Indonesia dan Uzbekistan Perkuat Kerja Sama Dagang, Bidik Rantai Nilai Kawasan dan Pasar Asia Tengah

Penulis -

Rabu, 17 Juni 2026 - 22:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wamendag RI Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri pertemuan bilateral tindak lanjut pembentukan JWG Kerja Sama Perdagangan dan Investasi Indonesia-Uzbekistan di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6). (Foto: Kemendag)

Wamendag RI Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri pertemuan bilateral tindak lanjut pembentukan JWG Kerja Sama Perdagangan dan Investasi Indonesia-Uzbekistan di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6). (Foto: Kemendag)

Tashkent, Javanusa—Pemerintah Indonesia menargetkan penguatan rantai nilai kawasan melalui kerja sama ekonomi yang lebih mendalam dengan Uzbekistan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks sekaligus membuka akses pasar baru bagi pelaku usaha kedua negara.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri pertemuan bilateral tindak lanjut pembentukan Joint Working Group (JWG) Kerja Sama Perdagangan dan Investasi Indonesia-Uzbekistan di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6).

Menurut Roro, Uzbekistan memiliki posisi penting sebagai mitra strategis Indonesia di kawasan Asia Tengah. Karena itu, penguatan hubungan perdagangan dan investasi dinilai penting untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan seimbang.

“Indonesia memandang Uzbekistan sebagai mitra strategis utama dan pusat ekonomi penting di kawasan Asia Tengah. Hubungan perdagangan dan investasi kedua negara sangat penting untuk lebih didalami agar menyeimbangkan arsitektur perdagangan dan menciptakan rantai nilai yang lebih tangguh,” kata Roro.

Perdagangan Bilateral Tumbuh Signifikan

Dalam pertemuan tersebut, Roro juga menyoroti kinerja perdagangan kedua negara yang terus menunjukkan tren positif. Ia menyebut nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan telah melampaui USD 100 juta sejak 2023 dan terus mengalami peningkatan.

Sepanjang lima tahun terakhir, nilai perdagangan bilateral tercatat tumbuh 49 persen hingga mencapai USD 181,4 juta pada 2025. Angka tersebut meningkat hampir 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Saya optimistis dengan tren positif perdagangan bilateral kita. Pada 2023, nilai perdagangan kedua negara melampaui USD 100 juta dan terus tumbuh. Omzet perdagangan bilateral meningkat sebesar 49 persen selama lima tahun terakhir hingga mencapai USD 181,4 juta pada 2025,” ujarnya.

Baca Juga :  Peluang Ekspor Kopi Indonesia ke Jepang Masih Besar, Kemendag Dorong UMKM Penuhi Standar Internasional
Negosiasi IU-FTA Jadi Prioritas

Selain membahas perdagangan, kedua negara juga melanjutkan pembahasan Indonesia-Uzbekistan Free Trade Agreement (IU-FTA). Pemerintah Indonesia menilai peluncuran resmi negosiasi IU-FTA pada 2 Maret 2026 menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan ekonomi kedua negara.

Roro mengatakan, perjanjian tersebut akan menghubungkan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan salah satu ekonomi yang berkembang pesat di Asia Tengah. Selain itu, kerja sama ini diyakini dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan arus investasi.

Secara geografis, Uzbekistan memiliki posisi strategis di kawasan Jalur Sutra yang dapat menjadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar Asia Tengah dan Eurasia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi gerbang bagi produk Uzbekistan untuk menjangkau pasar Asia Tenggara.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia mendorong dimulainya pembahasan teknis guna menyusun Kerangka Acuan sebelum putaran negosiasi formal pertama berlangsung.

“Sebagai langkah selanjutnya, Indonesia berharap dapat memulai diskusi tingkat teknis untuk menyelesaikan Kerangka Acuan sebelum mengadakan putaran negosiasi formal pertama. Untuk memfasilitasi proses ini, Indonesia siap memberikan draf awal Kerangka Acuan untuk negosiasi tersebut,” jelasnya.

Dorong Investasi dan Pemberdayaan UKM

Di sektor investasi, Indonesia menyambut meningkatnya minat investor Uzbekistan untuk menanamkan modal di Tanah Air. Pemerintah melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk memperluas kolaborasi pada berbagai bidang ekonomi.

Beberapa sektor yang dinilai potensial meliputi pertanian, pupuk, manufaktur, energi terbarukan, pariwisata, industri halal, hingga ekonomi digital.

“Ke depan, Indonesia mendorong kerja sama yang lebih erat antara otoritas investasi dan komunitas bisnis untuk mengidentifikasi peluang baru di sektor-sektor strategis,” kata Roro.

Pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama antarpelaku usaha serta pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM). Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi UKM kedua negara untuk menembus pasar internasional.

Baca Juga :  Menhub Pastikan Distribusi Logistik Lancar Saat Mudik Lebaran 2026

Roro menegaskan keterlibatan dunia usaha menjadi faktor penting dalam mengubah kesepakatan antar pemerintah menjadi kerja sama bisnis yang konkret.

Uzbekistan Dukung Penguatan Kerja Sama

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan, Ibrohim Ergashev, mengusulkan sejumlah agenda pembahasan untuk pertemuan perdana JWG tingkat pejabat senior dalam waktu dekat.

Forum tersebut akan difokuskan pada penguatan kerja sama perdagangan barang dan jasa, investasi, serta sektor ekonomi lainnya yang memiliki potensi berkembang.

Ibrohim juga menyatakan dukungan terhadap program pemberdayaan UMKM, termasuk peningkatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar bagi UKM yang dimiliki serta dikelola perempuan.

Neraca Perdagangan Indonesia-Uzbekistan

Berdasarkan data 2025, total perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai USD 181,4 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD 72,6 juta dan impor sebesar USD 108,8 juta.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Uzbekistan meliputi margarin, minyak dan lemak hewani maupun nabati, minyak kelapa kopra, sabun, produk aktif permukaan organik, serta kertas dan karton tidak dilapisi.

Sementara itu, produk utama yang diimpor Indonesia dari Uzbekistan antara lain pupuk berbasis kalium, pulp serat, aluminium tidak ditempa, mesin dan peralatan listrik, serta kabel dan kawat berinsulasi termasuk kabel koaksial. (*/red)

Berita Terkait

Maigus Nasir Resmikan Kampung Budi Daya Ikan Air Tawar di Kelurahan Pisang, 53 Keluarga Terima Bantuan
Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung
Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain
Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan
Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi
Gerakan Pangan Murah Payakumbuh, Cabai Merah Dijual Rp50 Ribu per Kg
Pemko Padang dan UPTD PPD Padang Perkuat Sinergi, Optimalkan PAD Lewat Inovasi Layanan Pajak Kendaraan
Gandeng BRI, Pemko Padang Pacu PAD Lewat Digitalisasi Retribusi dan Pajak Daerah

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:02 WIB

Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Gerakan Pangan Murah Payakumbuh, Cabai Merah Dijual Rp50 Ribu per Kg

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Pemko Padang dan UPTD PPD Padang Perkuat Sinergi, Optimalkan PAD Lewat Inovasi Layanan Pajak Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Gandeng BRI, Pemko Padang Pacu PAD Lewat Digitalisasi Retribusi dan Pajak Daerah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Optimalkan PAD Lewat Digitalisasi, Pemko Padang Jajaki Kerja Sama dengan BRI

Berita Terbaru