Kementan Perkuat Industri Vaksin Nasional, Produk Unggas Indonesia Tembus 29 Negara

Penulis -

Jumat, 25 September 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelepasan ekspor perdana vaksin PT Vaksindo Satwa Nusantara ke empat negara Afrika di Bogor, Kamis (24/9/2026). (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Pelepasan ekspor perdana vaksin PT Vaksindo Satwa Nusantara ke empat negara Afrika di Bogor, Kamis (24/9/2026). (Foto: Ditjen PKH Kementan)

Jakarta, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat industri vaksin hewan dalam negeri untuk menjaga kesehatan unggas sekaligus menopang keberlanjutan produksi pangan nasional.

Saat ini, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan vaksin Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND) dari produksi domestik, bahkan memasarkannya ke luar negeri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan kapasitas industri vaksin nasional terus berkembang.

Menurut Agung, Indonesia kini tidak lagi bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan vaksin AI dan ND. Produk tersebut bahkan telah berhasil menembus pasar internasional.

“Untuk vaksin AI dan ND, kita tidak lagi bergantung pada impor. Kebutuhan kita sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan produk tersebut sudah bisa kita ekspor. Ini menunjukkan kemampuan industri vaksin nasional semakin kuat,” ujar Agung saat pelepasan ekspor perdana vaksin PT Vaksindo Satwa Nusantara ke empat negara Afrika di Bogor, Kamis (24/9/2026).

Kemampuan tersebut memiliki nilai strategis bagi sektor peternakan. Sebab, kesehatan unggas berkaitan langsung dengan kesinambungan produksi daging ayam dan telur.

Agung menjelaskan, ketersediaan protein hewani tidak hanya bergantung pada kemampuan peternak meningkatkan produksi. Sistem kesehatan hewan dan penerapan vaksinasi juga memegang peranan penting.

“Kecukupan protein hewani kita, khususnya daging ayam dan telur, bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi ternaknya. Di belakang produksi yang terjaga, ada sistem kesehatan hewan dan penggunaan vaksin yang baik,” katanya.

Pengalaman Hadapi AI Jadi Modal Indonesia

Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menangani Avian Influenza sejak 2003. Pengalaman tersebut mendorong pemerintah mengembangkan strategi vaksinasi yang sesuai dengan kondisi peternakan nasional.

Menurut Agung, Indonesia memilih vaksinasi AI sebagai salah satu langkah untuk melindungi populasi unggas sekaligus mempertahankan kesinambungan produksi.

Baca Juga :  Gudang Bulog Segera Dibangun di Dharmasraya, Pemkab Hibahkan Lahan 5.800 Meter Persegi

“Kita memilih vaksinasi karena melihat kondisi Indonesia. Hasilnya, kesehatan unggas dapat terus dijaga dan produksi juga tetap berjalan secara konsisten. Pengalaman ini sekarang juga menjadi referensi yang dibagikan Indonesia kepada negara lain,” ujar Agung.

Pendekatan tersebut mulai mendapat perhatian dari sejumlah negara. Beberapa negara yang sebelumnya tidak menerapkan vaksinasi AI kini mulai menggunakan strategi serupa untuk memperkuat perlindungan terhadap populasi unggas.

Bagi Kementan, pengalaman itu memperlihatkan hubungan erat antara kebijakan kesehatan hewan dan ketahanan pangan. Perlindungan terhadap ternak menjadi bagian penting untuk menjaga pasokan pangan asal hewan.

Produk Obat Hewan Indonesia Masuk 95 Negara

Penguatan industri kesehatan hewan juga terlihat dari semakin luasnya pasar ekspor produk obat hewan Indonesia.

Saat ini, produk obat hewan nasional telah dipasarkan ke 95 negara. Sementara itu, PT Vaksindo Satwa Nusantara telah mengekspor produknya ke 29 negara dan terus membuka pasar baru.

Dalam kegiatan ekspor di Bogor, Vaksindo melepas pengiriman perdana vaksin unggas menuju Zambia, Uganda, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo. Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar Rp1,9 miliar.

