Bukittinggi, Javanusa—Kementerian Pertanian (Kementan) mematangkan rencana pengusulan Balai Veteriner (BV) Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies.
Pembahasan berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2026, melalui pertemuan yang digelar Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan.
Pertemuan tersebut melibatkan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Balai Veteriner Bukittinggi, serta perwakilan World Organisation for Animal Health (WOAH) dari Sub-Regional Representation for South-East Asia (WOAH SRR-SEA) di Bangkok, Thailand, dan WOAH Indonesia.
Rencana tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas Indonesia dalam menghadapi rabies. Pemerintah menilai laboratorium dengan standar internasional memiliki posisi penting dalam diagnosis, surveilans, penelitian, dan pengendalian penyakit.
Bahas Kesiapan Laboratorium
Dalam pertemuan itu, para pihak membahas kesiapan teknis BV Bukittinggi serta tahapan yang perlu diselesaikan sebelum pengusulan kepada WOAH.
Pembahasan mencakup hasil WOAH Technical Assessment Mission, persyaratan laboratorium rujukan, penguatan jejaring laboratorium, serta koordinasi lintas sektor.
Ketua Kelompok Substansi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P2H) Direktorat Kesehatan Hewan, Yuni Yupiana, menilai koordinasi menjadi kunci dalam proses tersebut.
“Pengusulan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas nasional dalam pengendalian rabies. Karena itu, seluruh persyaratan teknis dan administratif harus dipenuhi secara optimal melalui kolaborasi yang erat antara Kementerian Pertanian, WOAH, dan seluruh pemangku kepentingan agar proses pengusulan berjalan sesuai standar internasional,” ujar Yuni Yupiana.
Menurut Yuni, pengusulan tersebut bukan sekadar upaya mendapatkan pengakuan internasional. Langkah ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam diagnosis, surveilans, penelitian, dan pengendalian rabies.
BV Bukittinggi Perkuat Kapasitas
Balai Veteriner Bukittinggi terus melakukan berbagai persiapan untuk memenuhi standar yang ditetapkan WOAH.
Penguatan mencakup kapasitas teknis, sistem manajemen mutu, kompetensi sumber daya manusia, serta jejaring kerja sama nasional dan internasional.
Upaya tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi BV Bukittinggi untuk menjalankan fungsi laboratorium rujukan dengan standar internasional.
WOAH juga memberikan dukungan terhadap proses pengusulan tersebut. Organisasi kesehatan hewan dunia itu menilai laboratorium rujukan berperan penting dalam meningkatkan kualitas diagnosis, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kolaborasi ilmiah antarnegara.
“WOAH mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mempersiapkan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai calon Reference Laboratory for Rabies. Kami berharap proses ini dapat semakin memperkuat kapasitas laboratorium, memperluas jejaring kolaborasi ilmiah, serta memberikan kontribusi bagi pengendalian rabies di kawasan Asia Tenggara dan dunia,” ujar Karma Rinzin dari WOAH Sub-Regional Representation for South-East Asia (WOAH SRR-SEA), Bangkok, Thailand.
Dukung Target Zero by 30
Kepala Balai Veteriner Bukittinggi, Tangguh Pitona, menyebut proses pengusulan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas laboratorium dan layanan diagnostik.
“Pengusulan Balai Veteriner Bukittinggi sebagai WOAH Reference Laboratory for Rabies merupakan amanah. Sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kompetensi, sistem manajemen mutu, serta kualitas layanan diagnostik. Kami berkomitmen memberikan kontribusi terbaik dalam mendukung pengendalian rabies di Indonesia dan kawasan, sejalan dengan target global Zero by 30,” ujar Tangguh Pitona.
Target Zero by 30 merupakan komitmen global untuk mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada 2030.
Jika WOAH memberikan pengakuan, BV Bukittinggi berpeluang memperluas perannya dalam jejaring laboratorium veteriner internasional.
Selain mendukung diagnosis dan surveilans rabies, laboratorium tersebut dapat berkontribusi pada penelitian, peningkatan kapasitas laboratorium, serta pengembangan jejaring ilmiah.
Kementan, WOAH, BV Bukittinggi, dan berbagai pemangku kepentingan kini terus memperkuat sinergi untuk memenuhi seluruh persyaratan pengusulan. Langkah tersebut diharapkan memperbesar kontribusi Indonesia dalam pengendalian rabies di Asia Tenggara dan mendukung pencapaian target Zero by 30. (*)






