Cebu, Javanusa—Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) menegaskan ASEAN perlu tetap terbuka dan tangguh. Ia menyoroti meningkatnya ketidakpastian global akibat geopolitik dan gangguan rantai pasok.
Ia menilai koordinasi antara pilar ekonomi dan politik ASEAN menjadi kunci utama. Langkah ini penting agar kawasan mampu merespons guncangan global secara cepat, terukur, dan kolektif.
Pernyataan tersebut disampaikan Mendag Busan dalam Pertemuan Gabungan Menteri Luar Negeri dan Menteri Ekonomi ASEAN (Joint AMM-AEM) di Cebu, Filipina, Rabu (7/5).
Forum ini membahas kondisi ekonomi global dan regional. Para menteri juga mengkaji dampak krisis Timur Tengah terhadap stabilitas kawasan ASEAN.
Pertemuan ini berlangsung dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Mendag Busan hadir bersama Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Johni Martha.
ASEAN Harus Tetap Terbuka dan Tangguh
Mendag Busan menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan dunia internasional. Ia meminta ASEAN menunjukkan kawasan yang tetap terbuka dan stabil.
“ASEAN perlu menunjukkan kepada komunitas bisnis dan internasional bahwa kawasan ini tetap terbuka, tangguh, dan mampu menjaga stabilitas perdagangan serta rantai pasok di tengah ketidakpastian geopolitik global,” ujar Busan.
Penguatan Ketahanan Energi dan Pangan Jadi Prioritas
Indonesia mendorong penguatan kerja sama ketahanan energi dan pangan ASEAN. Langkah ini menjadi prioritas strategis untuk menjaga stabilitas kawasan.
Upaya tersebut membantu menjaga produksi, keamanan pasokan, dan kelancaran distribusi barang esensial.
Selain itu, Indonesia menekankan diversifikasi sumber energi. ASEAN juga perlu memperkuat sistem peringatan dini dan pertukaran informasi antarnegara.
Langkah ini membantu kawasan mengantisipasi krisis pangan dan energi di masa depan secara lebih cepat.
Dorong Integrasi Perdagangan Intra-ASEAN
Indonesia juga mendorong penguatan perdagangan intra-ASEAN. Salah satu langkahnya melalui percepatan ratifikasi Second Protocol ATIGA.
Upaya ini memperkuat rantai pasok di tengah fragmentasi ekonomi global yang semakin meningkat.
“Penguatan perdagangan intra-ASEAN dan fasilitasi perdagangan menjadi instrumen penting untuk menjaga kelancaran arus pangan, energi, dan barang kebutuhan pokok bagi masyarakat kawasan,” kata Busan.
Perluas Kerja Sama dengan Mitra Strategis
Indonesia menekankan pentingnya perluasan kerja sama perdagangan ASEAN dengan mitra global. Fokusnya mencakup percepatan ASEAN–Canada Free Trade Agreement (ACaFTA).
Selain itu, Indonesia juga mendorong optimalisasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Langkah ini memperkuat posisi ASEAN dalam perdagangan global yang semakin kompetitif.
Perlindungan Masyarakat Jadi Fokus Utama
Indonesia menegaskan kebijakan ASEAN harus berpihak pada masyarakat. Perlindungan kelompok rentan menjadi perhatian utama.
Petani dan pelaku UMKM perlu mendapat dukungan agar tidak terdampak krisis global secara berlebihan.
“ASEAN harus mampu membangun solusi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat ketahanan kawasan, tetapi juga melindungi masyarakat, khususnya petani dan UMKM,” ujar Busan.
ASEAN CORE Perkuat Respons Krisis
Indonesia mendukung pengembangan ASEAN Coordinated Response for Enduring Resilience (ASEAN CORE). Mekanisme ini mempercepat respons krisis lintas sektor.
Sistem ini diharapkan membuat ASEAN lebih siap menghadapi krisis multidimensi di masa depan.
Rekomendasi Kebijakan dari ERIA dan ASEAN-BAC
Dalam forum tersebut, para menteri juga menerima masukan kebijakan. Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan ASEAN-BAC memberikan rekomendasi strategis.
Masukan tersebut memperkuat upaya ASEAN dalam menjaga ketahanan kawasan di tengah dinamika global yang terus berubah. (*/red)






