Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan industri kendaraan niaga nasional menyusul meningkatnya impor dan ketidakseimbangan pasokan dalam negeri.
Upaya ini untuk menjaga peran sektor transportasi sebagai penopang sistem logistik dan distribusi barang di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, menyatakan sepanjang 2025 sektor industri alat transportasi berkontribusi sebesar 1,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Sementara itu, subsektor perdagangan kendaraan bermotor dan jasa reparasi mencatat kontribusi 2,02 persen terhadap PDB.
“Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang, layanan purna jual, serta peremajaan armada kendaraan niaga di berbagai sektor usaha,” kata Eko saat membuka pameran GIICOMVEC 2026 di Jakarta, Rabu (8/4).
Dari sisi permintaan, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78 persen pada 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan kendaraan niaga untuk mendukung sistem logistik nasional.
Namun, Kemenperin mencatat sejumlah tantangan struktural. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan produksi kendaraan niaga pada 2025 turun 3,5 persen menjadi 164 ribu unit, dari hampir 170 ribu unit pada 2024. Penurunan ini berdampak pada tingkat utilisasi industri yang berada di kisaran 58 persen.
Selain itu, terjadi selisih sekitar 4.000 unit antara produksi domestik dan kebutuhan pasar pada 2025. Kekurangan pasokan tersebut diisi oleh kendaraan impor.
“Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan pasokan domestik yang perlu direspons melalui penguatan struktur industri dan peningkatan efisiensi produksi,” ujar Eko.
Kemenperin juga mendukung kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (Zero ODOL) melalui penguatan standar teknis kendaraan, percepatan sertifikasi, serta integrasi data kendaraan dalam sistem nasional.
Di sisi lain, pemerintah menyoroti praktik transaksi kendaraan tanpa dokumen resmi yang berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di sektor pembiayaan.
Peredaran truk impor yang tidak melalui proses homologasi dan diduga tidak memenuhi standar emisi Euro 4 juga menjadi perhatian. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi persaingan usaha dan pengendalian pencemaran udara.
Pameran GIICOMVEC 2026 menghadirkan 14 merek kendaraan komersial dan lebih dari 35 industri pendukung.
Kegiatan ini menjadi ajang business-to-business yang mempertemukan pelaku industri dan pengguna untuk memperkuat rantai pasok sektor kendaraan niaga.
Kemenperin berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan dapat meningkatkan efisiensi, utilisasi industri, serta pengembangan teknologi kendaraan komersial.
Sementara itu, Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika menyebut kendaraan komersial berperan penting dalam distribusi barang dan mobilitas publik.
Data GAIKINDO menunjukkan ekspor kendaraan utuh (CBU) Indonesia pada 2025 mencapai 518.212 unit, meningkat 9,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang 20.326 unit.
GAIKINDO menargetkan lebih dari 11 ribu pengunjung profesional pada GIICOMVEC 2026 sebagai upaya memperluas pasar kendaraan komersial Indonesia di tingkat global. (*/red)






