Jakarta, Javanusa—Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat penetrasi pasar Korea Selatan melalui Indonesia Sales Mission 2026 yang digelar di Busan dan Gwangju pada 10–12 Juni 2026.
Program promosi ini menghasilkan potensi kunjungan 3.470 wisatawan serta peluang devisa sekitar Rp9,4 miliar.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Kemenpar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara berkualitas dari Korea Selatan, yang selama ini menjadi salah satu pasar prioritas bagi sektor pariwisata Indonesia.
Perkuat Kemitraan Industri Pariwisata Indonesia-Korea Selatan
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan Indonesia Sales Mission 2026 merupakan rangkaian kegiatan promosi yang terhubung dengan Seoul International Travel Fair (SITF) 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk mempererat hubungan bisnis antara pelaku industri pariwisata Indonesia dan Korea Selatan sekaligus memperluas peluang pemasaran destinasi unggulan Indonesia.
“Melalui sales mission ini, kami ingin memperkuat kerja sama antara pelaku industri pariwisata Indonesia dan Korea Selatan sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan berkualitas yang memiliki minat terhadap produk wisata luxury, marine, wellness, dan gastronomi Indonesia,” ujar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/6).
Kunjungan Wisatawan Korea Selatan Terus Meningkat
Kemenpar mencatat tren kunjungan wisatawan asal Korea Selatan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sepanjang 2025, sebanyak 496.862 wisatawan Korea Selatan berkunjung ke Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat 13,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan itu menjadi dasar bagi pemerintah untuk terus memperkuat promosi yang lebih terarah dan berbasis kemitraan strategis.
Untuk mendukung target tersebut, Kemenpar bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan.
Promosikan Destinasi Unggulan Indonesia
Dalam kegiatan tersebut, Kemenpar menggandeng delapan pelaku industri pariwisata Indonesia untuk memasarkan berbagai destinasi unggulan kepada calon mitra bisnis di Korea Selatan.
Destinasi yang dipromosikan meliputi Bali, Batam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Jawa Timur, serta Jakarta.
Selama pelaksanaan program, para pelaku industri dari Indonesia mengikuti sesi business matching dan tabletop meeting dengan sekitar 27 hingga 30 buyer potensial.
Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama baru dalam pengembangan paket wisata dan promosi destinasi Indonesia di pasar Korea Selatan.
“Pelaksanaan sales mission di Busan dan Gwangju menghasilkan potensi kunjungan wisatawan sebanyak 3.470 orang dengan estimasi potensi devisa sekitar Rp9,4 miliar. Capaian ini menunjukkan tingginya minat pasar Korea Selatan terhadap destinasi dan produk pariwisata Indonesia,” kata Made.
Teken MoU dengan Asosiasi Pariwisata Gwangju
Selain agenda promosi dan pertemuan bisnis, Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Gwangju Metropolitan City Tourism Association (GMCTA).
Kesepakatan tersebut diharapkan memperkuat sinergi promosi pariwisata kedua pihak melalui penyelenggaraan kegiatan business-to-business (B2B), seminar, travel mart, hingga pertukaran informasi terkait perkembangan pasar wisata.
Melalui penguatan kolaborasi internasional dan kemitraan industri, Kemenpar optimistis dapat memperluas akses pasar di Korea Selatan.
Upaya ini sekaligus meningkatkan daya saing destinasi Indonesia dan mendorong pertumbuhan wisatawan berkualitas yang memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional. (*/red)






