Pessel, Javanusa—Cabang Olahraga Senam Kreasi Indonesia (IOSKI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) berhasil mencatat prestasi membanggakan pada Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 26 Juli–1 Agustus 2025.
Lima atlet IOSKI Pessel meraih medali perunggu pada kategori senam kreasi beregu campuran, salah satu kategori tersulit di ajang tersebut.
Mereka adalah Oktilova Nurmalia, Cici Kardi, Triwana, Hari, dan Irgo. Mereka tampil memukau dalam kompetisi yang diikuti peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.
Ketua IOSKI Pessel, Oktilova Nurmalia yang akrab disapa Bunga, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, raihan medali ini adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan latihan disiplin para atlet selama berbulan-bulan.
“Kami mengikuti kategori senam kreasi beregu campuran, dimana kekompakan, koreografi, dan ekspresi menjadi penilaian utama. Ini tantangan berat, tapi kami buktikan bisa,” ujar Bunga, Kamis (28/8/25) di Painan.
Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat perjuangan besar dalam hal pendanaan. Bunga mengungkapkan keberangkatan kontingen IOSKI Pessel ke Lombok dilakukan dengan dukungan minim dari pemerintah daerah. Hanya terdapat bantuan sebesar Rp 20 juta dari Pemda.
Sementara kebutuhan sisanya dipenuhi melalui swadaya para atlet, official, serta dukungan dari para pemerhati olahraga. Bahkan, sebagian besar biaya transportasi dan akomodasi harus ditanggung dari dana pribadi oleh para atlet dan pendamping.
“Kami sempat meminta bantuan kepada KORMI, karena secara struktur, IOSKI adalah inorga di bawah naungan KORMI. Namun, mereka menyatakan tidak memiliki anggaran untuk memberangkatkan atlet. Ini sangat disayangkan, karena seharusnya KORMI bertanggung jawab atas keberangkatan inorga binaannya,” jelas Bunga.
Bunga berharap pada pelaksanaan Fornas ke-IX tahun 2027 mendatang yang akan digelar di Sulawesi Tengah, pemerintah daerah bisa memberikan dukungan yang lebih nyata dan terencana.
“Kami punya semangat dan kemampuan. Tapi kami butuh dukungan pemerintah, minimal dalam bentuk bantuan dana hibah untuk keberangkatan, pelatihan, dan perlengkapan,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Pessel, Gestrojoni menyampaikan apresiasinya atas capaian atlet IOSKI pada Fornas VIII tersebut. Ia menilai pencapaian itu luar biasa, mengingat keterbatasan fasilitas dan dukungan yang dimiliki.
“Mereka membawa nama Pessel di panggung nasional dengan perjuangan luar biasa. Ini bukti olahraga masyarakat punya potensi besar,” ujar Gestrojoni.
Gestrojoni menegaskan bahwa IOSKI adalah bagian dari olahraga masyarakat yang menyehatkan dan mengandung nilai seni, sehingga sangat layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Ini bukan olahraga kompetisi biasa, tapi juga budaya dan kesehatan masyarakat. Makanya sangat layak mendapatkan perhatian lebih,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan ini adalah kali kedua Pessel mengikuti ajang Fornas. Pada Fornas VII di Bandung, tim IOSKI juga berpartisipasi meski belum berhasil meraih medali.
“Dulu di Bandung kita ikut, tapi belum dapat medali. Sekarang kita buktikan bisa. Ini progres yang luar biasa,” ucap Gestrojoni dengan bangga.
Selain IOSKI, pada Fornas VIII di Lombok, KORMI Pessel juga mengirimkan cabang olahraga Line Dance. Namun, cabor tersebut belum berhasil meraih prestasi pada kejuaraan tersebut.
Meski begitu, Gestrojoni menyatakan optimismenya terhadap potensi seluruh cabang olahraga masyarakat di bawah naungan KORMI. Ia menekankan pembinaan menyeluruh akan dilakukan agar ke depan lebih siap menghadapi kompetisi tingkat nasional.
“Kami punya potensi besar di Line Dance, Yoga, SKJ, Zumba, dan lainnya. Semua akan kita bina agar siap menghadapi ajang nasional,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung olahraga masyarakat, khususnya melalui alokasi dana hibah untuk pelatihan, event, dan keberangkatan.
“Kalau hanya mengandalkan swadaya, sulit untuk berkembang maksimal. Pemkab harus mulai memprioritaskan olahraga masyarakat sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” tegas Gestrojoni.
Menurutnya, proposal hibah sudah diajukan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, namun hingga saat ini belum ada realisasi yang signifikan.
“Ini momentum yang tepat. Kalau sekarang kita sudah bisa meraih medali dengan keterbatasan, bayangkan jika ada dukungan penuh. Kita bisa targetkan medali emas di Fornas XI nanti,” ungkapnya optimis.
Gestrojoni menyimpulkan prestasi IOSKI Pessel adalah bukti nyata olahraga masyarakat memiliki potensi besar untuk mengangkat nama daerah di kancah nasional, dan harus disertai dengan dukungan konkret dari pemerintah.
“Dukungan itu kunci untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian prestasi ke depan,” tutupnya. (yoniks)






