Jakarta, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat industri vaksin hewan dalam negeri untuk menjaga kesehatan unggas sekaligus menopang keberlanjutan produksi pangan nasional.
Saat ini, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan vaksin Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND) dari produksi domestik, bahkan memasarkannya ke luar negeri.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan kapasitas industri vaksin nasional terus berkembang.
Menurut Agung, Indonesia kini tidak lagi bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan vaksin AI dan ND. Produk tersebut bahkan telah berhasil menembus pasar internasional.
“Untuk vaksin AI dan ND, kita tidak lagi bergantung pada impor. Kebutuhan kita sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan produk tersebut sudah bisa kita ekspor. Ini menunjukkan kemampuan industri vaksin nasional semakin kuat,” ujar Agung saat pelepasan ekspor perdana vaksin PT Vaksindo Satwa Nusantara ke empat negara Afrika di Bogor, Kamis (24/9/2026).
Kemampuan tersebut memiliki nilai strategis bagi sektor peternakan. Sebab, kesehatan unggas berkaitan langsung dengan kesinambungan produksi daging ayam dan telur.
Agung menjelaskan, ketersediaan protein hewani tidak hanya bergantung pada kemampuan peternak meningkatkan produksi. Sistem kesehatan hewan dan penerapan vaksinasi juga memegang peranan penting.
“Kecukupan protein hewani kita, khususnya daging ayam dan telur, bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi ternaknya. Di belakang produksi yang terjaga, ada sistem kesehatan hewan dan penggunaan vaksin yang baik,” katanya.
Pengalaman Hadapi AI Jadi Modal Indonesia
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menangani Avian Influenza sejak 2003. Pengalaman tersebut mendorong pemerintah mengembangkan strategi vaksinasi yang sesuai dengan kondisi peternakan nasional.
Menurut Agung, Indonesia memilih vaksinasi AI sebagai salah satu langkah untuk melindungi populasi unggas sekaligus mempertahankan kesinambungan produksi.
“Kita memilih vaksinasi karena melihat kondisi Indonesia. Hasilnya, kesehatan unggas dapat terus dijaga dan produksi juga tetap berjalan secara konsisten. Pengalaman ini sekarang juga menjadi referensi yang dibagikan Indonesia kepada negara lain,” ujar Agung.
Pendekatan tersebut mulai mendapat perhatian dari sejumlah negara. Beberapa negara yang sebelumnya tidak menerapkan vaksinasi AI kini mulai menggunakan strategi serupa untuk memperkuat perlindungan terhadap populasi unggas.
Bagi Kementan, pengalaman itu memperlihatkan hubungan erat antara kebijakan kesehatan hewan dan ketahanan pangan. Perlindungan terhadap ternak menjadi bagian penting untuk menjaga pasokan pangan asal hewan.
Produk Obat Hewan Indonesia Masuk 95 Negara
Penguatan industri kesehatan hewan juga terlihat dari semakin luasnya pasar ekspor produk obat hewan Indonesia.
Saat ini, produk obat hewan nasional telah dipasarkan ke 95 negara. Sementara itu, PT Vaksindo Satwa Nusantara telah mengekspor produknya ke 29 negara dan terus membuka pasar baru.
Dalam kegiatan ekspor di Bogor, Vaksindo melepas pengiriman perdana vaksin unggas menuju Zambia, Uganda, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo. Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar Rp1,9 miliar.
Agung menjelaskan, produsen harus melewati berbagai tahapan sebelum produknya dapat masuk ke pasar negara lain. Persyaratan tersebut mencakup standar teknis, ketentuan internasional, evaluasi dokumen, hingga audit fasilitas produksi di sejumlah negara.
“Kalau produk kita dapat diterima negara lain, artinya standar dan kualitasnya telah melalui proses penilaian. Semakin banyak negara yang menerima produk Indonesia, semakin kuat pula pengakuan terhadap kualitas industri vaksin nasional,” ujarnya.
Industri Vaksin Didorong Terus Berinovasi
Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, melihat pasar vaksin hewan masih memiliki ruang pertumbuhan.
Menurut Teguh, produsen perlu menyesuaikan produk dengan karakter penyakit dan kebutuhan peternak di setiap wilayah.
“Yang terpenting adalah menghadirkan vaksin yang tepat dan relevan bagi peternak. Karakter penyakit di negara tropis memiliki kebutuhan tersendiri, dan di situlah industri Indonesia memiliki peluang untuk terus berkembang,” ujar Teguh.
Kementan juga mengingatkan bahwa penguatan industri vaksin tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk yang sudah tersedia. Perubahan karakter penyakit dan virus menuntut pengembangan riset serta inovasi secara berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah mendorong industri mempercepat pengembangan vaksin untuk penyakit hewan menular strategis. Produk baru juga diharapkan semakin mudah digunakan oleh peternak di lapangan.
“Penyakit terus berkembang dan virus juga mengalami perubahan. Karena itu, industrinya juga harus terus berinovasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk merespons ancaman penyakit dengan cepat dan menghasilkan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” katanya.
Vaksin Nasional Dukung Ketahanan Pangan
Agung menilai peningkatan kapasitas produksi, riset, dan inovasi akan memperkuat industri kesehatan hewan sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional.
Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, Kementan terus mendorong peningkatan kemampuan industri nasional.
Fokus tersebut mencakup penguatan produksi, riset, serta inovasi vaksin untuk menghadapi perubahan ancaman penyakit hewan.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kemampuan sendiri. Semakin kuat riset, produksi, dan inovasi vaksin di dalam negeri, semakin siap kita melindungi ternak, menjaga produktivitas, dan memastikan pasokan pangan asal hewan tetap terjaga,” pungkas Agung. (*)






