Javanusa.com—Keputihan yang disertai rasa gatal tidak boleh dianggap sebagai gangguan biasa. Kondisi ini dapat menandakan infeksi jamur, vaginosis bakterialis, atau iritasi pada area kewanitaan yang membutuhkan penanganan sesuai penyebabnya.
Pada dasarnya, keputihan merupakan proses alami tubuh wanita untuk menjaga kebersihan vagina. Cairan tersebut membantu mengeluarkan sel-sel mati dan mikroorganisme dari saluran reproduksi.
Namun, perubahan karakteristik cairan vagina perlu mendapat perhatian. Terutama jika keputihan berubah warna, mengeluarkan bau tidak sedap, atau menimbulkan rasa gatal.
Mengenali Penyebab Keputihan Gatal
Keputihan yang disertai gatal sering berkaitan dengan perubahan keseimbangan mikroorganisme di dalam vagina. Dua kondisi yang cukup sering menjadi penyebabnya adalah kandidiasis vagina dan vaginosis bakterialis.
Kandidiasis terjadi akibat pertumbuhan jamur Candida secara berlebihan. Kondisi ini umumnya menimbulkan rasa gatal, kemerahan, iritasi, serta cairan keputihan berwarna putih kental.
Sementara itu, vaginosis bakterialis muncul ketika keseimbangan bakteri normal vagina mengalami perubahan. Keluhan yang sering muncul meliputi keputihan berwarna putih keabu-abuan dan bau amis.
Selain infeksi, penggunaan sabun berpewangi, produk pembersih kewanitaan, atau bahan tertentu juga dapat memicu iritasi. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan.
Rasa gatal yang terus berlangsung dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan yang tidak sesuai penyebab juga berisiko membuat keluhan menetap atau berulang.
Cara Mengatasi Keputihan Gatal
Penanganan keputihan gatal harus menyesuaikan faktor pemicunya. Dokter dapat menentukan terapi berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan.
Dikutip dari Halodoc, berikut beberapa langkah untuk membantu menjaga kesehatan area intim yang dapat diterapkan di rumah.
1. Menjaga Area Kewanitaan Tetap Kering
Kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan jamur, terutama jika disertai faktor risiko lainnya. Karena itu, bersihkan dan keringkan area intim menggunakan handuk bersih setelah mandi atau buang air.
Pilih pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat. Hindari pakaian terlalu ketat dan segera ganti pakaian setelah berolahraga atau berkeringat.
2. Mengurangi Konsumsi Gula Berlebihan
Pengendalian asupan gula penting untuk menjaga kesehatan metabolisme tubuh. Kadar gula darah yang tidak terkontrol, khususnya pada penderita diabetes, dapat meningkatkan risiko kandidiasis vagina.
Karena itu, batasi makanan dan minuman tinggi gula. Langkah ini juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
3. Menghindari Produk Pembersih Berpewangi
Vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga kebersihan dan keseimbangan mikroorganismenya. Penggunaan sabun khusus kewanitaan, pewangi, atau cairan pembersih vagina secara berlebihan justru dapat mengganggu keseimbangan tersebut.
Cukup bersihkan bagian luar vagina menggunakan air bersih. Hindari melakukan vaginal douching atau memasukkan cairan pembersih ke dalam vagina.
Peran Bakteri Baik dalam Menjaga Kesehatan Vagina
Keseimbangan flora vagina berperan penting dalam melindungi organ reproduksi wanita dari infeksi. Salah satu mikroorganisme yang memiliki fungsi protektif adalah Lactobacillus.
Bakteri ini menghasilkan asam laktat yang membantu mempertahankan kondisi vagina tetap asam. Pada wanita usia reproduktif, pH vagina normal umumnya berada pada kisaran 3,8–4,5.
Lingkungan asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan sejumlah mikroorganisme penyebab infeksi. Dominasi Lactobacillus juga berperan sebagai salah satu mekanisme pertahanan alami vagina.
Penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Investigation turut membahas peran Lactobacillus dalam perlindungan terhadap infeksi dan keseimbangan mikrobiota vagina.
Kapan Keputihan Gatal Harus Diperiksakan?
Tidak semua keputihan membutuhkan pengobatan. Namun, keluhan yang disertai perubahan warna, bau menyengat, atau rasa gatal berkepanjangan perlu mendapat evaluasi medis.
Segera konsultasikan kepada dokter apabila muncul beberapa tanda berikut:
-
- Keputihan berwarna abu-abu, kuning, atau kehijauan.
- Cairan vagina mengeluarkan bau tidak sedap.
- Rasa gatal disertai kemerahan atau pembengkakan.
- Muncul nyeri ketika buang air kecil atau berhubungan seksual.
- Mengalami nyeri panggul, demam, atau perdarahan di luar menstruasi.
Jika keluhan tidak membaik dalam 5–7 hari, jangan terus mengandalkan pengobatan mandiri. Pemeriksaan dokter membantu membedakan infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi menular seksual, maupun iritasi.
Dengan mengenali penyebab dan menerapkan kebiasaan perawatan yang tepat, kesehatan vagina dapat terjaga. Jangan mengabaikan keputihan yang disertai gatal, terutama jika keluhan berlangsung lama atau sering kambuh. (*)






