanjutan untuk memastikan kondisi benar-benar aman.
Sementara itu, Kalimantan Timur mencatat 24 hotspot kategori high confidence. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama Disdamkarmat, TNI, Polri, Tagana, dan unsur lainnya melakukan pemadaman di Sambaliung, Kabupaten Berau.
Berdasarkan laporan lapangan, petugas telah berhasil memadamkan api di lokasi tersebut sepenuhnya.
Di Sulawesi Tengah, operasi pemadaman masih berlangsung di Desa Berdikari, Kabupaten Sigi, dan Desa Matialemba, Kabupaten Poso. Hingga laporan terakhir, api di kedua lokasi tersebut belum sepenuhnya padam.
Hotspot Nihil Bukan Jaminan Api Padam
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan bahwa ketiadaan hotspot tidak selalu menandakan kebakaran telah selesai. Risiko tersebut terutama berlaku pada kawasan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Bara yang bertahan di dalam gambut berpotensi memicu kebakaran kembali. Oleh sebab itu, petugas tetap melakukan pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan hingga kondisi dinyatakan aman.
Untuk mendukung penanganan, pemerintah juga menyiagakan 61 unit armada udara. Jumlah tersebut terdiri atas 24 pesawat untuk patroli, CASA, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 37 helikopter untuk operasi water bombing.
Menhut Minta Momentum Hujan Dimanfaatkan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya meminta seluruh pihak memanfaatkan potensi hujan hingga awal November. Upaya tersebut bertujuan memperkuat pembasahan kawasan rawan kebakaran, khususnya lahan gambut.
Setelah periode hujan tersebut, pemerintah akan memperkuat patroli gabungan untuk mencegah kemunculan kembali titik api. Arahan itu disampaikan Raja Juli Antoni saat meninjau penanganan karhutla di Jambi pada 27 Oktober bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait.
Dalam pelaksanaannya, Manggala Agni Kementerian Kehutanan berkoordinasi dengan BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan relawan.
Berbagai langkah terus dilakukan, mulai dari patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, hingga pendinginan area bekas kebakaran.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada penurunan jumlah hotspot. Pemerintah harus memastikan api dan bara benar-benar padam, kebakaran tidak berulang, serta dampak asap terhadap masyarakat berkurang.
Selain itu, perlindungan masyarakat, kawasan hutan, dan keanekaragaman hayati tetap menjadi prioritas.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, maupun aktivitas pembakaran dapat segera melaporkannya kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui saluran berikut:
-
- Telepon: 021-5704618
- WhatsApp: +62 8131-00-35000
Pelaporan sejak dini membantu petugas melakukan penanganan lebih cepat sekaligus mencegah kebakaran meluas. (*)






