Tashkent, Javanusa—Pemerintah Indonesia menargetkan penguatan rantai nilai kawasan melalui kerja sama ekonomi yang lebih mendalam dengan Uzbekistan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks sekaligus membuka akses pasar baru bagi pelaku usaha kedua negara.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri saat menghadiri pertemuan bilateral tindak lanjut pembentukan Joint Working Group (JWG) Kerja Sama Perdagangan dan Investasi Indonesia-Uzbekistan di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6).
Menurut Roro, Uzbekistan memiliki posisi penting sebagai mitra strategis Indonesia di kawasan Asia Tengah. Karena itu, penguatan hubungan perdagangan dan investasi dinilai penting untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan seimbang.
“Indonesia memandang Uzbekistan sebagai mitra strategis utama dan pusat ekonomi penting di kawasan Asia Tengah. Hubungan perdagangan dan investasi kedua negara sangat penting untuk lebih didalami agar menyeimbangkan arsitektur perdagangan dan menciptakan rantai nilai yang lebih tangguh,” kata Roro.
Perdagangan Bilateral Tumbuh Signifikan
Dalam pertemuan tersebut, Roro juga menyoroti kinerja perdagangan kedua negara yang terus menunjukkan tren positif. Ia menyebut nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan telah melampaui USD 100 juta sejak 2023 dan terus mengalami peningkatan.
Sepanjang lima tahun terakhir, nilai perdagangan bilateral tercatat tumbuh 49 persen hingga mencapai USD 181,4 juta pada 2025. Angka tersebut meningkat hampir 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saya optimistis dengan tren positif perdagangan bilateral kita. Pada 2023, nilai perdagangan kedua negara melampaui USD 100 juta dan terus tumbuh. Omzet perdagangan bilateral meningkat sebesar 49 persen selama lima tahun terakhir hingga mencapai USD 181,4 juta pada 2025,” ujarnya.
Negosiasi IU-FTA Jadi Prioritas
Selain membahas perdagangan, kedua negara juga melanjutkan pembahasan Indonesia-Uzbekistan Free Trade Agreement (IU-FTA). Pemerintah Indonesia menilai peluncuran resmi negosiasi IU-FTA pada 2 Maret 2026 menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan ekonomi kedua negara.
Roro mengatakan, perjanjian tersebut akan menghubungkan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan salah satu ekonomi yang berkembang pesat di Asia Tengah. Selain itu, kerja sama ini diyakini dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan arus investasi.
Secara geografis, Uzbekistan memiliki posisi strategis di kawasan Jalur Sutra yang dapat menjadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar Asia Tengah dan Eurasia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi gerbang bagi produk Uzbekistan untuk menjangkau pasar Asia Tenggara.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mendorong dimulainya pembahasan teknis guna menyusun Kerangka Acuan sebelum putaran negosiasi formal pertama berlangsung.
“Sebagai langkah selanjutnya, Indonesia berharap dapat memulai diskusi tingkat teknis untuk menyelesaikan Kerangka Acuan sebelum mengadakan putaran negosiasi formal pertama. Untuk memfasilitasi proses ini, Indonesia siap memberikan draf awal Kerangka Acuan untuk negosiasi tersebut,” jelasnya.
Dorong Investasi dan Pemberdayaan UKM
Di sektor investasi, Indonesia menyambut meningkatnya minat investor Uzbekistan untuk menanamkan modal di Tanah Air. Pemerintah melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk memperluas kolaborasi pada berbagai bidang ekonomi.
Beberapa sektor yang dinilai potensial meliputi pertanian, pupuk, manufaktur, energi terbarukan, pariwisata, industri halal, hingga ekonomi digital.
“Ke depan, Indonesia mendorong kerja sama yang lebih erat antara otoritas investasi dan komunitas bisnis untuk mengidentifikasi peluang baru di sektor-sektor strategis,” kata Roro.
Pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama antarpelaku usaha serta pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM). Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi UKM kedua negara untuk menembus pasar internasional.
Roro menegaskan keterlibatan dunia usaha menjadi faktor penting dalam mengubah kesepakatan antar pemerintah menjadi kerja sama bisnis yang konkret.
Uzbekistan Dukung Penguatan Kerja Sama
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan, Ibrohim Ergashev, mengusulkan sejumlah agenda pembahasan untuk pertemuan perdana JWG tingkat pejabat senior dalam waktu dekat.
Forum tersebut akan difokuskan pada penguatan kerja sama perdagangan barang dan jasa, investasi, serta sektor ekonomi lainnya yang memiliki potensi berkembang.
Ibrohim juga menyatakan dukungan terhadap program pemberdayaan UMKM, termasuk peningkatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar bagi UKM yang dimiliki serta dikelola perempuan.
Neraca Perdagangan Indonesia-Uzbekistan
Berdasarkan data 2025, total perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai USD 181,4 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD 72,6 juta dan impor sebesar USD 108,8 juta.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke Uzbekistan meliputi margarin, minyak dan lemak hewani maupun nabati, minyak kelapa kopra, sabun, produk aktif permukaan organik, serta kertas dan karton tidak dilapisi.
Sementara itu, produk utama yang diimpor Indonesia dari Uzbekistan antara lain pupuk berbasis kalium, pulp serat, aluminium tidak ditempa, mesin dan peralatan listrik, serta kabel dan kawat berinsulasi termasuk kabel koaksial. (*/red)






