Jakarta, Javanusa—Di tengah tantangan ekonomi global, industri fesyen dan kriya nasional tetap menunjukkan kinerja yang positif. Produktivitas, inovasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pasar menjadi modal utama sektor ini untuk terus bertumbuh.
Untuk memperkuat momentum tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian menggelar Kick Off Program Creative Business Incubator (CBI) 2026 secara daring pada Senin (20/7). Program pembinaan ini dijalankan oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK).
CBI menghadirkan kurikulum terstruktur yang mencakup pembelajaran, tugas mandiri, evaluasi, hingga business pitching. Seluruh proses pendampingan melibatkan akademisi dan praktisi berpengalaman di bidang fesyen dan kriya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah terus memperluas program pembinaan agar pelaku IKM mampu berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.
“Tantangan saat ini bukan hanya menciptakan wirausaha baru, tetapi memastikan pelaku IKM berkembang menjadi usaha yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/7).
Menurut Agus, penguatan rantai pasok dalam negeri menjadi faktor penting agar IKM semakin terhubung, memanfaatkan bahan baku lokal, serta menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.
Ia juga menilai pendampingan usaha memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas pelaku IKM.
“Program pendampingan bukan sekadar pelengkap. Mentorship menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, memperkuat karakter kewirausahaan, sekaligus menjadi mitra diskusi dalam menghadapi tantangan bisnis, khususnya pada tahap awal pengembangan usaha,” katanya.
Kinerja Industri Fesyen dan Kriya Terus Meningkat
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengungkapkan sektor fesyen dan kriya mencatat pertumbuhan yang menggembirakan sepanjang awal 2026.
Pada Triwulan I 2026, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sektor tersebut mencapai Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan industrinya juga naik dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.
Selain itu, ekspor sektor fesyen dan kriya ikut mencatat hasil positif. Selama Januari-April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD228 juta, industri pakaian jadi sebesar USD2,78 miliar, sedangkan industri tekstil menyumbang USD1,04 miliar.
“Capaian tersebut menjadi peluang bagi IKM fesyen dan kriya untuk terus meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, serta memperluas akses pasar sehingga mampu naik kelas dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global,” ujar Reni.
Ia menjelaskan CBI menjadi salah satu instrumen pembinaan yang membantu pelaku usaha membangun fondasi bisnis yang lebih kuat, mulai dari pengembangan produk hingga strategi ekspansi pasar.
“Creative Business Incubator merupakan salah satu instrumen pembinaan yang kami siapkan untuk membantu pelaku IKM memperkuat fondasi bisnisnya. Kami ingin para peserta tidak hanya memiliki produk yang berkualitas, tetapi juga mampu membangun model bisnis yang berkelanjutan, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai tambah usahanya,” kata Reni.
Alumni CBI Berhasil Menembus Pasar Ekspor
Reni menilai keberhasilan alumni menjadi bukti efektivitas program inkubasi bisnis yang dijalankan Kemenperin.
Salah satunya adalah Seminyak Leather, alumni CBI 2020 asal Badung, yang kini telah memperluas pasar hingga Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Timur Tengah.
Sementara itu, Rappo, alumni CBI 2024 dari Makassar, berhasil menjalin kolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon melalui inovasi produk berbahan limbah plastik yang mendukung pengembangan ekonomi sirkular.
Menurut Reni, berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa pendampingan mampu meningkatkan kapasitas produksi, omzet usaha, sekaligus mendorong pelaku IKM naik kelas dari skala mikro menjadi kecil maupun dari kecil menjadi menengah.
“Mari manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas jejaring, memperkuat inovasi, dan membangun kolaborasi yang dapat membawa usaha naik kelas,” ujarnya.
Seleksi CBI 2026 Dibuka hingga 14 Agustus
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto mengatakan peserta CBI 2026 akan mengikuti pembelajaran komprehensif melalui materi, diskusi interaktif, tugas mandiri, serta evaluasi untuk memperkuat kemampuan bisnis.
“CBI kami hadirkan sebagai ruang belajar, berkolaborasi, dan bertumbuh bagi pelaku IKM fesyen dan kriya,” kata Dickie.
Kick off program diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari pelaku IKM, asosiasi, akademisi, serta pemerintah daerah, baik secara daring maupun luring.
Pendaftaran dibuka secara daring melalui tautan bit.ly/daftarCBI2026 hingga 14 Agustus 2026. Setelah lolos seleksi administrasi dan wawancara, peserta akan mengikuti orientasi, pembelajaran daring dan luring, hingga presentasi akhir serta business pitching.
Sebanyak 20 IKM akan mengikuti tahap pembelajaran daring. Dari jumlah tersebut, delapan peserta terbaik akan melanjutkan pembelajaran tatap muka di Bali berdasarkan hasil evaluasi dan kurasi.
Dickie berharap program ini mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha yang inovatif dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.
“Semoga melalui Program Creative Business Incubator 2026 akan lahir semakin banyak pelaku IKM fesyen dan kriya yang inovatif, tangguh, dan siap berkembang menjadi unit usaha yang mampu memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi dan industri nasional,” tuturnya.
Selama program berlangsung, peserta juga akan memperoleh materi mengenai penguatan sistem operasional, penyusunan standar operasional bisnis, peningkatan proses bisnis, pengendalian mutu, hingga identifikasi hambatan produksi agar kapasitas usaha meningkat tanpa mengurangi kualitas produk. (*)






