Jakarta, Javanusa—Indonesia dan Jerman memegang peran penting di kawasan masing-masing sebagai penggerak ekonomi utama. Jerman menjadi kekuatan besar di Uni Eropa, sementara Indonesia berpengaruh di Asia Tenggara.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan hal itu dalam acara Evening Reception with Business Talk: Germany and Indonesia, Opportunities for a Deeper Partnership di Jakarta, Kamis (30/4).
Roro menegaskan kedua negara harus mempererat kemitraan strategis demi mendorong perdagangan yang saling menguntungkan.
Ia juga menilai hubungan bilateral perlu diperkuat melalui langkah kolaboratif yang konkret.
Perdagangan dan Ekspor Tunjukkan Tren Positif
Roro menjelaskan Jerman menjadi salah satu mitra strategis utama Indonesia. Pemerintah Indonesia telah membentuk dua perwakilan perdagangan di Jerman untuk memperkuat hubungan ekonomi.
Perwakilan tersebut meliputi Atase Perdagangan di Berlin dan Indonesian Trade Promotion Center di Hamburg.
Langkah ini bertujuan memperluas akses pasar dan meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Ekspor industri mesin cetak Indonesia ke Jerman mencapai lebih dari USD 281 juta pada 2025.
Selain itu, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah mencatat nilai USD 243 juta dengan pertumbuhan 175 persen.
Di sisi lain, Jerman mengekspor pipa dan tabung baja ke Indonesia senilai USD 215 juta pada 2025. Nilai tersebut tumbuh 225 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data ini menunjukkan struktur perdagangan kedua negara saling melengkapi dan terus berkembang.
I-EU CEPA Dorong Peluang Lebih Luas
Roro menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama perdagangan secara lebih luas.
Ia menyebut Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) menjadi instrumen penting.
Perjanjian tersebut saat ini memasuki tahap akhir peninjauan hukum. Pemerintah menargetkan penandatanganan pada akhir 2026 dan implementasi pada awal 2027.
Roro optimistis I-EU CEPA akan memberikan kepastian hukum dan insentif strategis bagi pelaku usaha.
Perjanjian ini juga membuka peluang bagi UMKM untuk mengakses pasar global yang lebih luas.
Selain itu, pelaku bisnis Jerman dapat memperkuat investasi di sektor energi, bahan baku, dan industri hijau di Indonesia.
Kerja Sama Merambah Sektor Jasa Profesional
Kemitraan Indonesia dan Jerman kini berkembang hingga sektor jasa profesional. Pemerintah mendorong kolaborasi penempatan tenaga kerja terampil ke luar negeri.
Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran menempatkan 4.000 tenaga kerja Indonesia di Jerman. Tenaga kerja tersebut akan mengisi sektor perhotelan, ritel, dan kesehatan.
Roro menyebut program ini sebagai bukti transformasi kemitraan menjadi lebih komprehensif. Kerja sama kini mencakup mobilitas talenta dan pengembangan sumber daya manusia.
Hubungan Bilateral Kian Kuat
Anggota parlemen Jerman, Thomas Bareiß, menyatakan hubungan Indonesia dan Jerman telah terjalin lebih dari 60 tahun. Hubungan tersebut dibangun atas dasar kepercayaan dan kepentingan ekonomi bersama.
Saat ini, sekitar 300 perusahaan Jerman beroperasi di Indonesia dari berbagai skala usaha. Ia meyakini kehadiran I-EU CEPA akan memperkuat perdagangan dan investasi kedua negara.
Nilai Perdagangan Capai USD 860,6 Juta
Total perdagangan Indonesia dan Jerman pada Januari hingga Februari 2026 mencapai USD 860,6 juta. Ekspor Indonesia ke Jerman tercatat sebesar USD 331,1 juta.
Sementara itu, impor Indonesia dari Jerman mencapai USD 529,5 juta. Angka tersebut menunjukkan hubungan ekonomi kedua negara terus tumbuh secara signifikan. (*/red)