Agung menjelaskan, produsen harus melewati berbagai tahapan sebelum produknya dapat masuk ke pasar negara lain. Persyaratan tersebut mencakup standar teknis, ketentuan internasional, evaluasi dokumen, hingga audit fasilitas produksi di sejumlah negara.

“Kalau produk kita dapat diterima negara lain, artinya standar dan kualitasnya telah melalui proses penilaian. Semakin banyak negara yang menerima produk Indonesia, semakin kuat pula pengakuan terhadap kualitas industri vaksin nasional,” ujarnya.

Industri Vaksin Didorong Terus Berinovasi

Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, melihat pasar vaksin hewan masih memiliki ruang pertumbuhan.

Baca Juga :  Penerbangan Padang-Singapura Segera Dibuka

Menurut Teguh, produsen perlu menyesuaikan produk dengan karakter penyakit dan kebutuhan peternak di setiap wilayah.

“Yang terpenting adalah menghadirkan vaksin yang tepat dan relevan bagi peternak. Karakter penyakit di negara tropis memiliki kebutuhan tersendiri, dan di situlah industri Indonesia memiliki peluang untuk terus berkembang,” ujar Teguh.

Kementan juga mengingatkan bahwa penguatan industri vaksin tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk yang sudah tersedia. Perubahan karakter penyakit dan virus menuntut pengembangan riset serta inovasi secara berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah mendorong industri mempercepat pengembangan vaksin untuk penyakit hewan menular strategis. Produk baru juga diharapkan semakin mudah digunakan oleh peternak di lapangan.

“Penyakit terus berkembang dan virus juga mengalami perubahan. Karena itu, industrinya juga harus terus berinovasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk merespons ancaman penyakit dengan cepat dan menghasilkan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” katanya.

Vaksin Nasional Dukung Ketahanan Pangan

Agung menilai peningkatan kapasitas produksi, riset, dan inovasi akan memperkuat industri kesehatan hewan sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, Kementan terus mendorong peningkatan kemampuan industri nasional.

Fokus tersebut mencakup penguatan produksi, riset, serta inovasi vaksin untuk menghadapi perubahan ancaman penyakit hewan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kemampuan sendiri. Semakin kuat riset, produksi, dan inovasi vaksin di dalam negeri, semakin siap kita melindungi ternak, menjaga produktivitas, dan memastikan pasokan pangan asal hewan tetap terjaga,” pungkas Agung. (*)

Berita Terkait

Fadly Amran Lantik Indra Noferi sebagai Dewas Perumda PSM Padang
Tekan Inflasi dan Lonjakan Harga Cabai, Pemko Padang Gelar Gerakan Pangan Murah di Batang Arau
Fadly Amran Sambut Investasi Green SM Rp500 Miliar, Taksi Listrik Segera Hadir di Padang
Maigus Nasir Resmikan Kampung Budi Daya Ikan Air Tawar di Kelurahan Pisang, 53 Keluarga Terima Bantuan
Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung
Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain
Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan
Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Erick Yusuf: Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Visa Andrea Bocelli Belum Terbit, Imigrasi Tunggu Keputusan Kabaintelkam Polri

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Sinopsis Film Laut Bercerita dan The Doll Ghawiah, Dua Film Lokal Terbaru Tayang Hari Ini!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:12 WIB

Bunga Nafisa dan Deandra Nadira Rilis Single Dar Der Dor Ser, Usung Musik Endikup

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Lewat Merayu Waktu, Eltasya Angkat Kisah Sulit Melepaskan Masa Lalu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Gandeng LDR Team, Lindee Cremona Rilis Single Dewasaku Membanggakanmu

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Ruth Garcia Rilis Lagu Salahkah, Ungkap Pergulatan Batin Usai Dikhianati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:05 WIB

AI Mampu Bikin Film, Nezar Patria Soroti Tantangan Baru Sensor Film

Berita Terbaru