Kompos FABA Batubara Alternatif Pengganti Pupuk Pabrikan

Penulis -

Rabu, 4 Juni 2025 - 06:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. M. Zulman Harja Utama bersama Tim Monev Universitas Taman Siswa di lokasi penelitian sawah padi hitam di daerah Banda Cino, Korong Talao Mundam, Kenagarian Kataping, Padangpariaman, Senin (2/6/2025).

Prof. Dr. M. Zulman Harja Utama bersama Tim Monev Universitas Taman Siswa di lokasi penelitian sawah padi hitam di daerah Banda Cino, Korong Talao Mundam, Kenagarian Kataping, Padangpariaman, Senin (2/6/2025).

Padang, Javanusa—Fly Ash and Bottom Ash (FABA) Batubara atau abu sisa pembakaran batu bara saat ini bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku keperluan di berbagai sektor.

Di sektor pertanian, FABA yang telah diperkaya dengan berbagai bahan organik bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk karena dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Dosen Universitas Taman Siswa (Unitas) Prof. Dr. M. Zulman Harja Utama mengatakan pupuk FABA ini sangat potensial digunakan sebagai pengganti pupuk pabrikan. Di samping harganya murah, pupuk FABA ini juga mampu meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit.

“Kita tau pupuk pabrikan saat ini harganya sangat mahal. Sementara pupuk FABA ini yang telah diperkaya dengan berbagai bahan organik lainnya, cost-nya di bawah Rp 20 ribu (berat 30 Kg). Selain itu, pupuk FABA ini untuk pembuatannya sangat sederhana. Petani bisa membuat sendiri, karena tidak perlu teknologi canggih,” ujar M Zulman di lokasi penelitiannya di sawah gambut di kawasan Banda Cino, Korong Talao Mundam, Kenagarian Kataping, Padangpariaman, Senin (2/6/2025).

Untuk diketahui, Prof. Dr. M. Zulman Harja Utama bersama Dr. Widodo Haryoko dan Dr. Sunadi dengan penanggung jawab LP2M Universitas Taman Siswa, mengajukan proposal pemanfaatan pupuk FABA untuk tanaman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Proposal yang diajukan di tahun 2023 ini disetujui oleh BRIN. Dengan judul “Inovasi Teknologi Memperkaya FABA untuk Konversi Pupuk Pabrikan > 50 % Pada Budidaya Padi Hitam dengan Produksi GKG > 5 MG Ha di Sawah Gambut”.

Dalam penelitiannya, ia melakukan budidaya padi hitam pada lahan sawah gambut yang berlokasi di daerah Banda Cino, Korong Talao Mundam, Kenagarian Kataping, Padangpariaman.

“Keterbaruan kita di sini adalah kita pakai Fly Ash (abu terbang) batu bara, tanahnya marginal (tanah gambut) dan pupuk FABA yang diperkaya,” jelasnya.

Baca Juga :  8 Cara Merawat Rambut Berhijab agar Tetap Sehat, Bebas Ketombe, dan Tidak Mudah Rontok

Lebih jauh dikatakan, FABA secara alami hanya mengandung unsur-unsur mikro, sementara unsur makronya sedikit. Kalau semata-mata memakai FABA, tentu kekurangan unsur hara makro.

“Maka perlu kita perkaya dengan mencampur dengan kotoran hewan. Di sini kita memakai kotoran hewan ayam. Namun bisa juga dipakai kotoran hewan lain seperti kambing, sapi, kerbau. Tergantung lokasi. Kemudian kita perkaya dengan nitrogen, kita pakai kompos legum, rumput-rumputan, jenis kacang-kacangan, kita tambah lagi kapur. Kita pakai mikroorganisme. Jadi semua produk itu kita olah dan fermentasi jadi bahan pupuk organik kompos FABA,” bebernya.

“Kita tanam ini di sawah gambut, sawah yang miskin kandungan hara. Jadi pemakaian FABA ini bermanfaat,” tambahnya.

Produksi  sawah gambut ini akan lebih meningkat jika dikombinasikan dengan pupuk pabrikan. Hal ini karena FABA memiliki unsur hara mikro yang sedikit. Kalau kita kombinasikan dengan pupuk pabrikan hasilnya jauh lebih meningkat. Pada tahun pertama riset (2024) produksi gabah kering gilingnya mencapai 5.25 ton/ha.

Ia menambahkan, padi hitam ini bagus untuk kesehatan. Keistimewaannya antioksidan dan seratnya tinggi. Dari hasil riset seratnya 120 kali lebih tinggi dari beras putih. Di samping itu, juga kaya kalium, untuk kesehatan jantung, mengurangi resiko kanker, baik untuk diet, rendah gluten dan banyak lagi manfaatnya.

“Beras hitam ini sudah kita jual di beberapa supermarket  di Kota Padang. Dengan harga jual Rp 35 ribu per Kg dengan merek “Tiga Toga”,” tuturnya. (*/red)

Berita Terkait

Padang Mulai Uji Teknologi AI untuk Petakan Kerusakan Infrastruktur Pascabencana
Kabut Asap Selimuti Padang, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Penumpang KA Lembah Anai Terlibat Perselisihan, KAI Ingatkan Etika di Kereta
Kafilah Bungus Teluk Kabung Siap Hadapi MTQN ke-42 Kota Padang, Persiapan Capai 85 Persen
Padang Utara Siapkan 72 Kafilah, Targetkan Juara Umum MTQN ke-42 Kota Padang
KAI Divre II Sumbar Tutup 30 Perlintasan Liar, Keselamatan di Jalur Kereta Diperketat
Pemko Padang Perkuat Pengelolaan Sampah Terpadu Lewat Gerakan Pilah Sampah dari Rumah
Persiapan MTQ ke-42 Kota Padang Dimatangkan, 663 Kafilah Siap Bertanding

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Gulat Sumbang Dua Emas, Pasbar Buka Perolehan Medali di Porprov XVI Sumbar 2026

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB